JAKARTA — Akhir pekan ini, kawasan Senayan, khususnya Indonesia Arena, menjelma menjadi episentrum dunia bagi puluhan ribu pasang mata. Konser bertajuk EXO PLANET #6 – “EXhOrizon” yang digelar selama dua hari berturut-turut (6-7 Juni 2026) sukses menyedot atensi luar biasa, mayoritas dari mereka yang bangga melabeli diri sebagai Generasi Z.
Tiket yang laku keras dalam hitungan menit dan imbauan resmi Dinas Perhubungan DKI Jakarta agar penonton beralih ke transportasi umum demi mengurai kelumpuhan jalan, menjadi bukti sahih betapa masifnya magnet yang dipancarkan oleh lima pemuda dari Negeri Ginseng tersebut.
Namun, di balik riuh rendah lampu panggung dan histeria yang memekakkan telinga, ada sebuah fenomena sosiologis sekaligus spiritual yang patut kita bedah dengan kepala dingin.
Melalui lensa UBN Newsroom, kita diajak untuk melihat lebih dalam: apakah yang sedang berlangsung di Senayan ini sekadar pelepasan penat yang mubah, ataukah sebuah pergeseran nilai yang perlahan mengikis fondasi keimanan?
Lensa Perspektif UBN Newsroom: Batasan Fikih yang Kerap Tergilas Euforia
UBN Newsroom memandang, Islam secara normatif memang tidak pernah membelenggu manusia untuk menikmati keindahan seni atau musik. Hukum asalnya adalah mubah—sebuah ruang longgar untuk menyegarkan jiwa yang penat (tazkiyatun nafs).
Namun, dalam perspektif UBN Newsroom, label ‘mubah’ ini tidak pernah berdiri di atas ruang hampa. Status boleh tersebut seketika runtuh ketika sebuah gelaran hiburan massal melahirkan situasi ikhtilat (campur baur tanpa batas) yang melanggar syariat, memicu gaya hidup konsumtif ekstrem, hingga mengikis fondasi akidah.
Kami melihat fenomena konser dua hari di Senayan ini bukan sekadar panggung rekreasi biasa, melainkan sebuah ruang uji konsistensi iman bagi pemuda Muslim di tengah derasnya arus modernisasi.
Berburu Fatamorgana di Atas Panggung Mewah
Membeli tiket seharga jutaan rupiah demi selembar kertas masuk ke dalam “surga buatan” selama beberapa jam sering kali dipandang sebagai hak prerogatif individu atas hasil jerih payahnya. Namun, esensi hiburan itu berubah wujud ketika ia menuntut tumbal yang terlalu besar.
Sungguh sebuah ironi yang dikemas rapi ketika seorang Muslim rela mengantre belasan jam di bawah terik matahari, melompati pembatas demi sedekat mungkin dengan sang idola, namun begitu berat melangkahkan kaki beberapa meter menuju sajadah saat panggilan adzan berkumandang.
Waktu Shalat Ashar, Maghrib, dan Isya seolah menjelma menjadi catatan kaki yang bisa ditunda—atau bahkan dilupakan—demi sebuah momentum yang mereka sebut “sekali seumur hidup.”
Kita melihat bagaimana generasi muda hari ini rela merogoh kocek sedalam-dalamnya demi membeli “asap dan angan-angan” di atas panggung, sementara tabungan akhiratnya dibiarkan kering kerontang. Uang jutaan rupiah yang dibakar dalam semalam demi euforia sesaat sering kali berbanding terbalik dengan kemudahan tangan mereka dalam mengeluarkan recehan untuk kotak amal di ujung jalan.
Ketika Mengagumi Berubah Menjadi Mengkultuskan
Batas antara mengagumi karya seni dan mengkultuskan makhluk hidup kini kian abu-abu. Menangis histeris, menjerit seolah kehilangan arah hidup saat sang idola melambaikan tangan, atau menganggap kehadiran mereka sebagai “penyelamat” dari depresi kehidupan adalah bentuk ghuluw (berlebihan) yang nyata.
Dalam perspektif Islam yang jernih, mengalihkan pusat kebahagiaan dan sandaran jiwa kepada manusia—yang bahkan tidak mengenal nama kita—adalah kekeliruan spiritual yang fatal. Manusia-manusia di atas panggung itu adalah makhluk yang sama lemahnya, yang juga menua, terluka, dan butuh makan.
Menjadikan mereka sebagai “kiblat” dalam berpakaian, bertingkah laku, hingga cara berpikir, secara perlahan sedang meruntuhkan identitas serta harga diri seorang Muslim sejati.
Catatan Redaksi: Menjaga Kompas Moral di Tengah Arus Zaman
UBN Newsroom memandang fenomena ini bukan dengan kebencian, melainkan dengan rasa prihatin yang mendalam. Jurnalisme yang bertanggung jawab tidak boleh hanya menjadi pemandu sorak bagi tren yang sedang meledak, tetapi juga harus berani menjadi cermin yang memantulkan keretakan moral di masyarakat.
Kita tidak sedang melarang anak muda untuk bahagia. Namun, ketika kebahagiaan itu harus ditebus dengan mengabaikan syariat, melanggar batas pergaulan (ikhtilat) di tengah lautan manusia yang berdesakan, serta menempatkan makhluk di atas Sang Pencipta, maka sejatinya kita sedang menyaksikan sebuah generasi yang sedang tersesat di dalam ruang gemerlap lampu sorot.
Panggung konser akan segera dibongkar, lampu-lampu akan padam, dan para idola akan kembali ke negaranya membawa jutaan dollar dari kantong-kantong kita. Yang tersisa hanyalah diri kita sendiri, dengan waktu yang terbuang, uang yang menguap, dan shalat yang terlewat.
Pertanyaannya: sesudah panggung itu sepi, sedalam apa ruang hampa di dalam dada yang berhasil terisi? Ataukah kita justru semakin haus akan fatamorgana berikutnya?

Comment