SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nasional

UBN NEWSROOM: Membaca Isyarat Langit di Balik Guncangan Mindanao

Tadabbur Alam: Meruntuhkan Kesombongan di Atas Kerak yang Rapuh

Tadabbur alam mengajarkan kita untuk menatap bencana bukan sebagai kutukan buta, melainkan sebagai cermin besar untuk melihat sekecil dan selemah apa diri manusia.

Skala IV MMI yang mampu “membangunkan orang banyak yang tertidur” adalah metafora nyata dari peringatan Allah. Ketika manusia terlelap baik secara fisik maupun terlelap dalam kelalaian spiritual Allah goyangkan tempat tidur mereka agar mereka terjaga, sadar, dan mengingat kembali siapa Pemilik alam semesta ini.

Manusia sering kali merasa telah menaklukkan bumi dengan teknologi mitigasi mutakhir dan merasa digdaya atas jalannya peradaban. Namun, ketika Allah SWT memerintahkan bumi untuk bergeser, seluruh simbol kesombongan itu runtuh tidak berarti. Allah SWT mengingatkan kita dalam Al-Qur’an:

“Dan tidaklah Kami mengirim tanda-tanda (kekuasaan Kami) itu melainkan untuk menakut-nakuti (supaya mereka mengambil pelajaran).” (QS. Al-Isra: 59)

Kepanikan sesaat yang dialami warga dari Manado, Halmahera, hingga Gorontalo saat merasakan getaran dan bersiap menghadapi potensi tsunami adalah simulasi kecil dari kepasrahan total. Di titik itu, semua atribut duniawi kehilangan nilainya. Pangkat, harta, kemegahan rumah, dan status sosial larut dalam rasa takut. Yang tersisa hanya satu dorongan fitrah yang murni: mencari tempat yang aman dan bersandar pada kekuatan Yang Maha Melindungi.

AQL Humanity Dirikan Masjid Darurat untuk Penyintas Gempa di Reo

Pages: 1 2 3

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement