JAKARTA, UBN NEWSROOM — Sabtu, 7 Rabiul Akhir 1448 H / 19 September 2026 M.
PONOROGO — Ada pesan yang terasa sangat dalam ketika Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor diawali dengan lantunan empat ayat terakhir Surah Al-Ahzab, ayat 70 hingga 73. Di tengah suasana syukur atas perjalanan satu abad, ayat-ayat itu seakan menggeser perhatian dari kebesaran perayaan kepada sesuatu yang jauh lebih mendasar: kebenaran perkataan, kelurusan amal, beratnya amanah, dan pertanggungjawaban manusia di hadapan Allah.
Pemilihan ayat tersebut terasa semakin kuat karena puncak peringatan seabad Gontor berlangsung setelah rangkaian Khatmul Qur’an dan sujud syukur yang digelar sehari sebelumnya, Jumat (18/9/2026). Gontor sendiri menempatkan peringatan 100 tahun bukan semata sebagai perayaan usia, melainkan sebagai ruang syukur dan refleksi untuk memasuki abad kedua.
Maka, ketika firman Allah tentang qaulan sadida dan amanah terdengar mengawali resepsi pada Sabtu (19/9/2026), ayat-ayat tersebut dapat dibaca seperti sebuah cermin. Seratus tahun bukan hanya cerita tentang apa yang telah dibangun, tetapi juga pertanyaan tentang apakah amanah itu tetap dijaga dengan lurus setelah generasi pendiri berlalu.
SURAH AL-AHZAB AYAT 70
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا
Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wa qūlū qaulan sadīdā.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
SURAH AL-AHZAB AYAT 71
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَٰلَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Yuṣliḥ lakum a‘mālakum wa yaghfir lakum żunūbakum, wa may yuṭi‘illāha wa rasūlahū faqad fāza fauzan a‘ẓīmā.
Artinya: “Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.”
SURAH AL-AHZAB AYAT 72
إِنَّا عَرَضْنَا ٱلْأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا ٱلْإِنسَٰنُ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Innā ‘araḍnal-amānata ‘alas-samāwāti wal-arḍi wal-jibāli fa abaina ay yaḥmilnahā wa asyfaqna minhā wa ḥamalahal-insān, innahū kāna ẓalūman jahūlā.
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya, lalu amanah itu dipikul oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”
SURAH AL-AHZAB AYAT 73
لِّيُعَذِّبَ ٱللَّهُ ٱلْمُنَٰفِقِينَ وَٱلْمُنَٰفِقَٰتِ وَٱلْمُشْرِكِينَ وَٱلْمُشْرِكَٰتِ وَيَتُوبَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Liyu‘ażżiballāhul-munāfiqīna wal-munāfiqāti wal-musyrikīna wal-musyrikāti wa yatūballāhu ‘alal-mu’minīna wal-mu’mināt, wa kānallāhu ghafūrar raḥīmā.
Artinya: “Sehingga Allah akan mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan; dan Allah akan menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
QAULAN SADIDA: LURUS SEBELUM BESAR
Ayat pertama dari rangkaian itu tidak berbicara tentang bangunan, jumlah manusia, panjangnya umur lembaga, ataupun luasnya pengaruh. Allah justru memulainya dengan takwa dan perkataan yang lurus: wa qūlū qaulan sadīdā.
Imam ath-Tabari menjelaskan qaulan sadida sebagai perkataan yang benar, lurus, tidak menyimpang dari kebenaran. Dalam riwayat yang dihimpunnya, Mujahid memaknainya sebagai perkataan yang tepat, sedangkan Qatadah mengaitkannya dengan keadilan dan kejujuran dalam ucapan.
Ibnu Katsir memberikan tekanan serupa. Qaulan sadida adalah perkataan yang lurus, tidak bengkok dan tidak menyimpang. Ketika takwa bersemayam dalam hati dan kelurusan hadir dalam ucapan, Allah menjanjikan konsekuensi yang lebih besar: perbaikan terhadap amal manusia.
Dalam konteks satu abad Gontor, ayat ini membawa renungan yang tajam. Umur panjang sebuah lembaga tidak dengan sendirinya menjadi ukuran kebenaran; kebesaran jaringan tidak otomatis menjadi bukti kelurusan. Yang diuji tetap sama seperti seratus tahun lalu: apakah kata-kata yang diucapkan sesuai dengan nilai yang dijalankan.
Di pesantren, perkataan bukan perkara kecil. Dari kata-kata seorang kiai lahir arah pendidikan, dari kata-kata seorang guru tumbuh kepercayaan murid, dan dari kata-kata seorang santri kelak masyarakat membaca kualitas pendidikannya.
Karena itu, qaulan sadida dapat dibaca sebagai fondasi etis memasuki abad kedua. Gontor boleh bertambah besar, kampus dapat bertambah banyak, alumninya dapat tersebar ke berbagai belahan dunia, tetapi semuanya kehilangan makna apabila kelurusan kata dan kejujuran niat mulai ditinggalkan.
KETIKA ALLAH MEMPERBAIKI AMAL
Ayat ke-71 kemudian menunjukkan hubungan yang menarik antara ucapan dan amal. Allah tidak hanya memerintahkan manusia berkata benar, tetapi menjanjikan, yuṣliḥ lakum a‘mālakum, Dia akan memperbaiki amal-amal mereka.
Ath-Tabari menjelaskan bahwa mereka yang bertakwa dan mengucapkan perkataan yang benar akan diberi taufik menuju amal yang saleh. Allah kemudian mengampuni dosa mereka, sedangkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya membawa manusia kepada kemenangan yang besar.
Ibnu Katsir juga membaca ayat 70 dan 71 sebagai satu kesatuan. Takwa dan perkataan yang lurus bukan berhenti sebagai kesalehan verbal, melainkan membuahkan perbaikan tindakan dan ampunan Allah.
Di sinilah ungkapan “kesyukuran 100 tahun” memperoleh kedalaman makna. Syukur bukan hanya melihat keberhasilan masa lalu, tetapi juga memohon agar Allah memperbaiki amal yang masih kurang, meluruskan yang mulai menyimpang, dan mengampuni kesalahan yang mungkin terjadi sepanjang perjalanan.
Seratus tahun sebuah institusi hampir mustahil berjalan tanpa kekurangan manusia di dalamnya. Ada keputusan yang mungkin tidak sempurna, ada generasi yang datang dan pergi, ada perubahan zaman yang harus dihadapi, dan ada kekeliruan yang mungkin baru disadari setelah puluhan tahun berlalu.
Maka, kalimat yuṣliḥ lakum a‘mālakum terasa seperti doa bagi perjalanan berikutnya. Memasuki abad kedua bukan hanya meminta Gontor menjadi lebih besar, tetapi memohon agar setiap amalnya terus diperbaiki oleh Allah.
AMANAH YANG DITAKUTI LANGIT DAN GUNUNG
Nada ayat kemudian berubah drastis pada ayat ke-72. Dari perintah berkata benar dan janji perbaikan amal, Alquran membawa manusia berhadapan dengan sebuah kata yang berat: al-amānah.
Allah menggambarkan amanah pernah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Semuanya enggan memikulnya dan merasa takut terhadap beratnya konsekuensi amanah tersebut, tetapi manusia menerimanya.
Ibnu Katsir mengutip penjelasan Ibnu Abbas bahwa amanah dalam ayat ini mencakup ketaatan kepada Allah. Riwayat lain yang dihimpunnya memaknainya sebagai kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada manusia, yang apabila dilaksanakan mendatangkan pahala dan apabila disia-siakan membawa pertanggungjawaban.
Imam al-Qurthubi memperlihatkan keluasan maknanya. Ia mencatat penjelasan ulama bahwa amanah mencakup kewajiban-kewajiban agama yang dipercayakan Allah kepada manusia; dalam penjelasan para salaf, cakupannya bahkan menyentuh harta, ibadah, anggota tubuh, dan seluruh tanggung jawab yang dipercayakan kepada manusia.
Bila ayat ini dibaca pada ulang tahun ke-100 sebuah pesantren wakaf, resonansinya menjadi sangat kuat. Sebab sesuatu yang diwariskan dari generasi sebelumnya pada hakikatnya bukan hanya aset, tanah, gedung atau sistem pendidikan, melainkan kepercayaan.
Seratus tahun Gontor dengan demikian dapat dibaca sebagai seratus tahun perjalanan sebuah amanah. Para pendiri telah pergi. Banyak guru yang dahulu menghidupkan ruang-ruang kelas telah tiada. Santri yang pernah berlari di halaman pondok telah menjadi orang tua, bahkan kakek, dan sebagian sudah kembali menghadap Allah.
Tetapi amanah tidak ikut dikuburkan bersama mereka.
Ia berpindah tangan.
Dari pendiri kepada penerus, dari kiai kepada guru, dari guru kepada santri, dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Setiap tangan hanya memegangnya untuk sementara sebelum menyerahkannya kepada orang yang datang kemudian.
Itulah sebabnya ayat tentang amanah terasa begitu emosional ketika
PERSPEKTIF UBN NEWSROOM
QAULAN SADIDA DAN AMANAH
Rangkaian Surah Al-Ahzab ayat 70–73 menempatkan dua hal yang saling berkaitan: kelurusan perkataan dan beratnya amanah. Keduanya tidak berhenti pada ucapan, tetapi berhubungan dengan amal dan pertanggungjawaban manusia kepada Allah.
Dalam perjalanan sebuah lembaga pendidikan selama satu abad, nilai tersebut dapat menjadi bahan muhasabah: bagaimana perkataan dijaga, bagaimana amanah dikelola, dan bagaimana setiap generasi meneruskan tanggung jawab yang diterimanya.
MEMASUKI ABAD KEDUA DENGAN MUHASABAH
Syukur atas perjalanan panjang tidak semestinya hanya menjadi perayaan atas apa yang telah dicapai. Syukur juga dapat menjadi kesempatan untuk melakukan muhasabah, memohon perbaikan amal, dan menyadari bahwa setiap amanah pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Bagi lembaga pendidikan yang dibangun dan dikembangkan lintas generasi, keberlanjutan bukan hanya soal mempertahankan usia, tetapi menjaga nilai yang menjadi ruh perjalanan tersebut.
DUKUNGAN OPERASIONAL DAKWAH & JURNALISME PERADABAN
UBN Newsroom hadir sebagai bagian dari ikhtiar dakwah dan jurnalisme peradaban untuk menyampaikan informasi yang teruji, mencerdaskan umat, serta menghadirkan perspektif Islam dalam membaca berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat dan dunia.
Keberlangsungan kerja dakwah dan jurnalisme membutuhkan dukungan bersama. Setiap dukungan yang diberikan menjadi bagian dari ikhtiar untuk menjaga keberlanjutan produksi konten, peliputan, riset, verifikasi informasi, dan penyebaran narasi yang membawa kemaslahatan bagi umat.
Dukungan operasional dapat disalurkan melalui:
BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.
Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu.

Comment