Agama
Home » Jurnalis Muslim Adalah ‘Muazin Peradaban’, Bukan Budak Algoritma

Jurnalis Muslim Adalah ‘Muazin Peradaban’, Bukan Budak Algoritma

​JAKARTA – Pimpinan Perkumpulan AQL, Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), memberikan pesan mendalam bagi para insan pers dalam pengajian rutin jurnalis Muslim di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (15/5/2026). Beliau menegaskan bahwa jurnalis Muslim mengemban amanah besar sebagai “Muazin Peradaban” yang bertugas menyeru manusia pada kebenaran dan keadilan.

​UBN mengingatkan bahwa esensi jurnalisme Islam jauh melampaui sekadar mengejar angka traffic atau viralitas. Menurutnya, media harus menjadi instrumen dakwah yang mengarahkan umat pada nilai-nilai tauhid dan persatuan.

​“Seorang jurnalis Muslim sebetulnya statusnya muazin, tapi muazin zaman, muazin peradaban,” tegas Ketua Umum DPP JATTI tersebut.

​Kritik Terhadap ‘Tuhan’ Algoritma

​Dalam paparannya, UBN mengkritik keras fenomena media modern yang terjebak dalam arus komodifikasi informasi. Beliau melihat banyak media yang kini terlalu tunduk pada dikte algoritma media sosial demi mencapai status For Your Page (FYP).

Lukman Hakim Saifuddin: Muktamar NU Harus Jaga Izzah, Hindari Politik Uang dan Voting

​“Persoalan kita itu terlalu menuhankan algoritma, FYP, dan viralitas,” ujar UBN. Menurutnya, ketergantungan ini membuat berita kehilangan fungsi sejatinya sebagai pembangun kesadaran publik dan hanya menjadi barang dagangan semata.

Spiritualitas: Akar Profesionalisme Jurnalis

Hal menarik dalam agenda ini adalah pemilihan waktu pengajian yang dilaksanakan pada waktu Subuh. UBN menjelaskan bahwa kualitas spiritual seorang jurnalis berbanding lurus dengan kualitas karya yang dihasilkan.

​Disiplin ibadah, seperti menjaga shalat berjamaah, diyakini akan membuat seorang jurnalis lebih berintegritas dan berhati-hati dalam merangkai diksi serta mengambil keputusan editorial. Sebaliknya, tulisan yang lahir tanpa kedisiplinan spiritual berisiko membawa dampak negatif bagi masyarakat.

4 Pilar Jurnalisme Islam ala UBN

Bupati Aceh Besar Harap Masjid Ibnu Abu Bakar Jadi Pusat Pembinaan Umat

​Sebagai panduan bagi para jurnalis, UBN memaparkan empat prinsip utama yang harus dipegang teguh:

  1. Kebenaran sebagai Kiblat: Kebijakan editorial tidak boleh tunduk pada modal, tekanan politik, atau fanatisme kelompok.
  2. Keadilan sebagai Ruh Framing: Mengharamkan upaya memelintir fakta demi menyerang pihak lain atau memperkeruh konflik.
  3. Kesucian Bahasa: Bahasa jurnalistik adalah instrumen pembentuk kesadaran yang harus menjaga martabat manusia.
  4. Kesiapan Berkorban (Wanhar): Jurnalis Muslim harus berani “menyembelih” ego, kerakusan, dan ambisi pribadi demi menyuarakan kebenaran, meskipun hal itu tidak populer secara finansial maupun akses.

​“Wanhar itu menyembelih ego, menyembelih ketakutan, menyembelih kerakusan, menyembelih ambisi,” tutup UBN di hadapan para jurnalis yang hadir.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *