RIYADH, UBN NEWSROOM — Senin, 30 Rabiul Akhir 1448 H / 12 Oktober 2026 M.
Turki, Mesir, Arab Saudi, dan Pakistan mengecam serangan kelompok Houthi yang menyasar fasilitas penerbangan sipil Arab Saudi, termasuk Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Serangan pada Sabtu, 10 Oktober, menewaskan 13 orang dan melukai 309 lainnya, menurut laporan Anadolu Agency berdasarkan keterangan otoritas Saudi.
EMPAT NEGARA TUNTUT SERANGAN DIHENTIKAN
Dalam pernyataan bersama pada Minggu, 11 Oktober, keempat negara menyebut serangan tersebut sebagai eskalasi berbahaya dan pelanggaran hukum internasional yang mengancam keselamatan warga sipil serta infrastruktur sipil. Mereka menegaskan solidaritas kepada Arab Saudi dan meminta Houthi segera menghentikan serangan tanpa syarat.
Pernyataan itu juga mendukung langkah sah yang dapat ditempuh Riyadh untuk melindungi keamanan dan kedaulatan wilayahnya sesuai Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan hukum internasional.
SERANGAN SUSULAN DAN KLAIM HOUTHI
Pada Minggu, proyektil kembali menghantam area Terminal 4 Bandara King Khalid dan memicu kebakaran. Juru bicara koalisi Arab, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, menyatakan api berhasil dipadamkan, sementara pertahanan udara Saudi mencegat sebuah rudal jelajah di sekitar bandara. Penilaian kerusakan masih berlangsung.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim kelompoknya melancarkan empat operasi menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone dalam kurun 24 jam. Sasaran yang disebut meliputi Bandara King Khalid di Riyadh, Bandara King Fahd di Dammam, serta fasilitas energi Aramco di Shedgum dan Tanajib. Klaim mengenai seluruh sasaran dan dampaknya perlu dibedakan dari informasi yang telah dikonfirmasi otoritas Saudi.
Serangan berulang terhadap fasilitas sipil meningkatkan risiko korban tambahan dan gangguan penerbangan, sekaligus memperbesar kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Comment