
RILIS BERITA & PERSPEKTIF UBN
Senin, 22 Juni 2026 / 7 Muharram 1448H
JAKARTA — Di balik jumlahnya yang mencapai lebih dari 64 juta jiwa, Generasi Z kini menjadi kelompok penduduk terbesar di Indonesia. Namun, di tengah potensi besar sebagai penggerak masa depan bangsa, muncul tantangan serius yang mulai mendapat perhatian: meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental, pola hidup tidak sehat, hingga ancaman penyakit tidak menular seperti penyakit jantung pada usia yang semakin muda.
Data Kependudukan Bersih (DKB) dinamis Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri dengan cut-off 15 Juni 2026 mencatat total penduduk Indonesia mencapai 289.987.101 jiwa. Dari jumlah tersebut, Gen Z menjadi kelompok terbesar dengan 64.040.121 jiwa.
Fenomena ini menempatkan Indonesia dalam fase penting bonus demografi. Namun, besarnya jumlah generasi muda tidak hanya menjadi peluang, melainkan juga tantangan besar dalam menjaga kualitas kesehatan fisik, mental, dan ketahanan karakter generasi masa depan.
RISIKO KESEHATAN GEN Z: Dari Krisis Mental hingga Penyakit Jantung Usia Muda
Gen Z dikenal sebagai generasi yang tumbuh bersama internet dan teknologi digital. Kemampuan mereka beradaptasi dengan perubahan menjadi salah satu kekuatan utama.
Namun, gaya hidup modern membawa risiko baru. Durasi penggunaan gawai yang tinggi, kurang aktivitas fisik, pola tidur yang tidak teratur, tekanan sosial media, serta konsumsi makanan ultra-proses dapat meningkatkan ancaman kesehatan.
Salah satu perhatian terbesar adalah meningkatnya risiko penyakit tidak menular pada usia muda, termasuk gangguan metabolik dan penyakit kardiovaskular.
Pola hidup sedentari atau minim gerak dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam mengelola gula dan lemak. Jika berlangsung lama, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan pembuluh darah dan penyakit jantung.
Selain itu, kebiasaan begadang, stres berkepanjangan, serta tekanan psikologis juga menjadi faktor yang dapat memperburuk kesehatan tubuh.
TEKANAN ALGORITMA DIGITAL DAN FENOMENA STRAWBERRY GENERATION
Selain kesehatan fisik, Gen Z menghadapi tantangan besar dalam kesehatan mental.
Media sosial menciptakan ruang interaksi yang luas, tetapi juga dapat menghadirkan tekanan berupa perbandingan sosial, tuntutan pencapaian, dan rasa takut tertinggal (fear of missing out/FOMO).
Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, Sp.KJ (Psikiater) menjelaskan bahwa perkembangan dunia digital memberikan tantangan baru bagi kondisi psikologis generasi muda.
“Gen Z adalah generasi yang tumbuh di bawah tekanan algoritma siber yang luar biasa masif. Secara klinis, kami sering menemukan kasus ketika mereka mengalami paradox of loneliness (paradoks kesepian). Di dunia maya mereka tampak memiliki jaringan yang luas, namun di dunia nyata mereka kehilangan deep meaningful connection (hubungan mendalam yang berarti).”
Menurutnya, paparan terus-menerus terhadap kehidupan orang lain di media sosial dapat memengaruhi kondisi mental.
“Ketiadaan dukungan sosial yang riil, ditambah paparan konstan terhadap standar hidup orang lain, dapat memicu stres kronis, gangguan kecemasan, hingga depresi di usia yang sangat muda.”
Sementara itu, Kandida K. Sitorus, M.Psi., Psikolog Klinis, menyoroti tantangan generasi muda dalam membangun daya tahan menghadapi tekanan.
“Banyak anak muda zaman sekarang yang kreatif dan memiliki gagasan luar biasa. Namun, kemudahan teknologi membuat sebagian terbiasa dengan kepuasan instan (instant gratification).”
Ia menjelaskan bahwa ketika menghadapi proses panjang, kritik, penolakan, dan kegagalan, sebagian anak muda perlu membangun kemampuan resiliensi.
“Resiliensi menjadi penting agar seseorang mampu bangkit kembali ketika menghadapi tantangan kehidupan nyata.”
Fenomena tersebut kemudian sering dikaitkan dengan istilah “Strawberry Generation”, yaitu gambaran generasi yang memiliki potensi besar tetapi menghadapi tekanan zaman yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
PETA PENDUDUK INDONESIA: Gen Z Memimpin Struktur Demografi
Berdasarkan data Ditjen Dukcapil, komposisi penduduk Indonesia saat ini menunjukkan perubahan besar.
Gen Z dengan rentang usia 14–29 tahun (kelahiran 1997–2012) berada di posisi pertama dengan jumlah 64.040.121 jiwa.
Di bawahnya terdapat:
- Milenial/Gen Y: 62.099.690 jiwa (usia 30–45 tahun)
- Generasi Alpha: 56.649.514 jiwa (usia 2–13 tahun)
- Generasi X: 33.382.103 jiwa
- Baby Boomers: 22.716.938 jiwa
- Generasi Beta: 5.499.622 jiwa
- Silent Generation: 2.142.548 jiwa
- Old Generation: 19.404 jiwa
Besarnya kelompok muda tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia. Namun, bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan apabila kualitas manusia mampu ditingkatkan.
BONUS DEMOGRAFI DAN TANTANGAN MASA DEPAN
Jumlah penduduk usia produktif dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi, inovasi teknologi, dan pembangunan nasional.
Namun, pemerintah dan masyarakat perlu memastikan generasi muda memiliki akses terhadap pendidikan yang relevan, lapangan kerja, layanan kesehatan, serta ruang digital yang sehat.
Jika tidak dikelola dengan baik, bonus demografi dapat berubah menjadi persoalan baru akibat tekanan ekonomi, persaingan kerja, dan menurunnya kualitas kesehatan generasi muda.
PERSPEKTIF UBNNEWSROOM: Menjaga Generasi sebagai Amanah Peradaban
Dalam perspektif Islam, tubuh, kesehatan, dan masa muda merupakan amanah yang harus dijaga.
Konsep Maqashid Asy-Syari’ah menempatkan penjagaan jiwa (hifzh an-nafs) dan penjagaan akal (hifzh al-‘aql) sebagai bagian penting dalam kehidupan manusia.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 195:
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga tubuh dan menghindari kebiasaan yang merusak kesehatan.
Dalam konteks modern, prinsip halalan thayyiban juga menekankan bahwa makanan dan gaya hidup bukan hanya harus sesuai aturan agama, tetapi juga membawa kebaikan bagi kesehatan.
MASA DEPAN INDONESIA ADA DI TANGANNYA KUALITAS GENERASI
Dominasi Gen Z menjadi tanda bahwa masa depan Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh generasi muda.
Mereka adalah kekuatan besar dalam ekonomi digital, perubahan sosial, dan perkembangan peradaban.
Namun, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana memiliki populasi muda yang besar, melainkan bagaimana membentuk generasi yang sehat, kuat secara mental, memiliki ilmu, serta mampu menghadapi tekanan zaman.
Bonus demografi akan menjadi berkah apabila jumlah besar tersebut diiringi kualitas manusia yang unggul.
UBN NEWSROOM — menghadirkan berita, perspektif, dan analisis untuk memahami dinamika zaman.

Comment