Olahraga
Home » LAMINE YAMAL SUJUD USAI GOL DEBUT PIALA DUNIA

LAMINE YAMAL SUJUD USAI GOL DEBUT PIALA DUNIA

JAKARTA, UBN NEWSROOM — Lamine Yamal melakukan sujud syukur setelah mencetak gol Piala Dunia pertamanya bersama Timnas Spanyol saat menghadapi Arab Saudi pada 22 Juni 2026 dalam pertandingan kedua fase grup Piala Dunia 2026. Berdasarkan media monitoring Tim UBN Newsroom, selebrasi sujud itu menjadi salah satu momen syiar Islam yang kembali terlihat di panggung sepak bola dunia.

Yamal mencetak gol penting bagi Spanyol, lalu merayakannya dengan sujud di lapangan. Momen ini langsung menarik perhatian karena dilakukan oleh salah satu pemain muda paling disorot di Piala Dunia 2026. Bagi publik Muslim, sujud tersebut bukan sekadar selebrasi. Ia menjadi simbol syukur seorang pemain kepada Allah setelah mendapatkan nikmat besar berupa gol pertama di ajang Piala Dunia.

Sebelumya Viral Kibarkan Bendera Palestina

Sebelum momen sujud syukur di Piala Dunia, Lamine Yamal juga pernah viral saat mengibarkan bendera Palestina dalam konvoi perayaan gelar La Liga Barcelona. Saat itu, Barcelona sedang merayakan keberhasilan mereka menjadi juara La Liga. Di tengah parade terbuka bersama para pemain Barcelona, Yamal terlihat membawa dan mengibarkan bendera Palestina.

Gestur itu dibaca banyak pihak sebagai bentuk solidaritas kepada rakyat Palestina. Kini, Yamal kembali menjadi sorotan melalui sujud syukur setelah mencetak gol debutnya di Piala Dunia. Jika bendera Palestina menunjukkan keberpihakan moral, maka sujud syukur menunjukkan pengakuan tauhid. Dua momen ini memperlihatkan bagaimana seorang pemain muda Muslim bisa menunjukkan nilai Islam secara sederhana, tetapi kuat, di ruang publik global.

Profil Singkat Lamine Yamal

Lamine Yamal lahir pada 13 Juli 2007. Pada tahun 2026 ini, ia masih berusia 18 tahun dan baru akan menginjak 19 tahun pada bulan Juli mendatang. Yamal lahir di Esplugues de Llobregat, wilayah Catalunya, Spanyol. Ia tumbuh besar di Spanyol dan memilih membela Timnas Spanyol di level internasional.

Indonesia Kembali Gagal di Piala AFF 2026

Yamal memiliki darah campuran dari dua negara Afrika. Ayahnya, Mounir Nasraoui, berasal dari Maroko. Ibunya, Sheila Ebana, berasal dari Guinea Khatulistiwa. Latar belakang ini membuat Yamal menjadi figur menarik: lahir dan besar di Eropa, membela Timnas Spanyol, bersinar bersama Barcelona, tetapi tetap memiliki akar keluarga Muslim dari Maroko. Di usia yang masih sangat muda, Yamal telah tampil di panggung sepak bola dunia dan menunjukkan bahwa identitas Islam dapat hadir dalam perjalanan seorang atlet modern.

FOTO: Media Monitoring Tim UBN Newsroom
Aksi Lamine Yamal saat mengolah si kulit bundar. Pemain keturunan Maroko dan Guinea Khatulistiwa ini dinilai membawa warna baru dalam syiar Islam modern di dunia olahraga.

Perspektif UBN: Syiar Islam Tidak Harus Menunggu Usia Tua

UBN melihat momen Lamine Yamal sebagai pesan penting bagi anak muda Muslim. Syiar Islam tidak harus menunggu seseorang menjadi tua, menjadi ustadz, atau berdiri di mimbar. Di usia 18 tahun, Yamal menunjukkan bahwa anak muda Muslim bisa menghadirkan nilai Islam melalui prestasi dan sikap sederhana. Satu sujud setelah gol menjadi pesan bahwa keberhasilan bukan hanya hasil bakat, latihan, dan strategi, tetapi juga nikmat dari Allah SWT. Di tengah dunia yang sering memuja pemain sebagai bintang, sujud mengingatkan bahwa manusia tetap hamba.

Semangat Yamal di usia muda mengingatkan umat bahwa sejarah Islam banyak digerakkan oleh anak-anak muda yang memiliki iman, keberanian, dan visi besar. Muhammad Al-Fatih masih sangat muda ketika menaklukkan Konstantinopel. Tentu Yamal tidak sedang dibandingkan dalam konteks penaklukan wilayah. Namun ada pelajaran yang bisa diambil: anak muda Muslim tidak boleh kecil cita-cita dan tidak boleh malu membawa identitas Islam di panggung besar. Yamal menunjukkan bahwa usia muda bukan alasan untuk minder. Jika Allah memberi panggung, maka panggung itu bisa menjadi tempat untuk bersyukur, membawa nilai, dan menunjukkan Islam dengan cara yang bermartabat.

FOTO: Media Monitoring Tim UBN Newsroom
Penampilan impresif Lamine Yamal bersama skuad Spanyol yang sukses mencuri perhatian publik global di usia yang baru menginjak 18 tahun.

Tauhid Berawal dari Rumah dan Syiar Modern

Momen sujud Yamal juga mengingatkan pentingnya pendidikan tauhid dari keluarga. Seorang anak tidak tiba-tiba berani bersujud di depan kamera dunia jika tidak ada bekal iman dan kesadaran bahwa prestasi adalah titipan Allah. Akar keluarga Maroko dari ayahnya juga menjadi bagian penting untuk dibaca. Maroko adalah negeri Muslim dengan tradisi Islam yang kuat. Akar keluarga seperti ini dapat menjadi penjaga identitas di tengah kehidupan Eropa yang modern. Dari sini, keluarga Muslim dapat mengambil pelajaran: anak boleh tumbuh di lingkungan modern, sekolah di tempat terbaik, masuk dunia olahraga, bisnis, sains, media, atau teknologi, tetapi rumah harus tetap menanamkan tauhid. Agar saat anak tampil di panggung dunia, ia tahu kepada siapa harus bersyukur.

FOTO: Media Monitoring Tim UBN Newsroom
Bintang muda Timnas Spanyol, Lamine Yamal, melakukan aksi sujud syukur di tengah lapangan usai mencetak gol debutnya di Piala Dunia 2026.

UBN menegaskan bahwa syiar Islam hari ini tidak hanya hadir melalui ceramah. Syiar bisa hadir dalam satu sujud. Dalam satu bendera Palestina. Dalam satu sikap adab. Dalam satu keberanian untuk menunjukkan iman. Allah SWT berfirman:

Persebaya Juara Piala Presiden 2026 Usai Taklukkan Persib Lewat Adu Penalti

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata: sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim?”

(QS Fussilat: 33)

Ayat ini mengajarkan bahwa identitas Islam bukan sesuatu yang perlu disembunyikan. Ia harus dijaga dengan amal saleh, diperindah dengan akhlak, dan ditampilkan dengan adab.

Penutup

Sujud syukur Lamine Yamal setelah mencetak gol Piala Dunia pertamanya bersama Timnas Spanyol menjadi salah satu momen syiar Islam yang kuat di Piala Dunia 2026. Sebelumnya, Yamal juga pernah menjadi perhatian saat mengibarkan bendera Palestina dalam konvoi juara La Liga Barcelona. Dua momen ini menunjukkan bahwa syiar Islam dapat hadir di ruang modern dengan cara yang sederhana, singkat, tetapi bermakna.

Lebih Pilih Salat Jumat ketimbang Trofi, Pelatih Senegal Pape Thiaw Viral di Piala Dunia 2026

Bagi anak muda Muslim, pesan ini jelas: Jangan malu menjadi Muslim. Jangan malu bersyukur kepada Allah. Jangan malu membawa nilai Islam ke panggung prestasi. Jangan malu membela Palestina. Karena kadang syiar Islam hadir bukan dalam pidato panjang, tetapi dalam satu sujud yang mengingatkan dunia bahwa segala kemenangan tetap milik Allah.

UBN NEWSROOM

Senin, 22 Juni 2026 | 7 Muharram 1448 H

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *