Agama Uncategorized
Home » MENUTUP DZULHIJJAH, MENYAMBUT MUHARRAM: INDONESIA BUTUH ARAH PERADABAN

MENUTUP DZULHIJJAH, MENYAMBUT MUHARRAM: INDONESIA BUTUH ARAH PERADABAN

JAKARTA, UBN NEWSROOM — Menjelang pergantian tahun Hijriah menuju 1 Muharram 1448 H, Indonesia memasuki fase sosial, ekonomi, dan politik yang tidak ringan.

Dalam sebulan terakhir, berbagai peristiwa besar datang bertubi-tubi. Dari tekanan ekonomi, kenaikan harga energi, pelemahan rupiah, polemik program makan bergizi gratis, pengesahan UU Polri, aksi mahasiswa, hingga dinamika geopolitik global yang berdampak langsung pada kehidupan rakyat.

Di saat yang sama, dunia Islam juga masih menghadapi luka besar: Gaza belum benar-benar aman, Palestina belum merdeka, normalisasi dengan Israel terus didorong, dan peta geopolitik Timur Tengah bergerak cepat di antara perang, negosiasi, dan kepentingan negara-negara besar.

Semua peristiwa ini menunjukkan satu hal: Pembangunan di Indonesia tidak cukup hanya fisik. Indonesia membutuhkan arah peradaban.

Sebab sebuah bangsa tidak hanya runtuh karena ekonominya lemah. Bangsa juga bisa runtuh ketika akhlaknya rapuh, keluarganya hancur, hukumnya tidak adil, pejabatnya tidak amanah, medianya kehilangan arah, dan rakyatnya kehilangan harapan.

Lukman Hakim Saifuddin: Muktamar NU Harus Jaga Izzah, Hindari Politik Uang dan Voting

SEBULAN TERAKHIR: DARI EKONOMI, HUKUM, GAZA, HINGGA KRISIS KEPERCAYAAN

Dalam beberapa pekan terakhir, UBN Newsroom mencatat sejumlah isu besar yang menjadi perhatian publik.

  • Pertama, tekanan ekonomi semakin terasa.Rupiah sempat menjadi sorotan karena pelemahan tajam terhadap dolar AS. Harga minyak dunia naik akibat ketegangan geopolitik, terutama konflik Amerika Serikat dan Iran. Dampaknya kemudian terasa pada harga BBM non-subsidi, termasuk Pertamax dan Pertamax Green, yang mengalami kenaikan signifikan. Kenaikan BBM bukan hanya soal kendaraan pribadi. Ia berdampak pada logistik, distribution pangan, biaya hidup, dan daya beli rakyat. Di titik ini, publik kembali melihat betapa rentannya Indonesia ketika masih bergantung pada impor energi dan pasar global.
  • Kedua, Program Makan Bergizi Gratis atau MBG berubah menjadi salah satu isu paling sensitif.Program yang seharusnya menjadi simbol kasih negara kepada anak-anak justru terseret dugaan korupsi tata kelola, pengadaan barang, konflik kepentingan, dan persoalan keamanan pangan. Publik tidak hanya mempertanyakan berapa kerugian negaranya. Publik juga mulai bertanya: Berapa banyak kalori anak yang hilang? Berapa banyak protein yang gagal masuk ke tubuh anak-anak? Berapa banyak amanah yang dikhianati? Dan berapa besar kepercayaan rakyat yang rusak?
  • Ketiga, pengesahan UU Polri menimbulkan perdebatan besar.Negara memang membutuhkan aparat yang kuat untuk menghadapi kejahatan modern, termasuk judi online, narkoba, kejahatan siber, dan ancaman lintas negara. Namun masyarakat sipil juga mengingatkan bahwa kewenangan besar harus diimbangi pengawasan besar. Sebab dalam negara hukum, kekuasaan yang tidak diawasi dapat berubah menjadi sumber ketakutan.
  • Keempat, mahasiswa kembali turun ke jalan.Aksi BEM UI dan elemen mahasiswa lainnya menunjukkan bahwa keresahan publik tidak hanya hidup di media sosial, tetapi juga mulai bergerak ke ruang jalanan. Mahasiswa membawa isu pemborosan APBN, harga kebutuhan pokok dan BBM, polemik MBG, militerisme sipil, serta desakan agar pemerintah lebih jujur mengakui kesalahan. Aksi mahasiswa adalah alarm sosial. Ia tidak boleh langsung dipandang sebagai gangguan. Ia harus dibaca sebagai tanda bahwa ada kegelisahan yang perlu didengar.
  • Kelima, isu Palestina dan Gaza tetap menjadi luka dunia Islam.Gencatan senjata belum benar-benar menghentikan penderitaan. Serangan masih terjadi. Korban sipil masih jatuh. Rumah masih dihancurkan. Blokade belum selesai. Dan di tengah situasi itu, wacana normalisasi Israel dengan negara-negara Muslim terus didorong, termasuk melalui narasi Abraham Accords. Bahkan sebuah media Israel sempat menerbitkan artikel yang mendorong Indonesia masuk dalam orbit normalisasi hubungan dengan Israel. Bagi UBN Newsroom, ini bukan sekadar opini luar negeri. Ini adalah alarm geopolitik. Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia tidak boleh kehilangan posisi moralnya terhadap Palestina.
  • Keenam, dunia juga bergerak dalam ketidakpastian.Ketegangan AS-Iran mengguncang pasar energi, Selat Hormuz menjadi perhatian global, dan setiap pernyataan pemimpin dunia dapat memengaruhi harga minyak, nilai tukar, serta tekanan ekonomi di negara-negara berkembang. Namun belakangan muncul sinyal bahwa AS dan Iran semakin dekat dengan kesepakatan damai. Jika benar terjadi, ini bisa menjadi kabar baik bagi Indonesia karena tekanan energi global berpotensi mereda. Tetapi sekali lagi, dunia hari ini mengajarkan bahwa bangsa yang terlalu bergantung pada luar akan selalu mudah terguncang oleh keputusan negara lain.

MASALAH BUKAN HANYA KEBIJAKAN, TAPI ARAH

Jika semua peristiwa di atas dibaca satu per satu, mungkin terlihat seperti berita yang terpisah. Rupiah adalah isu ekonomi. MBG adalah isu korupsi. UU Polri adalah isu hukum. Aksi mahasiswa adalah isu demokrasi. Gaza adalah isu internasional. BBM adalah isu energi.

Namun jika dibaca lebih dalam, semuanya terhubung pada satu pertanyaan besar: Ke mana arah bangsa ini?

  • Apakah pembangunan kita hanya mengejar angka, tetapi lupa manusia?
  • Apakah negara hanya sibuk membuat program besar, tetapi lemah dalam amanah?
  • Apakah hukum hanya tajam ke bawah, tetapi lambat kepada jaringan besar?
  • Apakah media hanya mengejar viral, tetapi lupa mendidik jiwa bangsa?
  • Apakah keluarga hanya menjadi tempat tinggal, tetapi bukan lagi madrasah akhlak?
  • Apakah agama hanya hadir dalam simbol, tetapi belum menjadi sistem nilai dalam ekonomi, politik, pendidikan, media, dan kehidupan sosial?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting menjelang 1 Muharram. Karena tahun baru Hijriah bukan sekadar pergantian kalender. Ia adalah momentum hijrah. Hijrah dari kekacauan menuju keteraturan. Hijrah dari kelalaian menuju kesadaran. Hijrah dari krisis moral menuju peradaban.

PERSPEKTIF UBN NEWSROOM

Indonesia Membutuhkan Peradaban Islam yang Mencerahkan

UBN Newsroom menilai bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat peradaban Islam modern. Bukan peradaban yang keras. Bukan peradaban yang sempit. Bukan peradaban yang hanya sibuk dengan simbol. Tetapi peradaban Islam yang mencerahkan, adil, berilmu, berakhlak, produktif, dan mampu menjawab tantangan zaman.

