Advertisement
Nasional

Marc Márquez dan Sikap Menghormati Penonton Muslim di Mandalika

PERSPEKTIF UBN NEWSROOM

SPORTIVITAS BUKAN HANYA SOAL KEMENANGAN

Dalam olahraga profesional, kemenangan sering menjadi pusat perhatian. Namun, karakter seorang atlet juga tercermin dari caranya memperlakukan orang lain, menghormati budaya setempat, dan menyikapi perbedaan di luar arena pertandingan.

Mandalika bukan sekadar lintasan balap internasional, melainkan juga ruang pertemuan antara atlet, penggemar, dan masyarakat lokal. Kepekaan terhadap lingkungan sosial dan budaya di sekitarnya dapat memperkuat hubungan antara penyelenggara, pembalap, dan penonton.

Jika seorang atlet memilih menyesuaikan selebrasinya demi menghormati masyarakat setempat, sikap tersebut patut diapresiasi sebagai bentuk kedewasaan. Akan tetapi, apresiasi harus tetap berpijak pada fakta. Klaim bahwa Marc Márquez sengaja menahan semprotan sampanye karena penonton Muslim perlu didukung bukti atau pernyataan yang dapat diverifikasi sebelum diberitakan sebagai fakta.

Promo Mie Gacoan Rp1 di ShopeeFood, berlaku 19–21 Oktober 2026

EMPATI YANG MELAMPAUI BATAS IDENTITAS

Menghormati orang lain tidak harus menunggu adanya kesamaan agama, budaya, atau kebangsaan. Justru, kualitas empati terlihat ketika seseorang bersedia mempertimbangkan kenyamanan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda darinya.

Dalam konteks olahraga, hal ini menjadi pengingat bahwa hiburan dan perayaan seharusnya tidak mengabaikan penghormatan terhadap masyarakat yang menjadi tuan rumah. Prestasi dapat membuat seorang atlet dikagumi, tetapi sikap yang menghargai sesama dapat membuatnya dihormati lebih luas.

ADAB, TOLERANSI, DAN MENGHORMATI MASYARAKAT SETEMPAT

Islam mengajarkan umatnya untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada siapa pun, termasuk kepada orang yang berbeda keyakinan. Prinsip ini ditegaskan Allah SWT dalam Surah Al-Mumtahanah ayat 8:

Target Zakat Rp70 Triliun pada 2027, BAZNAS Perlu Buka Angka Dasar dan Metodologi

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8).

Ayat ini menunjukkan bahwa berbuat baik dan menjaga hubungan sosial dengan pemeluk agama lain merupakan bagian dari akhlak Islam. Dalam konteks acara olahraga, menghargai kenyamanan penonton dan kebiasaan masyarakat setempat dapat menjadi bentuk kebaikan selama tidak melanggar prinsip agama.

TOLERANSI BUKAN BERARTI MENGABAIKAN PRINSIP

Menghormati masyarakat Muslim tidak berarti semua orang harus memiliki keyakinan yang sama. Toleransi justru berarti mampu hidup berdampingan, menjaga adab, serta tidak memaksakan kebiasaan pribadi kepada orang lain secara tidak pantas.

Greenpeace Panjat Tugu HI, Kritik Krisis Iklim dan Biaya Hidup

Pada saat yang sama, umat Islam perlu memahami bahwa tidak setiap bentuk selebrasi otomatis menjadi persoalan syariah. Penggunaan sampanye dalam perayaan, misalnya, perlu dibedakan antara minuman beralkohol yang dikonsumsi dengan tindakan menyemprotkan cairan dalam sebuah selebrasi. Hukum suatu tindakan dinilai berdasarkan substansi, konteks, dan unsur yang terlibat, bukan semata-mata nama atau simbolnya.

Karena itu, sikap menghormati penonton Muslim dapat diapresiasi tanpa membuat kesimpulan hukum yang berlebihan atau menisbatkan niat tertentu kepada seorang atlet tanpa bukti.

TABAYYUN SEBELUM MENYEBARKAN KEBAIKAN

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya kamu sesali.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Dalam jurnalisme, tabayyun berarti memeriksa sumber, konteks, dan bukti sebelum menyebarkan informasi. Cerita yang bernada positif pun tetap harus diverifikasi, sebab niat baik tidak menjadikan informasi yang belum terbukti otomatis benar.

Kesimpulan perspektif syariah: menghormati perbedaan merupakan akhlak yang terpuji, tetapi menyampaikan kisah tentangnya juga harus disertai kejujuran. Apresiasi terhadap sportivitas akan lebih bermakna ketika dibangun di atas dua hal sekaligus: adab dalam memperlakukan sesama dan amanah dalam menyampaikan fakta.

DUKUNGAN OPERASIONAL DAKWAH & JURNALISME PERADABAN

UBN Newsroom hadir untuk menguatkan dakwah dan jurnalisme peradaban melalui informasi yang bertanggung jawab.

Dukungan dakwah dapat disalurkan melalui:

BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

Ikuti dan sebarkan informasi UBN Newsroom melalui media sosial serta kanal YouTube resmi.

UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.
Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu.

Pages: 1 2

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement