SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agama Internasional
Home » Daurah Qira’at Internasional 2026 Dimulai, Perkuat Tradisi Sanad dan Keilmuan Al-Qur’an

Daurah Qira’at Internasional 2026 Dimulai, Perkuat Tradisi Sanad dan Keilmuan Al-Qur’an

JAKARTA | UBN Newsroom — Sabtu, 16 Rabiul Awal 1448 H / 29 Agustus 2026 M.

Tradisi sanad dan keilmuan Al-Qur’an kembali diperkuat melalui Daurah Qira’at Internasional 1448 H/2026 M yang resmi dimulai di Universitas YARSI, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan yang mempertemukan ulama Al-Qur’an dari dalam dan luar negeri bersama pengajar, akademisi, santri, qari dan qariah, serta para pecinta Al-Qur’an ini menjadi ruang untuk menjaga ketelitian bacaan sekaligus kesinambungan ilmu Al-Qur’an dari generasi ke generasi.

Dibuka dengan Tilawah Riwayah Warsy

Rangkaian daurah diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Syaikh Dr. Hisyam Abdul Bari Rajih. Ia membacakan Surah Fatir ayat 29–35 dengan Riwayah Warsy.

Pembacaan tersebut menjadi pengantar bagi para peserta untuk menyimak keindahan sekaligus ketelitian bacaan Al-Qur’an melalui salah satu riwayat qira’at yang diwariskan dalam khazanah keilmuan Islam.

Prof Sudarnoto Dorong OKI Tindak Lanjuti Resolusi PBB untuk Palestina

Indonesia Raya Mengawali Majelis Ilmu

Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur’an, seluruh peserta dan hadirin bersama-sama menyanyikan Lagu Indonesia Raya dengan penuh khidmat.

Di tengah majelis ilmu Al-Qur’an, semangat kebangsaan turut menjadi bagian dari kebersamaan. Daurah ini diharapkan tidak hanya memperkuat kecintaan terhadap Al-Qur’an, tetapi juga melahirkan ilmu yang membawa keberkahan bagi masyarakat dan bangsa.

Menjaga Rantai Bacaan Al-Qur’an

Dalam kesempatan tersebut, K.H. Dr.(H.C.) Bachtiar Nasir, Lc., M.M. menekankan pentingnya menjaga kesinambungan sanad dalam mempelajari dan membaca Al-Qur’an.

Vietnam Resmi Naik Kelas: Masuk Indeks Emerging Market FTSE, Potensi Dana Asing Rp 98 Triliun Mengalir

“Rantai bacaan Al-Qur’an ini telah terjaga selama berabad-abad. Hari ini, kita menjadi bagian dari rantai itu. Jangan biarkan mata rantai kita menjadi yang paling lemah,” ujar K.H. Dr.(H.C.) Bachtiar Nasir.

Ia juga mengingatkan bahwa bacaan Al-Qur’an tidak boleh dibentuk berdasarkan selera manusia, melainkan harus mengikuti bacaan yang telah diajarkan dan diwariskan dari generasi ke generasi.

“Kita tidak membuat bacaan Al-Qur’an sesuai keinginan kita. Kita mengikuti bagaimana Al-Qur’an dibacakan dan diwariskan dari generasi ke generasi,” katanya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa qira’at bukan sekadar seni melafalkan ayat, tetapi bagian dari disiplin keilmuan yang memiliki sejarah transmisi dan sanad yang panjang.

Penyerahan Kitab Matan Tuhfatul Athfal

Muadzin Masjidil Haram Syekh Ibrahim Al-Madani Wafat

Momentum lainnya ditandai dengan penyerahan Kitab Matan Tuhfatul Athfal oleh Syaikh Prof. Dr. Ahmad Isa Al-Ma’sharawy kepada K.H. Dr.(H.C.) Bachtiar Nasir, Lc., M.M.

Kitab tersebut merupakan karya yang disyarahkan langsung oleh Syaikh Prof. Dr. Ahmad Isa Al-Ma’sharawy. Penyerahan ini menjadi simbol pertukaran sekaligus keberlanjutan warisan ilmu Al-Qur’an dari para ulama kepada generasi berikutnya.

Lebih dari sekadar sebuah buku, Matan Tuhfatul Athfal menjadi bagian dari khazanah keilmuan tajwid yang terus dipelajari, diajarkan, dan diwariskan melalui tradisi keilmuan Islam.

“Ada ilmu yang tidak cukup hanya diambil dari buku dan video. Ada ilmu yang harus diambil dari lisan ke lisan, hingga sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah,” ujar K.H. Dr.(H.C.) Bachtiar Nasir.

Rangkaian Daurah Qira’at Internasional 1448 H/2026 M menjadi ruang pertemuan antara ulama Al-Qur’an dan masyarakat pembelajar Al-Qur’an di Indonesia. Melalui majelis ini, tradisi sanad, ketelitian bacaan, dan khazanah qira’at diharapkan terus hidup serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ikhtiar memperkuat hubungan keilmuan antara ulama Al-Qur’an dari Timur Tengah dan para pembelajar Al-Qur’an di Indonesia, serta memperluas kecintaan masyarakat terhadap ilmu, bacaan, dan warisan Al-Qur’an.

Perspektif UBN Newsroom

Menjadi Mata Rantai yang Menguatkan

Daurah Qira’at Internasional mengingatkan bahwa Al-Qur’an sampai kepada umat hari ini melalui proses penjagaan yang panjang. Ada generasi yang menerima, mempelajari, mengamalkan, kemudian mewariskannya kepada generasi setelahnya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Artinya:

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.”

(QS. Al-Hijr [15]: 9)

Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah SWT menjamin penjagaan Al-Qur’an. Dalam sejarahnya, penjagaan itu juga berlangsung melalui manusia yang menerima, menghafal, membaca, mengajarkan, dan mewariskan Al-Qur’an dengan penuh amanah.

Karena itu, pesan sanad bukan hanya untuk para qari, guru Al-Qur’an, atau peserta daurah. Setiap Muslim memiliki bagian dalam menjaga hubungan dirinya dengan Al-Qur’an sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Bagi orang tua, menjaga mata rantai itu dapat dimulai dengan mengajarkan Al-Qur’an kepada anak. Bagi guru, dengan menyampaikan bacaan dan ilmu secara benar. Bagi santri dan mahasiswa, dengan belajar sungguh-sungguh dan tidak merasa cukup hanya dengan pengetahuan yang diperoleh secara instan.

Di tengah zaman ketika ilmu begitu mudah diperoleh melalui buku, rekaman, dan media digital, majelis seperti Daurah Qira’at mengingatkan bahwa tidak semua ilmu cukup dipelajari dengan mendengar atau membaca sendiri. Ada ilmu yang membutuhkan talaqqi, koreksi guru, ketelitian, dan kesinambungan sanad.

Pada akhirnya, setiap generasi adalah mata rantai. Pertanyaannya bukan hanya apakah kita telah menerima Al-Qur’an, tetapi apakah kita akan menjadi mata rantai yang menguatkan atau justru melemahkan warisan yang kita terima?

Daurah Qira’at Internasional 1448 H/2026 M menjadi salah satu ikhtiar untuk memastikan bahwa warisan bacaan dan ilmu Al-Qur’an tidak berhenti pada satu generasi, tetapi terus hidup, dipelajari, diamalkan, dan diwariskan dengan amanah kepada generasi berikutnya.

Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban

UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.

Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement