
JAKARTA, UBN NEWSROOM — Sabtu, 20 Jumadilawal 1448 H / 31 Oktober 2026 M.
Bursa mata uang kripto Binance dilaporkan mengalami peretasan yang menyebabkan aset digital senilai US$6,3 miliar atau sekitar Rp114,3 triliun hilang. Insiden tersebut disebut sebagai salah satu pencurian kripto terbesar dalam sejarah, melampaui peretasan bursa Bybit pada 2025 yang mengakibatkan kerugian sekitar US$1,5 miliar.
Binance menyatakan sekitar setengah dari aset yang dicuri telah berhasil dibekukan, sementara sebagian lainnya masih berada dalam penguasaan peretas. Perusahaan juga menegaskan akan menanggung seluruh kerugian yang timbul akibat insiden tersebut.
Dugaan Serangan Berawal dari Laptop Staf Teknis
CEO Binance, Richard Teng, menyampaikan bahwa pemeriksaan awal menunjukkan serangan kemungkinan bermula dari laptop seorang staf teknis. Peretas diduga memperoleh akses ke kontainer layanan perusahaan, kemudian mengirimkan transaksi penarikan dana tanpa izin.
“Peretas mendapat akses ke kontainer layanan, di mana mereka mengirimkan transaksi penarikan yang tidak sah,” kata Teng dalam pernyataannya.
Namun, ia menegaskan serangan tersebut bukan sekadar penyalahgunaan izin satu orang atau tindakan sekali klik. Investigasi masih berlangsung untuk mengungkap rangkaian serangan secara menyeluruh.
Teng juga menyatakan bahwa sejauh pemeriksaan awal, Binance belum menemukan bukti kebocoran kunci pribadi dompet kripto. Perusahaan belum menetapkan tanggung jawab kepada individu tertentu dan berjanji menyampaikan analisis pascainsiden secara lebih terperinci setelah penyelidikan selesai.
Kepala Bagian Keamanan Informasi Check Point, Jayant Dave, menilai insiden tersebut menunjukkan perubahan pola serangan terhadap industri kripto. Menurutnya, peretas tidak selalu harus membobol sistem penyimpanan utama atau memperoleh kunci pribadi, tetapi dapat menargetkan sistem dan orang-orang yang memiliki kewenangan mengaksesnya.
Dave juga menyebut pola serangan Binance memiliki kemiripan dengan peretasan platform Bitget pada September yang menyebabkan kerugian sekitar US$388 juta.
Korea Utara Diduga Terlibat, Investigasi Masih Berjalan
Dua perusahaan analitik dan keamanan siber, Check Point dan TRM Labs, mengaitkan sejumlah unsur serangan Binance dengan kelompok peretas yang diduga berhubungan dengan Korea Utara.
Check Point menyebut kelompok tersebut dikenal dengan nama TraderTraitor atau Lazarus Group. Kelompok ini sebelumnya dituduh terlibat dalam sejumlah serangan terhadap perusahaan kripto, termasuk peretasan Bybit pada 2025.
Sementara itu, TRM Labs dalam laporannya menyatakan terdapat kemiripan antara pola serangan Binance dan sejumlah insiden siber terdahulu yang dikaitkan dengan Korea Utara.
Kepala Kebijakan Global TRM Labs, Ari Redbord, menyebut peretasan Binance sebagai momen penting yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi industri kripto.
Selama beberapa tahun terakhir, kelompok peretas yang dikaitkan dengan Korea Utara diketahui menjadi perhatian lembaga keamanan internasional karena serangan terhadap perusahaan aset digital. Sejumlah pemerintah negara Barat sebelumnya menyatakan bahwa dana hasil pencurian kripto digunakan untuk mendukung program pengembangan senjata nuklir dan rudal Korea Utara.
Meski demikian, dugaan keterlibatan Korea Utara dalam insiden Binance belum menjadi kesimpulan resmi. Pemerintah Korea Utara juga sebelumnya membantah tuduhan keterlibatan dalam berbagai serangan siber.
Binance tidak memberikan jawaban langsung kepada BBC mengenai kemungkinan keterkaitan kelompok tersebut dengan insiden terbaru. Perusahaan menyatakan tengah bekerja sama dengan mitra penegak hukum untuk mengidentifikasi pelaku dan membawa mereka ke proses hukum.
Binance Hentikan Penarikan, Aset Curian Dibekukan
Setelah insiden terdeteksi, Binance mengambil langkah pengamanan dengan menonaktifkan sementara penarikan dana hingga lingkungan sistem dipastikan aman.
Yi He, salah satu pimpinan Binance, menyampaikan terima kasih kepada sejumlah penerbit aset kripto yang membantu membekukan dana terkait insiden tersebut. Ia menegaskan keamanan menjadi prioritas utama perusahaan.
Dua penerbit aset kripto besar, Tether dan Circle, menyatakan telah membekukan aset dengan nilai gabungan sekitar US$2,4 miliar sebagai respons terhadap potensi peretasan Binance.
World Liberty Financial, perusahaan kripto yang memiliki keterkaitan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan keluarganya, juga menyatakan telah bekerja sama dengan para mitranya untuk membekukan dana yang dicuri.
Sementara itu, bursa kripto Coinbase memastikan platformnya tidak terdampak langsung oleh insiden tersebut dan terus memantau perkembangan situasi.
Binance menegaskan bahwa insiden ini menyangkut Binance.com. Adapun Binance.US, platform yang menyediakan layanan perdagangan khusus bagi penduduk Amerika Serikat, menyatakan tidak terdampak oleh masalah keamanan tersebut.
Pasar Kripto Tertekan, Bitcoin Turun Lebih dari 4 Persen
Dampak peretasan turut merambat ke pasar aset digital. Beberapa pengamat industri kripto dilaporkan telah menyampaikan kekhawatiran mengenai potensi serangan terhadap Binance beberapa jam sebelum bursa tersebut mengonfirmasi masalah keamanan.
Setelah peringatan tersebut muncul, harga Bitcoin turun lebih dari 4 persen. Sejumlah aset kripto utama lainnya, termasuk Ethereum dan Solana, juga mengalami penurunan tajam.
Kepala Riset Chainalysis, Eric Jardine, mengingatkan bahwa bursa kripto merupakan sasaran menarik bagi peretas karena mengelola aset digital dalam jumlah sangat besar. Karena itu, seluruh platform perdagangan perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman keamanan siber.
Binance sendiri merupakan bursa kripto yang didirikan di China pada 2017 dan memungkinkan pengguna memperdagangkan berbagai aset digital. Perusahaan diperkirakan memiliki lebih dari 300 juta pengguna terdaftar di seluruh dunia.
Pada 2024, Binance menyatakan mengelola aset lebih dari US$160 miliar. Besarnya jumlah pengguna dan aset yang berada dalam pengawasan perusahaan menjadikan keamanan sistem sebagai persoalan penting, bukan hanya bagi perusahaan, melainkan juga bagi jutaan pengguna.
Insiden ini kembali memperlihatkan besarnya risiko keamanan dalam industri aset digital. Meski sebagian aset dilaporkan telah dibekukan, penyelidikan mengenai identitas pelaku, jalur serangan, dan pemulihan seluruh dana masih berlangsung.

Comment