PONOROGO | UBN Newsroom — Senin, 10 Rabiul Akhir 1448 H / 21 September 2026 M.
Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor angkatan 1988 yang tergabung dalam Gonsus 88 kini mengembangkan pola kepemimpinan kolektif melalui tiga tokoh, yakni Bachtiar Nasir, Bambang Suryadi, dan Jamalullail.
Formasi yang disebut Trimurti tersebut menyatukan tiga karakter dengan latar belakang berbeda. Bachtiar Nasir dikenal sebagai pendakwah, Bambang Suryadi merupakan akademisi dan profesor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sedangkan Jamalullail dikenal dengan gaya komunikasi yang santai dan humoris.

Pola tersebut diarahkan untuk menjaga persaudaraan alumni sekaligus memperluas manfaat komunitas bagi anggota dan masyarakat. Sebelumnya, Bachtiar Nasir memang dikenal sebagai tokoh yang memimpin Gonsus 88 dan mendorong semangat silaturahmi melalui gagasan Ana Urid Afroh serta Mata Kaman Nafroh Ma’an.

Tiga Karakter, Satu Semangat
Bachtiar Nasir membawa warna dakwah melalui pengalaman dan jejaringnya di berbagai forum keislaman. Bambang Suryadi memberikan perspektif akademik dan pengalaman di bidang pendidikan, sementara Jamalullail melengkapi keduanya dengan komunikasi yang cair dan penuh humor.
Perbedaan karakter tersebut menjadi bagian dari dinamika kepemimpinan Gonsus 88. Ketiganya dapat mengambil ruang kontribusi sesuai pengalaman masing-masing, sementara tujuan utamanya tetap menjaga kebersamaan para alumni yang telah puluhan tahun meninggalkan pesantren.
Dari 288 Alumni, Kini Tinggal 201
Gonsus 88 awalnya memiliki 288 alumni. Dari jumlah tersebut, sebanyak 87 anggota telah wafat sehingga kini terdapat 201 alumni yang masih hidup.
Angka tersebut membuat persaudaraan alumni memiliki makna yang semakin dalam. Gonsus 88 tidak hanya menjadi ruang berkumpul dan bernostalgia, tetapi juga tempat untuk menjaga komunikasi, saling memperhatikan, dan membantu keluarga sesama anggota.
Karena itu, perhatian komunitas tidak berhenti kepada para alumni yang masih hidup. Keluarga anggota yang telah wafat juga menjadi bagian dari tanggung jawab sosial persaudaraan.
Kepedulian kepada Aramilah dan Yatama
Semangat tersebut diwujudkan antara lain melalui santunan kepada para armilah atau janda dan yatama atau anak yatim.
Bagi Gonsus 88, wafatnya seorang anggota tidak berarti berakhirnya hubungan persaudaraan. Justru keluarga yang ditinggalkan menjadi bagian dari amanah yang perlu terus diperhatikan.
Bachtiar Nasir menyampaikan hal itu dengan nada ringan ketika menggambarkan perjalanan komunitas tersebut.
“Anggota tidak akan bertambah. Tetapi yang bertambah adalah janda (armilah/armalah) dan yatama (anak yatim),” kata Bachtiar.
Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan perubahan fase kehidupan para alumni. Ketika usia terus bertambah, makna persaudaraan tidak lagi hanya tentang menjaga hubungan antarteman, tetapi juga tentang memastikan keluarga mereka tetap mendapat perhatian.
38 Tahun Menjaga Nafroh Ma’an
Tiga puluh delapan tahun setelah menjadi satu angkatan pada 1988, para alumni Gonsus 88 kini menjalani kehidupan dengan profesi, pengalaman, dan keluarga yang beragam.
Semangat nafroh ma’an atau bergembira bersama menjadi salah satu cara untuk menjaga agar jarak waktu dan kesibukan tidak menghilangkan kedekatan yang telah terbentuk sejak masa nyantri.
Semangat tersebut terlihat dalam acara tajammu’ Gonsus 88 di Pesantren Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Ponorogo pada 18–20 September 2026.
Setelah puluhan tahun berlalu, persaudaraan tidak lagi sekadar mengenang masa-masa di pondok. Ia diwujudkan melalui silaturahmi, kepedulian terhadap keluarga alumni, serta kesediaan untuk saling membantu dalam perjalanan kehidupan.
Perspektif UBN Newsroom | Persaudaraan yang Bertahan Melampaui Usia
Gonsus 88 menunjukkan bahwa persaudaraan yang dibangun sejak masa pendidikan dapat terus hidup ketika para anggotanya telah menempuh jalan masing-masing. Waktu, profesi, jarak, bahkan perbedaan karakter tidak semestinya menghapus hubungan yang telah dibangun melalui pengalaman bersama.
Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 10)
Ayat tersebut menempatkan persaudaraan bukan sekadar hubungan emosional, tetapi juga sesuatu yang perlu dijaga dan diperbaiki. Dalam konteks alumni, persaudaraan dapat diwujudkan melalui silaturahmi, saling membantu, menjaga hubungan antarkeluarga, serta memperhatikan mereka yang berada dalam kondisi membutuhkan.
Ketika sebuah komunitas memasuki usia puluhan tahun, ukuran keberhasilannya bukan hanya seberapa banyak kegiatan yang diselenggarakan. Yang lebih penting adalah apakah hubungan antaranggotanya tetap hidup dan apakah keberadaannya memberikan manfaat bagi orang-orang di dalamnya.
Setelah 38 tahun, Gonsus 88 memasuki fase ketika persaudaraan memiliki dimensi yang semakin luas. Bukan lagi hanya tentang teman satu angkatan, tetapi juga tentang keluarga, kepedulian, dan bagaimana para alumni dapat terus berjalan bersama dalam semangat nafroh ma’an.
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment