Advertisement
Internasional
Home » Aramco Diserang, IMF Peringatkan Ancaman Guncangan Ekonomi Global

Aramco Diserang, IMF Peringatkan Ancaman Guncangan Ekonomi Global

JAKARTA, UBN NEWSROOM — Jumat, 24 Rabiul Akhir 1448 H / 16 Oktober 2026 M.

BANGKOK — Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa eskalasi serangan terhadap Arab Saudi berpotensi mengguncang perekonomian global. Peringatan ini muncul setelah kelompok Houthi dari Yaman menyerang gedung administrasi di kompleks kantor pusat perusahaan minyak Saudi Aramco di Dhahran, di tengah gangguan jalur perdagangan energi internasional melalui Selat Hormuz akibat perang Iran.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menegaskan bahwa posisi Arab Saudi sebagai salah satu produsen dan eksportir minyak utama dunia membuat setiap gangguan keamanan di negara tersebut berpotensi menimbulkan dampak ekonomi lintas negara. Ancaman terhadap infrastruktur energi, transportasi, dan perdagangan dapat memperbesar tekanan terhadap perekonomian global yang telah dibebani kenaikan biaya energi.

“Dalam konteks tersebut, perkembangan ini berpotensi menimbulkan dampak negatif yang merembet kepada semua pihak, di mana pun mereka berada,” kata Georgieva dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok, Thailand, Rabu, 14 Oktober 2026.

Euronews pada Kamis, 15 Oktober 2026, melaporkan bahwa peringatan tersebut disampaikan setelah sebuah gedung administrasi di kompleks kantor pusat Saudi Aramco menjadi sasaran serangan pada Selasa malam. Insiden itu memicu kebakaran dan merusak bagian bangunan yang digunakan sejumlah pejabat perusahaan energi milik negara tersebut.

Kapal Tanker Meledak Setelah Terkena Ranjau di Selat Hormuz. Pasokan Minyak Dunia Makin Sulit

Kementerian Energi Arab Saudi mengonfirmasi serangan di kompleks kantor pusat Aramco di Dhahran, wilayah timur kerajaan. Pemerintah menyatakan kebakaran yang terjadi bersifat terbatas dan tidak menimbulkan korban meninggal dunia maupun luka-luka.

Namun, laporan Reuters pada Rabu, 14 Oktober 2026, menyebutkan bahwa kebakaran menjalar ke sejumlah lantai gedung, sementara bagian atas bangunan mengalami kerusakan berat.

Serangan tersebut menjadi perhatian internasional karena Aramco memiliki peran sentral dalam pasokan minyak dunia. Gangguan terhadap operasional perusahaan berpotensi memengaruhi stabilitas pasar energi, terutama ketika pengiriman minyak dari Timur Tengah telah menghadapi tekanan akibat konflik berkepanjangan.

KERUSAKAN GEDUNG ARAMCO MELUAS

Reuters melaporkan bahwa tiga lantai teratas gedung perkantoran Aramco mengalami kerusakan parah. Informasi itu diperoleh dari sejumlah sumber yang mengetahui kondisi fasilitas setelah serangan.

Arab Saudi Tolak Tawaran Israel untuk Melawan Houthi.

Menurut sumber Reuters, kebakaran bermula di lantai sembilan sayap selatan gedung, kemudian menyebar ke bagian lain antara lantai enam hingga lantai sepuluh. Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada plafon, jendela, dan pintu sejumlah ruangan.

Salah satu area terdampak berada di bagian gedung yang menampung kantor Direktur Utama Saudi Aramco, Amin Nasser. Akibatnya, sejumlah fasilitas perkantoran tidak dapat digunakan seperti biasa.

Meski demikian, dua sumber Reuters menyatakan bahwa kegiatan operasional di kompleks Aramco tetap berlangsung. Sebagian pegawai diminta bekerja dari rumah, sedangkan sejumlah fungsi pekerjaan dialihkan ke kantor perusahaan di luar negeri.

Kantor pusat Aramco di Dhahran merupakan salah satu pusat pengendalian operasional perusahaan. Dari kompleks tersebut, Aramco mengawasi jaringan fasilitas pengeboran minyak di darat dan lepas pantai, kilang pengolahan, terminal ekspor, serta ribuan kilometer jaringan pipa.

Serangan itu memunculkan kekhawatiran mengenai keamanan pusat pengendalian industri energi Arab Saudi. Namun, belum terdapat konfirmasi bahwa kerusakan gedung administrasi tersebut secara langsung menghentikan produksi minyak Aramco.

MUI Terbitkan Tausiyah Karhutla, Desak Penegakan Hukum dan Penguatan Gotong Royong

Associated Press (AP) pada Rabu, 14 Oktober 2026, juga melaporkan kerusakan ruang kerja sejumlah pejabat tinggi perusahaan akibat serangan di kompleks kantor pusat Aramco. Kantor berita tersebut menyebutkan tidak ada korban jiwa dalam insiden di Dhahran.

Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Insiden berlangsung ketika pertempuran antara kelompok itu dan koalisi militer pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman kembali meningkat.

HARGA MINYAK TEMBUS 106 DOLAR AS

Kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi Arab Saudi turut memengaruhi pasar minyak internasional. Harga minyak mentah Brent kembali bergerak di atas 106 dolar AS per barel pada perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026.

Reuters melaporkan Brent ditutup pada 106,06 dolar AS per barel, naik 0,35 persen. Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,01 persen menjadi 95,09 dolar AS per barel, mencapai level tertinggi dalam tiga pekan.

Kenaikan harga terjadi ketika pelaku pasar memperhitungkan risiko gangguan pasokan minyak dari Arab Saudi. Kekhawatiran tersebut semakin besar karena Iran juga meningkatkan tekanan terhadap pelayaran kapal komersial di kawasan Selat Hormuz.

Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, menilai ketidakpastian keamanan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar. Serangan terhadap fasilitas Arab Saudi dan kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz meningkatkan premi risiko geopolitik pada harga minyak.

“Kita sedang menyaksikan banyak perdagangan yang didorong rasa takut,” kata Flynn, sebagaimana dikutip Reuters pada Rabu, 14 Oktober 2026.

Meski demikian, kenaikan harga minyak tidak berarti seluruh pasokan dari negara-negara Teluk telah terhenti. Reuters mencatat ekspor minyak sejumlah produsen kawasan, di luar Iran, justru menunjukkan pemulihan pada September setelah mengalami penurunan besar akibat perang.

Namun, peningkatan volume ekspor belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran pasar. Serangan terhadap pelabuhan, fasilitas pengolahan, dan jaringan distribusi energi masih berpotensi mengganggu pengiriman minyak sewaktu-waktu.

SERANGAN HOUTHI MELUAS KE BANDARA

Ancaman terhadap perekonomian Arab Saudi tidak hanya menyasar sektor minyak. Serangan rudal dan drone terhadap fasilitas penerbangan turut mengganggu transportasi internasional serta aktivitas bisnis yang menjadi bagian dari agenda diversifikasi ekonomi kerajaan.

Associated Press pada Rabu, 14 Oktober 2026, melaporkan bahwa kelompok Houthi terus melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas penting Arab Saudi. Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh disebut menjadi salah satu sasaran yang berulang kali diserang dalam sepekan terakhir.

Menurut laporan AP, serangan terhadap fasilitas bandara tersebut telah menewaskan sedikitnya 18 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Memburuknya situasi keamanan juga menyebabkan ribuan penerbangan dibatalkan atau tidak beroperasi sesuai jadwal.

AP mengutip perusahaan analisis penerbangan Cirium yang mencatat lebih dari 3.000 penerbangan dari berbagai bandara Arab Saudi dibatalkan atau tercatat tidak beroperasi selama sepekan. Gangguan ini menggambarkan meluasnya dampak konflik terhadap mobilitas masyarakat dan kegiatan ekonomi.

Maskapai Jerman Lufthansa juga mengumumkan penangguhan penerbangan menuju Riyadh hingga 18 November 2026. Keputusan tersebut memperlihatkan bahwa risiko keamanan turut memengaruhi jaringan transportasi internasional yang menghubungkan Arab Saudi dengan Eropa.

Gangguan keamanan juga berdampak pada penyelenggaraan kegiatan internasional. Financial Times melaporkan sejumlah konferensi, kegiatan olahraga, dan acara bisnis menghadapi penundaan atau perubahan akibat meningkatnya ancaman serangan.

Salah satu kegiatan yang terdampak ialah Future Investment Initiative (FII), forum investasi internasional yang menjadi agenda penting Arab Saudi. Reuters, sebagaimana dikutip Euronews pada Kamis, 15 Oktober 2026, melaporkan bahwa pemerintah kerajaan mempertimbangkan fasilitas partisipasi daring bagi para eksekutif perusahaan yang tidak dapat hadir secara langsung.

Situasi ini menjadi tantangan bagi upaya Arab Saudi memperluas perekonomian di luar sektor minyak. Melalui program transformasi ekonomi Vision 2030, kerajaan berupaya menarik investasi internasional di sektor pariwisata, industri, teknologi, dan jasa.

IMF PROYEKSIKAN EKONOMI SAUDI MENYUSUT

Di tengah meningkatnya ancaman keamanan, IMF memperkirakan perekonomian Arab Saudi mengalami kontraksi sebesar 3,3 persen pada 2026. Proyeksi tersebut mencerminkan tekanan terhadap sektor energi dan kegiatan ekonomi akibat perang serta gangguan jalur perdagangan.

Euronews pada Kamis, 15 Oktober 2026, melaporkan bahwa IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Arab Saudi dapat kembali mencapai 7,9 persen pada 2027. Namun, pemulihan tersebut bergantung pada sejumlah asumsi, termasuk berakhirnya gangguan perdagangan dan membaiknya situasi keamanan regional.

Proyeksi yang diterbitkan IMF pada Selasa, 13 Oktober 2026, disusun sebelum serangan mematikan terhadap Bandara Riyadh pada Sabtu sebelumnya. Karena itu, dampak terbaru dari eskalasi konflik belum sepenuhnya tercermin dalam perhitungan tersebut.

Salah satu asumsi utama IMF adalah pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz secara bertahap mulai Maret 2027. Lalu lintas kapal melalui jalur strategis itu diperkirakan kembali mencapai kondisi sebelum perang pada Oktober 2027.

Dengan demikian, prospek pemulihan ekonomi Arab Saudi sangat bergantung pada perkembangan keamanan kawasan. Jika gangguan pelayaran berlangsung lebih lama, realisasi pertumbuhan ekonomi dapat berbeda dari proyeksi IMF.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menghubungkan kawasan penghasil minyak dan gas di Teluk dengan pasar energi internasional. Gangguan terhadap jalur ini meningkatkan biaya pengiriman, memperbesar risiko transportasi, dan membatasi kemampuan negara produsen memenuhi kebutuhan energi dunia.

Arab Saudi memiliki jalur alternatif melalui jaringan pipa East-West yang menghubungkan kawasan produksi minyak dengan Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Infrastruktur ini memungkinkan sebagian ekspor minyak dialihkan tanpa melewati Selat Hormuz.

Menurut IMF, keberadaan jaringan pipa alternatif membantu Arab Saudi mengurangi dampak ekonomi perang dibandingkan sejumlah negara tetangganya. Meski demikian, jalur tersebut tidak sepenuhnya menghilangkan risiko apabila konflik meluas ke infrastruktur distribusi energi lainnya.

Investigasi Reuters yang diterbitkan Kamis, 15 Oktober 2026, menunjukkan bahwa serangan Iran dan kelompok-kelompok yang bersekutu dengannya telah menyasar berbagai fasilitas strategis di kawasan Teluk. Reuters mengidentifikasi sedikitnya 135 serangan rudal dan drone terhadap 84 lokasi infrastruktur sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026.

Sasaran serangan mencakup fasilitas minyak, terminal pelabuhan, jaringan pipa, bandar udara, dan instalasi pengolahan gas. Kerusakan pada sejumlah fasilitas menyebabkan gangguan operasional yang berpotensi membutuhkan waktu dan biaya besar untuk pemulihan.

Pages: 1 2

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement