
JAKARTA — Sejumlah jurnalis Muslim dari berbagai media cetak dan elektronik sepakat untuk berhimpun dalam organisasi baru bernama Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (SAJID) di Jakarta, Ahad (14/6/2026). Dalam pertemuan tersebut, mereka juga secara aklamasi meminta kesediaan Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) untuk memimpin organisasi ini sebagai Ketua Umum.
Sebelum SAJID resmi terbentuk, para jurnalis Muslim telah melakukan serangkaian diskusi rutin setiap Jumat subuh di AQL Center, Tebet, Jakarta Selatan. Sosok UBN dipilih karena dinilai sebagai tokoh Islam berpengaruh yang memiliki kepakaran serta jaringan luas di dunia Islam. Saat ini, UBN juga menjabat sebagai Ketua Umum Jaringan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI).
Menanggapi permintaan tersebut, UBN menyatakan kesediaannya. Ia berharap SAJID dapat menjadi wadah nyata untuk memperjuangkan kepentingan umat Islam, terutama di tingkat internasional.
“Bagaimana kita membuat narasi yang kita suarakan secara bersama-sama dan mampu membentuk opini publik,” ujar UBN.
UBN menilai, selama ini narasi-narasi yang dibuat oleh jurnalis Muslim dalam memperjuangkan kepentingan umat kurang bergaung. Salah satu penyebab utamanya adalah karena bergerak sendiri-sendiri tanpa adanya orkestrasi yang memandu.
“Kita seolah-olah jalan sendiri-sendiri,” tambahnya. Oleh karena itu, ia berharap kehadiran SAJID dapat bertindak sebagai ‘dirigen’ dalam sebuah bangunan orkestrasi narasi yang menarik.
Tantangan Pemanfaatan AI di Dunia Jurnalistik
Sebelum peresmian SAJID, mantan Ketua Egyptian Radio and Television Union (ERTU), Prof. Dr. Sami Muhammad Rabi’ Asy-Syarif, turut hadir memberikan paparan. Menjawab pertanyaan forum mengenai adaptasi teknologi, Prof. Sami mengungkapkan bahwa jurnalis di Mesir pun masih mengalami kegagapan dalam memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk penulisan berita.
Hal ini terjadi karena banyak jurnalis yang belum menguasai teknologi tersebut dengan baik, ditambah dengan akselerasi perkembangan AI di bidang informasi yang melesat jauh melampaui kemampuan adopsi para jurnalis.
“Saya kira bukan saja di Mesir, tetapi di sejumlah negara, termasuk negara maju juga mengalaminya,” ujar Prof. Sami, yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi (Mass Communication) sekaligus Wakil Ketua Asosiasi Fakultas-Fakultas Media Universitas Arab.
Meskipun teknologi AI sangat pintar dan cepat dalam memproduksi berita, Prof. Sami menegaskan bahwa kendali penuh harus tetap berada di tangan jurnalis.
“Jurnalislah yang menentukan ini layak tayang atau tidak. Bisa jadi informasi yang diberikan AI itu benar, akurat, dan sesuai fakta, tapi jurnalis bisa mempertimbangkan dampak atau efek dari pemberitaan itu. Sebagai jurnalis Muslim, pertimbangan pertama adalah apakah informasi ini bermanfaat untuk umat atau tidak?” tegas pakar Komunikasi Islam tersebut.
Konten AI dan Tanggung Jawab Moral
Lebih jauh, Prof. Sami meyakinkan bahwa laju teknologi AI tidak bisa dihambat atau dihentikan. Sebagai contoh ekstrem, sebuah media di Mesir pernah menurunkan artikel hasil kecerdasan AI tentang wacana menunaikan ibadah haji secara virtual—di mana jemaah tidak perlu berdesakan di Ka’bah, Arafah, Mina, atau Madinah, melainkan cukup duduk di rumah.
“Ini sempat menjadi perdebatan. Walaupun dibantah secara syariah bahwa ini tidak sah, tetapi pemikiran tentang ini ada di ruang media hasil kecerdasan AI. Nah, sebagai jurnalis, yang pertama kali kita pertimbangkan adalah apakah pemberitaan atau perdebatan ini bermanfaat untuk umat atau tidak? Di sinilah letak tanggung jawab jurnalis Muslim,” papar Prof. Sami yang selama di Jakarta juga melakukan safari akademik ke sejumlah perguruan tinggi.
Diskusi yang dipandu langsung oleh UBN ini berlangsung interaktif dan memicu antusiasme tinggi dari para jurnalis yang berebut mengajukan pertanyaan.
Di akhir sesi, Prof. Sami membuka peluang kerja sama konkret dengan SAJID, mulai dari program pelatihan berkala hingga kunjungan ke berbagai negara Muslim. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan jurnalis Muslim dalam menguasai teknologi informasi berbasis AI sekaligus memperluas jaringan global.

Comment