Internasional

Perang Hari ke-54: Washington dan Tel Aviv Kian Sulit Dipercaya

Table of Contents
EDITORIAL | UBN Newsroom

Perspektif UBN: Wajah Halus Pengkhianatan di Balik Diplomasi

Ada beberapa hal yang patut dibaca secara lebih dalam.

Pertama, konflik AS-Iran dan konflik Israel-Lebanon tidak bisa dibaca sebagai dua panggung yang sepenuhnya terpisah. Keduanya saling memantulkan watak politik yang sama: menahan diplomasi dengan satu tangan, sambil mempertahankan alat tekanan dengan tangan yang lain. Amerika melanjutkan gencatan senjata tetapi tetap memegang blokade Hormuz. Israel berada dalam situasi ceasefire tetapi tetap melakukan serangan drone ke Lebanon. Dalam dua kasus ini, yang dipertontonkan bukan komitmen damai, melainkan manajemen tekanan.

« “Perundingan kehilangan kehormatannya ketika ia dipakai bukan untuk menghentikan kezaliman, tetapi untuk menata ulang tekanan.” »

“Dan jika engkau khawatir akan pengkhianatan dari suatu kaum, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur.”

(QS. Al-Anfal 8:58)

Ketika perundingan dipakai untuk menata ulang tekanan, maka ia bukan lagi jalan damai, melainkan wajah halus dari pengkhianatan.

Kedua, Israel dan Amerika makin terlihat sebagai dua wajah dari metode yang serupa. Yang satu memainkan blokade sebagai alat tawar, yang satu memainkan serangan terbatas sebagai alat kontrol. Yang satu menunda kemajuan negosiasi dengan menjaga tekanan ekonomi dan strategis, yang satu merusak makna gencatan senjata dengan tetap menyerang sambil menyebutnya langkah keamanan. Karena itu, publik kawasan wajar bertanya: bila pola seperti ini terus berulang, apakah Israel dan Amerika masih bisa dipercaya ketika mereka berbicara tentang solusi, stabilitas, dan keamanan bersama? Gencatan senjata yang terus dilukai oleh serangan adalah bukti bahwa lidah sedang berbicara damai, tetapi tangan masih setia kepada permusuhan.

Saudi, Turkiye, Pakistan Tandatangani Pakta Pertahanan Makkah, Apa Itu?

Salah satu tanda nifaq adalah bila kata-kata menjadi topeng, sementara perbuatan justru membongkar isi hati.

“Tanda orang munafik ada tiga: bila berbicara ia berdusta, bila berjanji ia mengingkari, dan bila dipercaya ia berkhianat.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, semua ini juga relevan untuk membaca janji-janji besar semacam BOP yang dibawa Amerika. Gagasannya mungkin terdengar menarik di atas kertas. Bahasanya bisa terdengar modern, menjanjikan, dan seolah membuka ruang masa depan yang lebih stabil. Tetapi jika dalam implementasi lapangan yang muncul justru blokade, tekanan sepihak, standar ganda, dan negosiasi yang terus alot, maka publik berhak curiga bahwa sebagian besar proyek semacam itu lebih dekat kepada instrumen kontrol daripada tawaran perdamaian yang jujur. Dari sinilah audiens perlu diajak berpikir: apakah yang sedang dibangun sungguh-sungguh arsitektur damai, atau hanya bentuk lain dari dominasi yang dibungkus dengan bahasa yang lebih halus?

« Siapa yang menjadikan akad sebagai siasat untuk menipu, maka ia telah merobohkan makna amanah sebelum merobohkan isi perjanjiannya. Sesungguhnya tidak ada maslahat dalam diplomasi yang menunda darah hari ini untuk menumpahkannya lebih besar esok hari. »

Keempat, pola playing victim yang ditunjukkan Israel tidak boleh dianggap sepele. Ini bukan sekadar soal komunikasi, melainkan soal strategi legitimasi. Pihak yang menyerang lebih dulu, lalu dengan cepat memposisikan diri sebagai korban ketika diserang balik, sedang berusaha menguasai narasi internasional. Tujuannya jelas: mempertahankan hak menyerang tanpa kehilangan simpati global. Bila pola ini terus dibiarkan, maka hukum, gencatan senjata, dan diplomasi akan selalu tunduk pada siapa yang paling piawai membalikkan cerita.

Bila janji terus bertabrakan dengan tindakan, gencatan senjata terus dilubangi oleh serangan, dan diplomasi terus dipasangi ultimatum, maka masalahnya bukan lagi kurangnya perundingan, tetapi hilangnya amanah dan matinya kejujuran.

Pandangan Dr. Yasir Qadhi: Pemakaman Massal di Gaza dan Kekalahan AIPAC Dinilai Jadi Titik Balik Opini Publik Amerika

Kelima, lambatnya perkembangan perang AS-Iran menunjukkan satu hal lain yang mengkhawatirkan: konflik ini tidak benar-benar menuju penyelesaian, melainkan menuju normalisasi krisis. Ketika perang berlangsung lama tanpa keputusan, blokade terus ada, korban terus bertambah, dan jalur diplomasi tetap tersendat, dunia perlahan dipaksa menerima keadaan abnormal sebagai sesuatu yang normal. Ini sangat berbahaya. Sebab perang yang berkepanjangan sering kali tidak meledak setiap hari, tetapi diam-diam membentuk tatanan baru yang lebih keras, lebih sinis, dan lebih sulit dipulihkan.

Penutup Editorial

Perang hari ke-54 ini memberi satu pelajaran yang makin terang: krisis Timur Tengah hari ini bukan hanya krisis senjata, tetapi juga krisis kepercayaan. Washington berbicara tentang negosiasi sambil mempertahankan blokade. Tel Aviv berbicara tentang keamanan sambil menyerang lebih dulu. Keduanya semakin menunjukkan bahwa kata-kata damai dapat dipakai bukan untuk mengakhiri tekanan, tetapi untuk memperhalus wajah tekanan itu sendiri.

Karena itu, pertanyaan terbesar hari ini bukan lagi sekadar apakah negosiasi akan berlanjut atau apakah ceasefire akan bertahan. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: masih bisakah Amerika dan Israel dipercaya ketika mereka berbicara tentang stabilitas, keamanan, dan masa depan kawasan?

Sebab bila janji terus bertabrakan dengan tindakan, bila gencatan senjata terus dilubangi oleh serangan, dan bila diplomasi terus dipasangi ultimatum, maka publik dunia berhak sampai pada satu kesimpulan pahit: masalahnya bukan lagi kurangnya forum perundingan, melainkan terlalu seringnya perundingan diperlakukan hanya sebagai alat untuk menata ulang tekanan.

“Pengkhianatan mungkin tampak menang di meja strategi, tetapi di hadapan Allah ia datang pada hari kiamat membawa panji kehinaan.”

Indonesia Kutuk Upaya Aneksasi Masjid Al-Aqsa, Serukan Persatuan Negara-Negara Muslim Dukung Palestina

“Bagi setiap pengkhianat akan ada panji pada hari kiamat.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Pages: 1 2 3

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *