JAKARTA, UBN NEWSROOM — Jumat, 4 Jumadil Awal 1448 H / 16 Oktober 2026 M.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia menimbulkan dampak terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan kelangsungan hidup satwa liar. Di Kalimantan Barat, kebakaran merusak habitat orangutan hingga mendorong tim penyelamat mengevakuasi dan memindahkan satwa yang terancam ke kawasan yang lebih aman.
Reuters melaporkan pada 15 Oktober 2026 bahwa kebakaran yang terutama melanda Sumatra dan Kalimantan sejak Juli diperburuk oleh kondisi cuaca kering akibat El Niño. Kebakaran tersebut memicu kabut asap dan meningkatkan ancaman terhadap kesehatan manusia serta satwa liar.
KARHUTLA MENGANCAM HABITAT SATWA
Kebakaran hutan bukan hanya menyebabkan hilangnya tutupan vegetasi. Ketika api merusak kawasan hutan, satwa kehilangan sumber makanan, tempat berlindung, dan jalur pergerakan alami. Kondisi tersebut dapat memaksa satwa keluar dari habitatnya dan mendekati perkebunan maupun permukiman manusia.
Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan sejumlah pihak terkait, melakukan pemantauan serta penyelamatan satwa yang terdampak karhutla.
Dalam pembaruan situasi pada 16 September 2026, YIARI melaporkan bahwa 21 orangutan telah dievakuasi dari sejumlah lokasi di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat. Penyelamatan juga dilakukan terhadap satwa lain, termasuk trenggiling, bekantan, kukang, dan musang tenggalung.
Upaya penyelamatan berlanjut pada Oktober. Dalam siaran pers pada 13 Oktober 2026, YIARI menjelaskan bahwa delapan orangutan Kalimantan yang terdampak kebakaran dipindahkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu pada 11 Oktober. Proses tersebut melibatkan Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Kalimantan Barat, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, serta Kesatuan Pengelolaan Hutan Ketapang Utara.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla perlu memperhatikan keselamatan manusia sekaligus perlindungan habitat dan keanekaragaman hayati.
PEMERINTAH PERKUAT PENANGANAN KARHUTLA
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyediakan dashboard informasi penanganan karhutla 2026 yang memuat perkembangan titik panas, luas lahan terbakar, wilayah terdampak, personel gabungan, serta operasi pemadaman darat dan udara.
Data tersebut diperbarui secara berkala untuk membantu pemantauan kondisi kebakaran dan upaya penanganannya. BNPB juga mengimbau masyarakat agar tidak membakar lahan, segera melaporkan titik api kepada petugas berwenang, menggunakan air secara efisien, dan mengikuti informasi resmi dari BNPB, BPBD, BMKG, serta pemerintah daerah.
Reuters melaporkan pada 16 Oktober 2026 bahwa pemerintah Indonesia membuka ruang bagi bantuan luar negeri untuk mendukung penanganan kebakaran. Koordinasi bantuan dilakukan melalui mekanisme penanggulangan bencana pemerintah.
DAMPAK LINGKUNGAN DAN KESEHATAN
Kabut asap akibat kebakaran dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu.
Dampaknya juga dapat meluas melampaui wilayah kebakaran. Asap yang terbawa angin berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan memengaruhi kualitas udara di kawasan lain, termasuk negara tetangga.
Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Pencegahan pembakaran lahan, perlindungan kawasan hutan, penegakan aturan, dan pemulihan ekosistem juga diperlukan agar kerusakan serupa tidak terus berulang

Comment