Jakarta | UBN Newsroom — Ahad, 3 Rabiul Awal 1448 H / 16 Agustus 2026 M.Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Ahad (16/8/2026) sore. Erupsi terjadi sekitar pukul 17.06 WIB dengan kolom abu yang sempat membubung cukup tebal.
Pantauan di sekitar lokasi menunjukkan kolom abu keluar dari kawah sebanyak dua kali. Setelah itu, aktivitas abu masih terlihat meski dengan intensitas lebih tipis.
Kapal wisatawan yang berada di sekitar Gunung Anak Krakatau dilarang mendekati kawasan gunung api. Wisatawan juga diimbau segera menjauh demi keselamatan.
Sebelumnya, Gunung Anak Krakatau juga mengalami erupsi pada pukul 09.12 WIB. Kolom letusan saat itu teramati sekitar 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut.
Analis Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Provinsi Lampung, Faresha Revanza, mengatakan aktivitas tersebut tercatat berdasarkan laporan pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
“Erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi pukul 09.12 WIB. Tinggi kolom letusan teramati sekitar 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut,” kata Faresha saat dikonfirmasi, Ahad (16/8).
Berdasarkan pengamatan pukul 06.00–12.00 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami satu kali gempa letusan dengan amplitudo 43 milimeter dan durasi 59 detik.
Aktivitas kegempaan juga didominasi tremor menerus dengan amplitudo berkisar 5–30 milimeter dan dominan 10 milimeter.
Secara visual, asap kawah utama teramati berwarna putih, kelabu, hingga hitam dengan intensitas tipis sampai tebal. Asap kawah tercatat membubung sekitar 30–200 meter dari puncak.
Kolom abu hasil erupsi berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas sedang sampai tebal. Abu teramati bergerak ke arah barat daya dan barat.
Cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau dilaporkan cerah hingga berawan dengan angin bertiup lemah ke arah barat daya dan barat. Ombak laut di sekitar kawasan gunung api juga dilaporkan dalam kondisi tenang.
Hingga saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. BPBD Lampung mengimbau masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki untuk tidak mendekati gunung serta tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
Di tengah keindahan alam yang menjadi daya tarik kawasan tersebut, aktivitas gunung api kembali mengingatkan manusia bahwa alam memiliki kekuatan yang tidak selalu dapat diprediksi. Karena itu, kewaspadaan dan kepatuhan terhadap informasi kebencanaan menjadi bagian penting untuk menjaga keselamatan.
Perspektif UBN Newsroom
Peradaban yang Menghargai Keselamatan
UBN memandang pemberitaan erupsi bukan sekadar mencatat aktivitas gunung api. Informasi tentang status gunung, arah abu, radius bahaya, dan imbauan keselamatan harus menjadi bagian dari upaya menjaga masyarakat dari risiko bencana.
Dalam perspektif peradaban, kemajuan manusia tidak hanya terlihat dari kemampuan menikmati dan mengelola alam. Kemajuan juga terlihat dari kemampuan manusia membaca tanda-tanda alam, menghormati batas keselamatan, dan melindungi kehidupan.
Menjaga Jiwa di Tengah Ancaman Bencana
Islam mengajarkan manusia untuk menjaga kehidupan dan tidak menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan. Karena itu, mengikuti peringatan petugas dan menjauhi kawasan berbahaya merupakan bagian dari ikhtiar menjaga keselamatan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلْقُوا۟ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
«“Dan infakkanlah hartamu di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan dengan tanganmu sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
QS. Al-Baqarah [2]: 195»
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa keselamatan tidak boleh diabaikan. Ikhtiar manusia tetap diperlukan, termasuk dengan menjauhi wilayah yang telah dinyatakan berbahaya oleh otoritas kebencanaan.
Merekam Alam, Menjaga Kesadaran
Jurnalisme bencana memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan informasi yang akurat tanpa memperbesar kepanikan. Di saat yang sama, pemberitaan harus membantu masyarakat memahami risiko dan mengambil keputusan yang lebih aman.
Erupsi Gunung Anak Krakatau bukan hanya peristiwa alam yang perlu disaksikan. Ia juga menjadi pengingat tentang keterbatasan manusia, pentingnya ilmu pengetahuan, dan kewajiban menjaga kehidupan.
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom dapat disalurkan melalui:
BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.
UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.
Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu.

Comment