
Saimun memaparkan bahwa kesulitan ekonomi memaksa warga melakukan langkah ekstrem demi pendidikan anak. Sebagian warga dilaporkan terpaksa menjual beras bantuan pemerintah untuk menutupi ongkos transportasi anak-anak mereka ke sekolah.
Minimnya asupan protein hewani juga menjadi sorotan. Saimun mengaku terakhir kali mengonsumsi daging pada dua hari menjelang Idulfitri lalu berkat bantuan Gubernur. Selebihnya, masyarakat hanya mengandalkan mi instan dan telur sebagai lauk sehari-hari.
“Pekerjaan sudah tidak ada, tanah-tanah sudah longsor semua. Biasanya ambil getah (karet), tapi pohonnya ikut longsor karena hujan,” ujar salah satu warga yang ditemui di kediaman sederhananya.
Selain masalah pangan, infrastruktur ibadah di wilayah tersebut juga memerlukan perhatian. Masjid Al-Huda, yang dibangun secara gotong royong dan melalui donasi, hingga kini belum sepenuhnya rampung.
Masyarakat di kelurahan yang memiliki rasio rumah ibadah 7 banding 1 ini berharap adanya bantuan fisik untuk penyelesaian masjid serta bantuan sembako.
Meskipun membutuhkan kebutuhan pokok, warga menegaskan bahwa kehadiran hewan kurban sangat diharapkan untuk memulihkan semangat jemaah.
“Harapan kita ada kurban di sini untuk membantu masyarakat. Apalagi kurban bisa memberi semangat kembali bagi warga,” pungkas Saimun.
Melalui kunjungan ini, diharapkan para dermawan dan pihak terkait dapat menyalurkan bantuan, baik dalam bentuk renovasi rumah ibadah maupun distribusi hewan kurban, guna meringankan beban warga Hutanabolon yang terdampak bencana alam dan kelesuan ekonomi.

Comment