Namun perlambatan di front Iran tidak berarti kawasan sedang menuju tenang. Sebaliknya, di sisi lain, konflik Lebanon-Israel kembali menunjukkan bahwa gencatan senjata di Timur Tengah sering kali hanya menjadi jeda yang rapuh, bukan komitmen yang sungguh-sungguh dijaga. Setelah adanya perjanjian gencatan senjata 10 hari sejak 17 April 2026, situasi justru kembali memanas. Per 21 April, laporan Al Jazeera menyebut Israel mengirimkan serangan udara melalui pesawat tanpa awak ke Bekaa Valley, Lebanon, yang menewaskan 1 orang dan melukai 2 orang. Melihat serangan ini, Hezbollah bereaksi dengan mengirimkan serangan roket kepada Israel. Tetapi setelah dibalas, Israel justru menuntut Hezbollah atas pelanggaran gencatan senjata.
Di sinilah watak politik Israel kembali terlihat sangat telanjang. Ketika Israel menyerang lebih dulu, ia dapat membungkus tindakannya dengan istilah “antisipasi”. Tetapi ketika serangan itu dibalas, ia segera mengadopsi bahasa korban: seolah-olah pihak lainlah yang lebih dulu merusak ketenangan. Pola ini bukan hal baru. Yang berulang bukan hanya serangannya, melainkan juga cara membingkai serangan itu. Israel tampak sangat terbiasa memulai tekanan, lalu menuduh pihak yang membalas sebagai sumber kekacauan.
Karena itu, persoalan kawasan hari ini bukan hanya soal perang, tetapi juga soal krisis kredibilitas. Jika suatu pihak dapat terus mengklaim diri sebagai penjaga keamanan sambil berulang kali memukul lebih dulu, maka pertanyaan yang harus diajukan bukan lagi siapa yang paling keras berbicara tentang damai, tetapi siapa yang paling bisa dipegang janjinya. Dalam konteks ini, Israel makin sulit dipercaya. Ucapannya tentang gencatan senjata, stabilitas, dan keamanan terlalu sering runtuh di lapangan begitu ia merasa masih punya ruang untuk menekan lawan.

Comment