SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agama
Home » 100 Tahun Gontor: Dari Pondok Nyaris Mati Menjadi Gerakan Pendidikan

100 Tahun Gontor: Dari Pondok Nyaris Mati Menjadi Gerakan Pendidikan

PONOROGO | UBN Newsroom — Jumat, 7 Rabiul Akhir 1448 H / 18 September 2026 M.

Ribuan alumni dari berbagai generasi mulai kembali ke Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, memasuki puncak peringatan satu abad perjalanan pendidikan pada 18–20 September 2026. Rangkaian tersebut diawali Khotmul Qur’an dan Sujud Syukur pada Jumat, dilanjutkan Resepsi Kesyukuran pada Sabtu, dan ditutup Reuni Akbar pada Ahad.

Namun, satu abad Gontor tidak hanya berbicara tentang besarnya pertemuan alumni. Di balik ribuan orang yang kembali ke Ponorogo terdapat sejarah panjang tentang sebuah lembaga pendidikan yang pernah mengalami kemunduran hingga hampir kehilangan generasi penerusnya.

Dari Gontor Lama Menuju Pondok Modern

Sebelum Pondok Modern Darussalam Gontor berdiri pada 1926, terdapat Gontor Lama yang merupakan pesantren keluarga. Pada generasi keempat, lembaga tersebut mengalami kemunduran: jumlah santri menyusut, kegiatan pendidikan melemah, dan keberlangsungan pesantren berada dalam ketidakpastian.

MUI Dorong Kesiapan Pelaksanaan Wajib Halal Oktober 2026

Di tengah keadaan tersebut, Nyai Santoso menaruh harapan kepada tiga putranya—Ahmad Sahal, Zainuddin Fannani, dan Imam Zarkasyi. Ketiganya kemudian menempuh perjalanan pendidikan dengan pengalaman yang berbeda sebelum kembali membangun kehidupan pendidikan di Gontor.

Pesan yang ditanamkan kepada mereka menjadi salah satu fondasi perjuangan: “Kamu harus menjadi alim dan saleh. Daripada mempunyai harta lebih baik mempunyai ilmu, Nak.”

Kebangkitan itu kemudian melahirkan gagasan pendidikan yang lebih terstruktur. Trimurti tidak sekadar menghidupkan kembali pesantren lama, tetapi membangun sistem pendidikan yang memadukan tradisi kepesantrenan dengan pola pembelajaran modern, salah satunya melalui Kulliyatu-l-Mu’allimin al-Islamiyah (KMI).

Pendidikan sebagai Jalan Kebangkitan

Perjalanan tersebut tidak selalu berlangsung mulus. Sistem pendidikan baru menghadapi kritik dan berbagai tantangan, sementara jumlah santri pada masa awal belum menunjukkan gambaran lembaga besar seperti sekarang.

Prof Sudarnoto Dorong OKI Tindak Lanjuti Resolusi PBB untuk Palestina

Imam Zarkasyi bahkan pernah berdoa agar lembaga yang dipimpinnya dilenyapkan apabila tidak memberikan manfaat kepada masyarakat. Ukuran keberhasilan pendidikan, dengan demikian, diletakkan bukan semata pada besarnya lembaga, tetapi pada manfaat yang lahir dari manusia yang dididiknya.

Sikap itu tercermin pula dalam tekadnya untuk tetap mendidik meskipun jumlah murid sangat sedikit. Pendidikan dipandang sebagai pengabdian yang tidak boleh berhenti hanya karena ukuran kuantitatif belum menunjukkan keberhasilan.

Dari Pondok Menjadi Gerakan

Seratus tahun kemudian, skala Gontor berubah secara signifikan. Alumni Gontor kini terhimpun dalam 136 cabang Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) di dalam dan luar negeri serta mengelola lebih dari 1.500 pesantren alumni di berbagai daerah.

Jaringan tersebut membuat pengaruh Gontor tidak hanya dapat dilihat dari kampus induknya di Ponorogo. Nilai pendidikan, pengalaman pengasuhan, kemampuan berorganisasi, penguasaan bahasa, kepemimpinan, dan tradisi pengabdian dibawa para alumni ke berbagai ruang kehidupan.

Pemerintah Membatasi Penggunaan Gawai di Lingkungan Sekolah Binaan Kemenag

Ketua Reuni Akbar Peringatan 100 Tahun Gontor, Ahmad Suharto, menegaskan bahwa momentum tersebut bukan sekadar reuni atau nostalgia. Menurutnya, peringatan satu abad merupakan kesempatan untuk mengevaluasi apakah kiprah alumni di tengah masyarakat masih selaras dengan visi, misi, dan risalah peradaban yang diwariskan Trimurti.

Abad Kedua Dimulai

Gontor kini menghadapi persoalan yang berbeda dari masa awal berdirinya. Jika dahulu tantangannya adalah menghidupkan kembali pendidikan dari kondisi yang nyaris kehilangan generasi penerus, kini tantangannya adalah menjaga nilai dasar ketika lembaga, jaringan alumni, universitas, dan pesantren terus berkembang.

Badan Wakaf Gontor telah membentuk tim yang melibatkan pakar pendidikan serta alumni bergelar doktor dan profesor untuk menyusun Rencana Strategis Abad Kedua. Arah yang disiapkan mencakup penguatan pendidikan holistik, jejaring lintas sektor, pengembangan universitas, dan transformasi Gontor sebagai bagian dari gerakan peradaban Islam.

Puncak peringatan 100 tahun karena itu menjadi lebih dari sekadar penanda usia. Ia menjadi titik untuk mengukur apakah pertumbuhan kelembagaan tetap berjalan bersama nilai yang sejak awal menjadi alasan Gontor didirikan.

Perspektif UBN Newsroom | Ilmu yang Menjadi Amal dan Peradaban

Sejarah Gontor memperlihatkan bahwa sebuah lembaga pendidikan dapat tumbuh bukan hanya karena bangunan dan jumlah peserta didik, tetapi karena manusia yang bersedia menanamkan ilmu dan mengubahnya menjadi pengabdian.

Allah SWT berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya:
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Mujadilah [58]: 11)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa ilmu memiliki kedudukan tinggi ketika melahirkan iman dan amal. Pendidikan pada akhirnya tidak berhenti pada ruang kelas, ijazah, atau gelar, tetapi diuji melalui manfaat yang diberikan manusia kepada masyarakat.

Dari pondok yang pernah menghadapi kemunduran hingga jaringan pendidikan yang kini tersebar luas, perjalanan Gontor menunjukkan satu hal: kaderisasi menentukan apakah sebuah perjuangan akan berhenti pada satu generasi atau terus bergerak melampaui zamannya.

Karena itu, memasuki abad kedua, tantangan Gontor bukan lagi sekadar bagaimana bertahan. Pertanyaan yang lebih besar adalah bagaimana menjaga ruh perjuangan Trimurti di tengah perubahan zaman, agar pertumbuhan kelembagaan tetap melahirkan manusia yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan memberi maslahat.

Ribuan alumni yang kembali ke Ponorogo pada pekan ini bukan hanya sedang mengenang masa lalu. Mereka sedang dipanggil untuk membawa kembali nilai yang dahulu mereka terima ke tengah masyarakat—sebagaimana pendidikan Gontor sejak awal dimaksudkan: mendidik manusia, kemudian mengirimnya kembali untuk mengabdi.

Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban

UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.

Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement