Di tengah tekanan itu, jalur diplomasi tetap tersendat. Iran masih pada posisi yang sama: dialog dengan Amerika Serikat hanya mungkin berjalan bila blokade disudahi. Al Jazeera melaporkan bahwa Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan Teheran menginginkan “dialog dan kesepakatan”, tetapi “pelanggaran komitmen, blokade, dan ancaman merupakan hambatan utama bagi negosiasi yang sejati”. Pernyataan itu menegaskan bahwa sampai 23 April, konflik belum benar-benar bergerak menuju titik terang, dan pasar membaca kebuntuan ini sebagai risiko yang terus hidup.
Di sinilah nasib ekonomi Indonesia terasa berdiri di ambang ketidakpastian. Persoalannya bukan hanya perang AS–Iran itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa guncangan eksternal menjadi jauh lebih berbahaya ketika fondasi kemandirian dalam negeri belum cukup kuat. Perang memang terjadi jauh dari Jakarta, tetapi dampaknya masuk ke dapur rumah tangga melalui kurs, harga energi, biaya logistik, dan akhirnya harga barang.

Comment