Bupati Aceh Besar Harap Masjid Ibnu Abu Bakar Jadi Pusat Pembinaan Umat

Indonesia memiliki modal besar. Jumlah umat Islam sangat besar. Tradisi keilmuan Islam kuat. Pesantren hidup di berbagai daerah. Masjid tersebar sampai pelosok. Komunitas dakwah tumbuh. Keluarga Muslim masih menjadi basis sosial yang penting. Dan masyarakat Indonesia masih memiliki hati yang mudah tersentuh oleh nilai agama, kemanusiaan, dan keadilan.

Namun modal besar ini harus diarahkan. Jika tidak, umat hanya menjadi mayoritas jumlah, tetapi minoritas pengaruh. Banyak secara demografi, tetapi lemah secara sistem. Ramai dalam ibadah, tetapi belum kuat dalam ekonomi. Penuh semangat dalam aksi, tetapi belum kokoh dalam strategi peradaban. Karena itu, Indonesia membutuhkan kebangkitan peradaban Islam yang dimulai dari ilmu, akhlak, keluarga, media, ekonomi, pendidikan, dan kepemimpinan.

Peradaban Tidak Dimulai dari Negara, Tapi dari Keluarga

Sering kali orang berbicara tentang peradaban seolah-olah ia hanya urusan negara besar, gedung tinggi, teknologi canggih, atau kekuatan militer. Padahal dalam Islam, peradaban dimulai dari manusia. Dan manusia pertama kali dibentuk di dalam keluarga.

Keluarga adalah madrasah pertama. Rumah adalah sekolah iman pertama. Ayah dan ibu adalah guru peradaban pertama. Anak-anak adalah generasi yang akan mewarisi arah bangsa.

Jika keluarga kuat, masyarakat punya fondasi. Jika keluarga rapuh, negara akan menanggung kerusakannya dalam bentuk kenakalan remaja, narkoba, judi online, pornografi, kekerasan, perceraian, krisis identitas, dan hilangnya adab.

MUI DKI Jakarta Ingatkan Bahaya Hoaks, Tekankan Pentingnya Tabayyun di Era AI

Karena itu, membangun peradaban Islam tidak bisa dimulai hanya dari mimbar besar. Ia harus dimulai dari meja makan. Dari cara orang tua berbicara kepada anak. Dari cara ayah memimpin rumah. Dari cara ibu menanamkan iman. Dari cara keluarga menggunakan gawai. Dari cara rumah menghidupkan Al-Qur’an. Dari cara anak mengenal Allah sebelum mengenal dunia. Jika rumah-rumah Muslim hidup dengan iman, ilmu, akhlak, dan kasih sayang, maka bangsa ini memiliki harapan besar.

Al-Qur’an Harus Menjadi Operating System Kehidupan

Peradaban Islam tidak mungkin lahir jika Al-Qur’an hanya dibaca pada acara seremonial, tetapi tidak dijadikan panduan hidup. Al-Qur’an bukan sekadar bacaan. Ia adalah petunjuk. Ia adalah furqan, pembeda antara benar dan salah. Ia adalah cahaya. Ia adalah sistem nilai. Ia adalah peta kehidupan.

Allah SWT berfirman:

$$\text{إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ}$$

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.” (QS Al-Isra: 9)

Ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan hanya membimbing ibadah pribadi. Ia membimbing cara berpikir. Cara berkeluarga. Cara berdagang. Cara memimpin. Cara mengelola negara. Cara bermedia. Cara menghadapi krisis. Cara membangun peradaban.

Karena itu, umat Islam Indonesia harus naik kelas. Dari sekadar membaca Al-Qur’an menjadi memahami. Dari memahami menjadi mengamalkan. Dari mengamalkan menjadi menjadikannya sebagai sistem kehidupan.

Ekonomi Butuh Amanah, Politik Butuh Adab, Media Butuh Misi

Krisis yang kita saksikan hari ini menunjukkan bahwa setiap sektor membutuhkan nilai Islam.

  • Ekonomi tanpa amanah akan melahirkan korupsi.
  • Politik tanpa adab akan melahirkan perebutan kekuasaan yang kasar.
  • Media tanpa misi akan menjadi mesin sensasi.
  • Pendidikan tanpa ruh akan melahirkan manusia cerdas tetapi kehilangan arah.
  • Teknologi tanpa akhlak akan menjadi alat kerusakan.
  • Dan keluarga tanpa iman akan mudah runtuh oleh tekanan zaman.

Maka peradaban Islam bukan sekadar soal membangun masjid. Peradaban Islam berarti menghadirkan nilai Allah dalam seluruh ruang kehidupan. Di pasar. Di sekolah. Di kantor. Di keluarga. Di media. Di parlemen. Di ruang digital. Di dapur rakyat. Di meja kebijakan. Dan di hati manusia.

Muharram Harus Menjadi Momentum Hijrah Nasional

Menjelang 1 Muharram, umat Islam perlu menjadikan momentum ini bukan hanya sebagai peringatan kalender. Muharram harus menjadi momentum hijrah nasional.

Hijrah dari pemborosan menuju amanah. Hijrah dari korupsi menuju kejujuran. Hijrah dari kebijakan yang elitis menuju kebijakan yang melindungi rakyat. Hijrah dari keluarga yang jauh dari Al-Qur’an menuju rumah yang hidup dengan iman. Hijrah dari media yang hanya mengejar sensasi menuju media yang mencerdaskan umat. Hijrah dari umat yang reaktif menuju umat yang strategis. Hijrah dari mayoritas yang mudah diarahkan menuju umat yang mampu memberi arah.

Indonesia tidak kekurangan umat Islam. Yang dibutuhkan adalah umat Islam yang sadar misi. Umat yang memahami zaman. Umat yang mencintai ilmu. Umat yang membangun keluarga. Umat yang menjaga moral publik. Umat yang kuat secara ekonomi. Umat yang berani membela keadilan. Dan umat yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat orientasi hidup.

Jangan Putus Asa: Krisis Bisa Menjadi Pintu Kebangkitan

Berita-berita berat sebulan terakhir mungkin membuat rakyat lelah. Namun dalam pandangan iman, krisis bukan akhir. Krisis bisa menjadi panggilan. Panggilan untuk bangun. Panggilan untuk memperbaiki diri. Panggilan untuk menyusun ulang arah bangsa.

Allah SWT berfirman:

$$\text{فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا}$$

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS Al-Insyirah: 5–6)

Ayat ini bukan hanya penghibur. Ia adalah janji. Bahwa kesulitan tidak pernah datang sendirian. Selalu ada peluang kemudahan bagi mereka yang beriman, bersabar, dan berikhtiar.

Karena itu, umat tidak boleh tenggelam dalam pesimisme. Kita harus membaca krisis sebagai panggilan hijrah. Dari keluhan menuju gerakan. Dari marah menuju perbaikan. Dari putus asa menuju kerja peradaban.

PENUTUP

Menutup Dzulhijjah dan menyambut Muharram, Indonesia sedang berada di persimpangan. Kita melihat tekanan ekonomi. Kita melihat krisis amanah. Kita melihat keresahan mahasiswa. Kita melihat luka Palestina. Kita melihat ketidakpastian dunia.

Tetapi kita juga melihat peluang. Peluang untuk kembali kepada Allah. Peluang untuk memperbaiki keluarga. Peluang untuk membangun generasi. Peluang untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat kehidupan. Peluang untuk menghadirkan Islam sebagai rahmat, ilmu, akhlak, keadilan, dan arah peradaban.

Karena masa depan Indonesia tidak cukup dibangun dengan proyek besar. Ia harus dibangun dengan manusia besar. Manusia yang beriman. Keluarga yang kuat. Pemimpin yang amanah. Media yang mencerahkan. Ekonomi yang adil. Dan umat yang sadar bahwa hidup ini bukan sekadar bertahan, tetapi membawa misi.

Semoga 1 Muharram menjadi awal hijrah baru bagi bangsa ini. Hijrah menuju Indonesia yang lebih beriman, lebih beradab, lebih adil, lebih kuat, dan lebih siap menjadi bagian penting dari kebangkitan peradaban Islam dunia.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *