SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agama Internasional
Home » Muadzin Masjidil Haram Syekh Ibrahim Al-Madani Wafat

Muadzin Masjidil Haram Syekh Ibrahim Al-Madani Wafat

MAKKAH | UBN Newsroom — Senin, 10 Rabiul Akhir 1448 H / 21 September 2026 M.

INNALILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UN. Kabar duka datang dari Tanah Suci. Syekh Ibrahim bin Adel Al-Madani, salah satu muadzin utama Masjidil Haram, wafat pada Senin, 21 September 2026, dalam usia sekitar 51 tahun.

Kabar wafatnya disampaikan oleh Al-Ekhbariya, kanal berita resmi Arab Saudi, dan kemudian diberitakan sejumlah media Arab serta internasional. Syekh Ibrahim dikenal sebagai salah satu dari 24 muadzin utama Masjidil Haram yang menjalankan tugas secara bergiliran.

Azan Subuh Terakhir dari Masjidil Haram

Sebelum wafat, Syekh Ibrahim masih sempat mengumandangkan azan Subuh pada Senin dini hari. Azan tersebut menjadi panggilan terakhir yang ia kumandangkan dari Masjidil Haram, beberapa jam sebelum kabar wafatnya tersebar.

MUI Dorong Kesiapan Pelaksanaan Wajib Halal Oktober 2026

Rekaman azan terakhir tersebut kemudian kembali beredar di media sosial melalui akun Inside the Haramain. Suara azan dan takbir Syekh Ibrahim dikenang jamaah karena karakter suaranya, terutama ketika mengumandangkan azan Subuh.

Selain azan, Syekh Ibrahim juga menjalankan tugas tabligh dari Makbariyah Masjidil Haram, yaitu menyampaikan atau meneruskan suara takbir dan bacaan imam agar dapat terdengar oleh jamaah. Ia juga dikenal dalam pelaksanaan takbir pada hari raya.

Salat Jenazah Dilaksanakan di Masjidil Haram

Salat jenazah Syekh Ibrahim dijadwalkan dilaksanakan setelah salat Asar di Masjidil Haram pada Senin. Setelah itu, jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Al-Mu’alla, Makkah.

Hingga laporan ini disusun, tidak ada keterangan resmi yang merinci penyebab wafat Syekh Ibrahim. Bernama juga melaporkan bahwa otoritas atau kanal resmi Saudi belum mengeluarkan informasi spesifik mengenai penyebab kematiannya.

Prof Sudarnoto Dorong OKI Tindak Lanjuti Resolusi PBB untuk Palestina

Perjalanan Panjang Bersama Azan

Syekh Ibrahim lahir di Madinah pada 1976 dan tumbuh dalam keluarga religius. Sang kakek disebut merupakan penghafal Al-Qur’an, sementara Syekh Ibrahim kemudian menempuh pendidikan di bidang Studi Al-Qur’an.

Kecintaannya terhadap azan telah tumbuh sejak usia muda. Ia mulai mengumandangkan azan di masjid lingkungan tempat tinggalnya di Madinah ketika berusia sekitar 15 tahun, kemudian kembali aktif sebagai muadzin di Masjid Al-Maddah pada 1428 H atau sekitar 2007–2008.

Syekh Ibrahim kemudian secara resmi menjadi bagian dari muadzin Masjidil Haram pada 1439 H atau sekitar 2017–2018. Pengalaman tumbuh di Madinah turut membentuk karakter azannya, sementara ia juga mempelajari gaya azan Makkah dari lingkungan keluarganya.

Dalam sebuah wawancara mengenai Makbariyah Al-Haramain, Syekh Ibrahim pernah mengenang azan pertamanya di Masjidil Haram. Ia mengaku menangis ketika melihat jamaah yang tawaf di sekitar Ka’bah mendengarkan suaranya, seraya bertanya dengan penuh kerendahan hati, “Siapa saya hingga suara saya dikumandangkan di tempat suci ini?”

Pemerintah Membatasi Penggunaan Gawai di Lingkungan Sekolah Binaan Kemenag

Kini, suara yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari suasana ibadah di Masjidil Haram itu telah menjadi kenangan bagi banyak kaum Muslimin. Rekaman azan dan takbirnya kembali dibagikan sebagai bentuk penghormatan sekaligus doa bagi seorang muadzin yang mengabdikan suaranya untuk menyeru manusia kepada salat.

Perspektif UBN Newsroom | Ketika Azan Menjadi Jejak Pengabdian

Kematian adalah kepastian yang akan ditemui setiap manusia. Allah SWT berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”

(QS. Ali ‘Imran [3]: 185)

Kisah Syekh Ibrahim Al-Madani mengingatkan bahwa sebuah pengabdian tidak selalu diukur dari seberapa banyak manusia mengenal nama seseorang. Terkadang, amal yang dilakukan dengan ikhlas justru melekat melalui sesuatu yang sederhana, seperti suara yang mengingatkan manusia untuk meninggalkan kesibukan dunia dan memenuhi panggilan Allah.

Azan yang dikumandangkan Syekh Ibrahim telah menjadi bagian dari perjalanan ibadah banyak jamaah di Masjidil Haram. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah dan pengabdiannya, mengampuni segala kesalahannya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه، وأكرم نزله، ووسع مدخله، واجعل قبره روضة من رياض الجنة.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa‘fu ‘anhu.

Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban

UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.

Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement