Advertisement
Internasional Timur Tengah
Home » AS Klaim Iran Tak Mampu Gaji Tentara, Bukti Belum Terungkap

AS Klaim Iran Tak Mampu Gaji Tentara, Bukti Belum Terungkap

WASHINGTON, UBN NEWSROOM — Rabu, 22 Jumadil Awal 1448 H / 14 Oktober 2026 M.

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent mengklaim tekanan ekonomi yang dijatuhkan Washington telah membawa Iran ke ambang kehancuran, bahkan disebut membuat Teheran kesulitan membayar gaji personel militernya. Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen melalui bukti terbuka yang memastikan bahwa pembayaran gaji tentara Iran benar-benar terhenti.

Pernyataan itu disampaikan Bessent dalam wawancara dengan program Fox & Friends Weekend di Fox News pada Minggu (11/10/2026). Ia meyakini tekanan ekonomi akan memaksa Iran mengubah sikap, tetapi sekaligus mengakui bahwa pemerintah AS belum mengetahui bagaimana perang dengan Teheran akan berakhir.

“Saya tidak tahu bagaimana mengatakan ‘menyerah’ dalam bahasa Persia, tetapi mereka pada akhirnya akan menyerah. Mereka sedang mengalami kehancuran. Mereka tidak mampu membayar gaji tentaranya,” kata Bessent kepada Rachel Campos-Duffy, sebagaimana dikutip Benzinga pada 13 Oktober 2026.

Pernyataan tersebut memperlihatkan perbedaan antara keyakinan Washington mengenai dampak sanksi dan ketidakpastian hasil strategisnya. Bessent membandingkan situasi tersebut dengan runtuhnya Tembok Berlin pada 1989, sembari menyebut sejumlah kemungkinan, mulai dari munculnya perlawanan masyarakat hingga perpecahan di antara elite keamanan Iran.

Kapal Tanker Meledak Setelah Terkena Ranjau di Selat Hormuz. Pasokan Minyak Dunia Makin Sulit

“Kami tidak tahu apakah rakyat akan bangkit, apakah anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran akan saling berbalik melawan satu sama lain, atau apakah mereka akhirnya sadar dan ingin membuat kesepakatan untuk tidak memiliki program nuklir,” ujarnya. Kemungkinan tersebut masih berupa skenario yang disampaikan pejabat AS, bukan perkembangan politik Iran yang telah dipastikan terjadi.

EKSPOR MINYAK IRAN TERHENTI, DAMPAK EKONOMI MEMBESAR

Salah satu indikator tekanan ekonomi yang dapat diperiksa adalah ekspor minyak mentah Iran melalui laut. Data perusahaan intelijen energi Vortexa yang dilaporkan Reuters pada 13 Oktober menunjukkan pengiriman minyak mentah Iran melalui laut turun menjadi nol pada pekan kedua September 2026 dan tetap berada pada level tersebut hingga 5 Oktober.

Sebelumnya, rata-rata bergerak 14 hari ekspor minyak mentah Iran masih sekitar 230 ribu barel per hari pada awal September. Perubahan ini menunjukkan penurunan tajam dalam kemampuan Iran mengirim minyak melalui jalur laut, salah satu sumber penting pendapatan negara tersebut.

Vortexa juga memperkirakan sekitar 83 juta barel minyak mentah Iran masih berada di atas kapal tanker, dengan 43 juta barel tertahan di sebelah barat Selat Hormuz akibat blokade AS. Direktur Risiko dan Intelijen Maritim Vortexa, Claire Jungman, menilai pembatasan fisik terhadap pelayaran telah menghentikan pengiriman minyak Iran dari kawasan Teluk.

Arab Saudi Tolak Tawaran Israel untuk Melawan Houthi.

Meski demikian, berhentinya ekspor melalui laut tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh kegiatan ekonomi Iran telah runtuh atau pemerintahnya tidak mampu membayar gaji tentara. Kesimpulan tersebut memerlukan data tambahan mengenai pendapatan negara, cadangan keuangan, pengeluaran pemerintah, mekanisme pembayaran personel, serta aktivitas perdagangan melalui jalur lain.

Dengan kata lain, data Vortexa mendukung adanya tekanan berat pada sektor ekspor minyak, tetapi tidak secara langsung mengonfirmasi klaim Bessent mengenai pembayaran gaji militer Iran.

SELAT HORMUZ JADI TITIK KRITIS PERANG EKONOMI

Tekanan terhadap ekspor minyak Iran juga membawa konsekuensi bagi pasar energi internasional. Selat Hormuz merupakan jalur strategis distribusi minyak dan gas dunia, sehingga setiap gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut dapat memengaruhi pasokan, biaya transportasi, dan harga energi.

Reuters melaporkan pada 14 Oktober bahwa Iran mengubah taktik untuk meningkatkan tekanan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Dua pejabat senior Iran yang dikutip media tersebut menyatakan bahwa perubahan itu bertujuan mempertahankan tekanan terhadap harga minyak dunia dan memengaruhi situasi politik menjelang pemilihan sela Kongres AS pada November. Keterangan tersebut merupakan klaim sumber yang dikutip Reuters dan tidak berarti seluruh dampak yang ditargetkan Iran telah tercapai.

MUI Terbitkan Tausiyah Karhutla, Desak Penegakan Hukum dan Penguatan Gotong Royong

Perkembangan ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tidak berlangsung satu arah. Ketika Washington berusaha membatasi pendapatan minyak Teheran, gangguan pelayaran di kawasan Teluk juga dapat meningkatkan biaya yang ditanggung pasar global dan negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan tersebut.

WASHINGTON BELUM MEMASTIKAN AKHIR PERANG

Ketidakpastian mengenai hasil perang menjadi persoalan tersendiri bagi pemerintahan Presiden Donald Trump. Tekanan ekonomi dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah Iran, tetapi belum tentu membuat Teheran menerima seluruh tuntutan Washington mengenai program nuklir dan kebijakan militernya.

Bessent sendiri mengakui bahwa pemerintah AS tidak mengetahui apakah tekanan tersebut akan berujung pada kesepakatan diplomatik, perubahan politik di Iran, atau perkembangan lain. Pengakuan itu memperlihatkan bahwa keberhasilan menekan ekspor minyak tidak sama dengan keberhasilan mencapai tujuan politik dan militer.

Perang yang berlangsung sejak serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 juga telah menimbulkan korban di pihak militer Amerika. Stars and Stripes melaporkan pada 10 Oktober bahwa Pentagon mencatat 21 personel AS meninggal dalam operasi terkait perang Iran dan 865 personel lainnya terluka. Angka tersebut mencakup kematian nonpertempuran dan korban dari kategori operasi yang berbeda, sehingga tidak seluruhnya dapat diartikan sebagai akibat langsung serangan pasukan Iran.

Di tengah biaya militer dan dampak ekonomi yang terus berkembang, Washington menghadapi pertanyaan mendasar: apakah tekanan terhadap perekonomian Iran akan menghasilkan perubahan kebijakan atau justru memperpanjang konflik? Hingga kini, pernyataan Bessent belum memberikan jawaban pasti atas pertanyaan tersebut

Pages: 1 2

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement