SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agama Nasional
Home » KH Hasan Sahal: 100 Tahun Gontor Bukan Perayaan, Ini Peringatan

KH Hasan Sahal: 100 Tahun Gontor Bukan Perayaan, Ini Peringatan

PONOROGO | UBN Newsroom — Sabtu, 7 Rabiul Akhir 1448 H / 19 September 2026 M.

Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal menegaskan bahwa satu abad Gontor bukan momentum untuk membanggakan pencapaian masa lalu. Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, santri, alumni, dan para tamu undangan, ia menyebut usia 100 tahun sebagai peringatan untuk mensyukuri sekaligus menjaga amanah para pendiri.

“Kita ini bukan perayaan. Ini peringatan,” kata Hasan dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), Ponorogo, Sabtu (19/9/2026). Resepsi tersebut menjadi bagian dari rangkaian puncak satu abad Gontor yang berlangsung pada 18–20 September 2026 dan turut dihadiri Presiden Prabowo.

Hasan mengingatkan bahwa perjalanan seratus tahun tidak pernah lepas dari kesulitan. Ia mengutip prinsip yang selama ini menjadi pesan penting dalam kaderisasi Gontor: setiap masa memiliki tokohnya, setiap tokoh memiliki masanya, dan setiap masa menghadirkan persoalan beserta jalan penyelesaiannya.

Dari Gontor Lama Menuju Amanah Umat

MUI Dorong Kesiapan Pelaksanaan Wajib Halal Oktober 2026

Dalam sambutannya, Hasan membawa hadirin melihat kembali perjalanan Gontor dari masa awal hingga menjadi lembaga pendidikan Islam yang berkembang. Ia menggambarkan perubahan tersebut bukan semata sebagai pertumbuhan bangunan dan lembaga, tetapi sebagai perjalanan nilai dan pendidikan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satu titik penting yang kembali ditekankan adalah penyerahan Pondok Modern Darussalam Gontor kepada umat Islam melalui wakaf pada 12 Oktober 1958. Catatan sejarah Gontor menyebut pondok diserahkan kepada umat melalui 15 orang yang kemudian menjadi cikal bakal Badan Wakaf Pondok Modern.

Wakaf tersebut menjadi fondasi kelembagaan yang menempatkan Gontor bukan sebagai milik pribadi keluarga pendiri, melainkan sebagai amanah umat. Prinsip ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keberlangsungan pondok bergantung pada kemampuan generasi penerus menjaga nilai, sistem, dan cita-cita yang telah diwariskan.

Gontor Memilih Jalan Pendidikan

Hasan juga menegaskan posisi Gontor dalam kehidupan bangsa. Menurutnya, pondok memilih pendidikan sebagai jalan pengabdian, sementara para alumninya dapat berkiprah di berbagai bidang kehidupan, termasuk pemerintahan dan lembaga publik.

Prof Sudarnoto Dorong OKI Tindak Lanjuti Resolusi PBB untuk Palestina

Pilihan tersebut berjalan bersama prinsip Gontor untuk berdiri di atas dan untuk semua golongan. Latar belakang organisasi maupun kelompok masyarakat tidak menjadi batas bagi proses pendidikan di Gontor selama nilai persatuan, ukhuwah, dan pengabdian kepada umat tetap dijaga.

Prinsip tersebut sejalan dengan karakter pendidikan Gontor yang menempatkan Panca Jiwa sebagai dasar kehidupan pondok, yakni keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan.

Prabowo dan Tradisi Kunjungan Presiden

Kehadiran Prabowo dalam resepsi satu abad Gontor juga melanjutkan tradisi panjang hubungan antara kepala negara dan Pondok Modern Darussalam Gontor. Catatan resmi Gontor menyebut tujuh presiden sebelum Prabowo pernah mengunjungi pondok tersebut, mulai dari Soekarno pada 1946 hingga Joko Widodo pada 2016.

Prabowo hadir dalam rangkaian acara setelah dijadwalkan meresmikan Fakultas Kedokteran Universitas Darussalam Gontor. Presiden kemudian mengikuti Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor bersama Badan Wakaf, dewan guru, santri, alumni, dan para tamu undangan.

Pemerintah Membatasi Penggunaan Gawai di Lingkungan Sekolah Binaan Kemenag

Jangan Berhenti pada Sejarah

Hasan juga mengingatkan agar Gontor tidak hanya menjadi lembaga yang mengenang sejarah. Ia mengajak generasi setelah Trimurti untuk belajar dari perjalanan masa lalu sekaligus membangun sejarah baru sesuai tantangan zaman.

Pesan tersebut mendapatkan makna khusus ketika Gontor memasuki abad kedua. Jika generasi pendiri dahulu menghadapi tantangan mendirikan dan mempertahankan pondok, generasi hari ini menghadapi tanggung jawab menjaga amanah, mengembangkan pendidikan, serta menjawab persoalan baru tanpa kehilangan jati diri.

Bagi Hasan, perkembangan fisik juga tidak boleh menjadi ukuran tunggal keberhasilan. Kesederhanaan, keikhlasan, pengorbanan, dan kualitas pendidikan harus tetap menjadi bagian dari kehidupan pondok agar pertumbuhan kelembagaan berjalan bersama pembentukan manusia.

Seratus Tahun sebagai Muhasabah

Rangkaian puncak peringatan 100 tahun Gontor sendiri telah dimulai dengan Khotmul Qur’an dan Sujud Syukur pada Jumat (18/9). Agenda kemudian dilanjutkan dengan Resepsi Kesyukuran pada Sabtu dan Reuni Akbar pada Ahad (20/9), yang mempertemukan alumni lintas generasi dari berbagai daerah dan negara.

Karena itu, pesan Hasan tidak berhenti pada angka satu abad. Peringatan tersebut menjadi ruang untuk melihat kembali apa yang telah dijaga, apa yang masih perlu diperbaiki, dan bagaimana amanah pendidikan Gontor dapat diteruskan pada abad berikutnya.

Perspektif UBN Newsroom | Amanah yang Harus Diteruskan

Usia panjang sebuah lembaga bukan sekadar ukuran waktu. Dalam perspektif Islam, perjalanan panjang justru menjadi kesempatan untuk melakukan syukur, muhasabah, dan memastikan bahwa amanah yang diterima tetap dijalankan dengan benar.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Artinya: “Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.”

(QS. An-Nisa [4]: 58)

Pesan tersebut relevan dengan makna wakaf dan pendidikan yang ditekankan Hasan. Apa yang diwariskan para pendiri bukan hanya bangunan atau lembaga, tetapi nilai, ilmu, sistem, dan tanggung jawab yang harus dijaga oleh generasi setelahnya.

Seratus tahun Gontor akhirnya bukan hanya tentang bagaimana sebuah pondok mampu bertahan melewati zaman. Ia juga tentang bagaimana sebuah amanah terus diteruskan, diperbaiki, dan dihidupkan kembali dalam bentuk pengabdian yang sesuai dengan kebutuhan setiap zaman.

Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban

UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.

Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement