JAKARTA, UBN NEWSROOM — Senin, 19 Rabiul Akhir 1448 H / 12 Oktober 2026 M.
Setahun setelah gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku, penderitaan warga Palestina di Jalur Gaza belum berakhir. Serangan Israel kembali menewaskan sejumlah warga, termasuk seorang anak perempuan berusia delapan tahun, pada Sabtu (10/10/2026). Peristiwa itu terjadi ketika dunia memperingati satu tahun kesepakatan yang semula diharapkan mengakhiri perang.
Di tengah krisis yang terus berlangsung, pernyataan mendiang koki sekaligus pembawa acara televisi Amerika Serikat, Anthony Bourdain, kembali mengingatkan dunia tentang pentingnya menjaga kemanusiaan rakyat Palestina.
“Dunia telah mendatangkan banyak penderitaan kepada rakyat Palestina. Tak ada yang lebih memalukan daripada merampas kemanusiaan mereka,” kata Bourdain dalam pidato penerimaan penghargaan Muslim Public Affairs Council (MPAC) di Amerika Serikat pada Mei 2014.
Pernyataan tersebut bukan tanggapan terhadap perang Gaza yang dimulai pada Oktober 2023. Bourdain menyampaikannya setelah mengunjungi Israel, Tepi Barat, dan Gaza untuk program dokumenter kuliner CNN, Anthony Bourdain: Parts Unknown.
Mengutip dokumentasi MPAC, The Guardian, dan rekaman pidatonya, pesan Bourdain kembali menjadi perhatian ketika krisis kemanusiaan Gaza belum menunjukkan penyelesaian menyeluruh. Pada 2014, ia menerima penghargaan Voices of Courage and Conscience karena dinilai membantu memperlihatkan sisi kehidupan masyarakat Palestina yang kerap luput dari perhatian media internasional.
Bourdain meninggal dunia pada 8 Juni 2018. Namun, pandangannya tentang cara dunia memandang rakyat Palestina tetap relevan untuk direnungkan. Ia menyoroti bagaimana kehidupan sehari-hari masyarakat Palestina kerap tertutup oleh pemberitaan tentang konflik, kekerasan, dan perselisihan politik.
Padahal, memasak, makan bersama keluarga, bermain dengan anak-anak, serta membicarakan masa depan merupakan bagian dari kehidupan manusia yang juga dijalani masyarakat Palestina.
Pesan itu terasa semakin kuat ketika korban perang terus bertambah dan jutaan penduduk Gaza masih berjuang mendapatkan tempat tinggal, makanan, serta perlindungan yang layak.
SETAHUN GENJATAN SENJATA, KEMATIAN BERLANJUT
Al Jazeera melaporkan pada 10 Oktober 2026 bahwa sedikitnya tujuh warga Palestina, termasuk seorang anak perempuan, meninggal akibat serangan Israel di sejumlah wilayah Gaza.
Salah satu korban adalah Shahd Abdul-Razzaq al-Najjar, delapan tahun. Menurut sumber medis yang dikutip Al Jazeera, ia meninggal akibat serangan drone Israel di kawasan al-Jawazat, Gaza City.
Serangan lain di dekat Bundaran Haider Abdel Shafi, Gaza City, dilaporkan menewaskan empat orang dan melukai sejumlah warga. Korban jiwa juga dilaporkan di kawasan Tuffah dan Khan Younis. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kekerasan masih terjadi meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berusia satu tahun.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 1.481 warga Palestina meninggal dan 5.254 lainnya terluka sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Angka tersebut merupakan data otoritas kesehatan setempat yang dikutip Al Jazeera pada Sabtu (10/10/2026). Data tersebut perlu dipahami sesuai keterangan sumber karena tidak seluruh kasus dapat diverifikasi secara independen.
Financial Times dalam laporan 9 Oktober 2026 menyebut operasi militer Israel masih berlangsung di sejumlah wilayah Gaza selama periode gencatan senjata. Sebagian operasi, menurut militer Israel, ditujukan terhadap lokasi yang berkaitan dengan aktivitas kelompok bersenjata Palestina. Namun, serangan juga dilaporkan menimbulkan korban sipil.
Israel menyatakan operasi militernya diperlukan untuk menghadapi ancaman keamanan dan mencegah Hamas membangun kembali kemampuan tempurnya. Sebaliknya, Hamas menuduh Israel terus melanggar kesepakatan gencatan senjata serta menghambat penarikan pasukan dan pemulihan Gaza.
Perbedaan posisi kedua pihak turut memperumit pelaksanaan kesepakatan yang dimediasi pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Rencana perlucutan senjata Hamas, penarikan bertahap pasukan Israel, pembentukan pemerintahan baru Gaza, dan rekonstruksi wilayah tersebut belum terlaksana sebagaimana direncanakan.
DUA JUTA MANUSIA MENANTI TEMPAT BERLINDUNG
Krisis Gaza tidak hanya tercermin dalam jumlah korban serangan militer. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk masih membutuhkan tempat tinggal yang layak setelah bertahun-tahun mengalami pengungsian, kehancuran bangunan, dan keterbatasan akses bantuan.
Dalam pengarahan pers PBB di Jenewa pada Jumat (9/10/2026), Koordinator Krisis Regional Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), Carl Baker, menyatakan hampir dua juta warga Palestina membutuhkan bantuan tempat berlindung menjelang musim dingin.
Sebagian besar penduduk masih tinggal di tenda atau bangunan darurat yang tidak memberikan perlindungan memadai dari hujan, angin, dan suhu dingin.
Baker menyebut pasokan bantuan melalui jaringan organisasi kemanusiaan baru mencakup sekitar 17 persen dari kebutuhan khusus tempat berlindung untuk musim dingin. Kondisi ini meningkatkan risiko kematian yang sebenarnya dapat dicegah, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.
IOM juga mencatat sekitar 1,8 juta penduduk tinggal di lokasi pengungsian yang menghadapi risiko banjir. Kerusakan sistem drainase dan kondisi tenda yang telah digunakan selama berbulan-bulan semakin memperburuk situasi.
PBB menyebut keterbatasan pendanaan serta pembatasan masuknya sejumlah material oleh otoritas Israel sebagai hambatan penyediaan tempat tinggal yang lebih aman. Israel menyatakan bantuan kemanusiaan terus memasuki Gaza, sementara sejumlah lembaga internasional menilai jumlah dan jenis material yang tersedia belum mencukupi kebutuhan pemulihan.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) juga memperingatkan bahaya yang dihadapi warga di lokasi pengungsian rawan banjir maupun bangunan yang rusak berat. Kekurangan peralatan konstruksi, suku cadang, dan material pemulihan turut menghambat perbaikan infrastruktur dasar.
Dengan demikian, setahun gencatan senjata belum menandai berakhirnya keadaan darurat kemanusiaan di Gaza. Ancaman terhadap keselamatan warga tidak hanya berasal dari serangan militer, tetapi juga dari bangunan yang rapuh, penyakit menular, dan tempat tinggal yang tidak layak.
BOURDAIN MELIHAT PALESTINA DARI MEJA MAKAN
Jauh sebelum perang terbaru berlangsung, Anthony Bourdain menggunakan pendekatan berbeda untuk memperlihatkan kehidupan masyarakat Palestina. Ia tidak menjadikan konflik politik dan militer sebagai satu-satunya pusat cerita, tetapi juga mengangkat tradisi kuliner, kehidupan keluarga, dan hubungan antarmanusia.
Dalam episode Parts Unknown yang ditayangkan CNN pada September 2013, Bourdain mengunjungi Yerusalem, Tepi Barat, dan Jalur Gaza. Ia bertemu warga setempat, mencicipi makanan tradisional, dan memperlihatkan keseharian masyarakat yang hidup di tengah tekanan politik serta pembatasan pergerakan.
Salah satu sisi yang ditampilkan adalah kebiasaan keluarga Palestina menikmati makanan bersama. Adegan sederhana tersebut menghadirkan masyarakat Palestina sebagai manusia dengan tradisi, hubungan keluarga, dan kehidupan sehari-hari, bukan semata-mata sebagai pihak dalam konflik.
Dalam wawancara dengan CNN pada September 2013, Bourdain menjelaskan bahwa ia ingin mengajukan pertanyaan mendasar tentang bagaimana orang menjalani kehidupan mereka. Pendekatan tersebut dapat membantu memperlihatkan sisi kemanusiaan yang kerap hilang ketika suatu masyarakat hanya dikenal melalui konflik dan kekerasan.
Pengalaman itu kemudian berkaitan dengan penghargaan MPAC yang diterimanya pada 2014. Dalam pidato penerimaan penghargaan melalui rekaman video, Bourdain menyampaikan bahwa dirinya hanya melakukan sesuatu yang dianggap biasa dalam pekerjaannya: memperlihatkan manusia menjalani kehidupan sehari-hari.
Namun, tanggapan terhadap program tersebut membuatnya menyadari betapa terbatasnya gambaran tentang masyarakat Palestina yang diterima sebagian pemirsa. Baginya, kenyataan bahwa kehidupan keluarga Palestina—termasuk memasak dan makan bersama—dapat mengejutkan penonton menunjukkan adanya persoalan dalam cara masyarakat itu dipersepsikan.
GAZA DAN KEHIDUPAN YANG HILANG
Pesan Bourdain kembali terasa ketika laporan terbaru menggambarkan perjuangan warga Gaza mempertahankan sisa kehidupan normal di tengah kehancuran.
The Guardian pada 7 Oktober 2026 menerbitkan laporan yang mengangkat pengalaman warga Palestina dalam menghadapi kehilangan rumah, pekerjaan, dan rutinitas sehari-hari akibat perang.
Salah satu narasumbernya adalah Ahmed Ishtaiwi, pengemudi sekaligus mekanik berusia 43 tahun yang tinggal di tenda dekat Deir al-Balah bersama kedua putrinya. Rumah mereka di Beit Lahiya, Gaza utara, telah hancur sehingga keluarga itu tidak dapat kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya.
Ishtaiwi masih menyimpan enam kursi plastik yang memiliki arti khusus bagi keluarganya. Kursi-kursi tersebut mengingatkannya pada masa ketika ia dapat duduk di halaman rumah, menikmati sarapan, dan minum teh bersama keluarga.
Dalam laporan yang sama, seorang remaja Palestina berusia 15 tahun, Layan al-Jbour, mengenang kamar tidur, sekolah, dan kehidupan sebelum perang. Barang paling berharga baginya kini adalah tas sekolah yang berhasil dibawa ketika keluarganya meninggalkan rumah.
Kisah-kisah tersebut memperlihatkan dimensi kehilangan yang tidak selalu tergambar dalam data kerusakan bangunan dan statistik korban. Kehilangan rumah juga berarti kehilangan rutinitas keluarga, pekerjaan, hubungan sosial, dan rasa aman yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Di sinilah dokumentasi Bourdain pada 2013 menemukan relevansinya dengan kondisi Gaza pada 2026. Makan bersama keluarga, menikmati waktu di rumah, bersekolah, dan membicarakan masa depan merupakan bagian dari kehidupan biasa yang kini sulit dijalani banyak warga Gaza.
Kehilangan tersebut mengingatkan bahwa dampak perang tidak berhenti pada kerusakan fisik. Perang juga merenggut ruang bagi keluarga untuk hidup dengan aman, membangun kenangan, dan merencanakan masa depan.
DUNIA DIDESAK MEMULIHKAN PERLINDUNGAN SIPIL
Menjelang peringatan satu tahun gencatan senjata, desakan untuk memperbaiki perlindungan terhadap warga sipil Gaza semakin menguat.
Al Jazeera pada 9 Oktober 2026 melaporkan bahwa lebih dari 100 organisasi kemanusiaan, hak asasi manusia, dan masyarakat sipil mengeluarkan pernyataan bersama. Mereka mengecam berlanjutnya kekerasan dan pembatasan bantuan yang menghambat pemenuhan kebutuhan penduduk.
Organisasi-organisasi tersebut menilai gencatan senjata belum memberikan perlindungan memadai bagi warga sipil. Mereka mendesak penghentian serangan, perluasan akses bantuan kemanusiaan, serta masuknya material yang dibutuhkan untuk memperbaiki tempat tinggal dan infrastruktur dasar.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres sebelumnya juga memperingatkan bahwa peningkatan pasokan bantuan setelah pengumuman gencatan senjata belum cukup untuk mengakhiri penderitaan masyarakat Gaza. Pembatasan akses, kerusakan infrastruktur, dan kekurangan pendanaan masih membatasi kemampuan organisasi kemanusiaan menjangkau penduduk yang membutuhkan pertolongan.
Persoalan tersebut semakin mendesak ketika musim dingin mendekat. Tanpa tempat tinggal yang memadai, keluarga yang telah kehilangan rumah menghadapi risiko tambahan ketika hujan dan suhu dingin memperburuk kondisi pengungsian.
Hukum humaniter internasional mewajibkan pihak-pihak yang bertikai membedakan sasaran militer dari warga sipil dan objek sipil. Perlindungan tersebut berlaku bagi seluruh warga yang tidak terlibat dalam permusuhan, termasuk anak-anak dan tenaga medis, tanpa memandang identitas nasional maupun latar belakang politik.
Karena itu, gencatan senjata perlu dinilai bukan hanya dari berkurangnya intensitas pertempuran, tetapi juga dari sejauh mana keselamatan warga sipil terjamin, bantuan dapat menjangkau masyarakat, dan kehidupan perlahan dapat dipulihkan.
PESAN YANG MELAMPAUI ZAMAN
Anthony Bourdain tidak menyaksikan perang Gaza yang dimulai pada Oktober 2023. Ia juga tidak menyaksikan gencatan senjata pada Oktober 2025 ataupun perkembangan terbaru yang kini menjadi perhatian dunia.
Namun, pernyataannya pada 2014 tetap relevan ketika disandingkan dengan kondisi kemanusiaan Gaza pada 2026. Bourdain mengingatkan bahwa persoalan Palestina tidak dapat dipahami hanya melalui statistik, perselisihan politik, dan gambaran masyarakat yang dibentuk oleh pemberitaan konflik.
Krisis Gaza memperlihatkan pentingnya membedakan antara berkurangnya intensitas peperangan dan pulihnya kehidupan masyarakat sipil. Penghentian operasi militer berskala besar tidak otomatis membuat keluarga dapat kembali ke rumah, anak-anak dapat bersekolah, atau warga memperoleh kebutuhan pokok secara aman.
Setahun setelah gencatan senjata, berbagai persoalan mendasar itu belum terselesaikan. Banyak keluarga masih bergantung pada bantuan kemanusiaan, sedangkan perundingan mengenai masa depan pemerintahan dan keamanan Gaza belum menghasilkan penyelesaian menyeluruh.
Dalam konteks inilah peringatan Bourdain tentang hilangnya kemanusiaan rakyat Palestina kembali mendapatkan perhatian. Bukan karena ia meramalkan perang yang terjadi bertahun-tahun setelah kematiannya, melainkan karena pesannya menempatkan kehidupan manusia sebagai sesuatu yang tidak boleh tenggelam di balik angka korban, kebijakan militer, dan perselisihan politik.
Bagi masyarakat Gaza, pertanyaan yang belum terjawab bukan hanya kapan serangan akan benar-benar berhenti. Pertanyaan yang sama pentingnya adalah kapan mereka dapat kembali menjalani kehidupan biasa—memiliki rumah yang aman, makanan yang cukup, anak-anak yang bisa bersekolah, serta masa depan yang tidak terus-menerus dibayangi perang

Comment