JAKARTA, UBN NEWSROOM — Lamine Yamal langsung berlutut dan memanjatkan doa syukur sesaat setelah peluit akhir babak perpanjangan waktu dibunyikan. Momen tersebut menjadi salah satu sorotan utama dunia ketika Spanyol memastikan diri sebagai juara Piala Dunia FIFA 2026 usai mengalahkan Argentina 1-0 melalui gol Ferran Torres pada menit ke-105 babak tambahan di MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat, Minggu (19/7) waktu setempat.
Berdasarkan media monitoring Tim UBN Newsroom, selain keberhasilan Spanyol meraih gelar juara dunia kedua dalam sejarahnya, ekspresi syukur Yamal juga menjadi perbincangan luas di berbagai media dan media sosial. Di tengah euforia kemenangan, pemain muda berdarah Maroko itu memilih mengawali selebrasi dengan mengingat Allah.
SPANYOL MENDOMINASI, FERRAN TORRES PECAHKAN KEBUNTUAN
Final mempertemukan dua kekuatan besar sepak bola dunia dalam pertandingan yang berlangsung ketat sejak menit pertama.
Spanyol mendominasi penguasaan bola dan terus membangun serangan melalui kombinasi umpan-umpan pendek khas mereka. Sebaliknya, Argentina lebih banyak bertahan sambil mengandalkan serangan balik cepat.
Meski menguasai jalannya pertandingan, Spanyol kesulitan menembus pertahanan Argentina sepanjang waktu normal. Sejumlah peluang berhasil digagalkan lini belakang Argentina dan penampilan gemilang kiper Emiliano Martínez.
Kebuntuan akhirnya pecah pada babak pertama perpanjangan waktu. Ferran Torres mencetak gol pada menit ke-105 setelah memanfaatkan peluang di dalam kotak penalti. Gol tersebut menjadi satu-satunya gol dalam pertandingan sekaligus memastikan Spanyol kembali menjadi juara dunia setelah penantian selama 16 tahun.
YAMAL KEMBALI MENUNJUKKAN IDENTITAS SEBAGAI SEORANG MUSLIM
Namun, bukan hanya trofi yang menjadi perhatian publik.
Sesaat setelah wasit meniup peluit panjang, ketika rekan-rekannya berlari merayakan kemenangan, Lamine Yamal justru lebih dahulu berlutut di lapangan sambil menundukkan kepala dan memanjatkan doa syukur kepada Allah.
Pemandangan tersebut segera menyebar luas di berbagai platform media sosial dan menjadi salah satu momen paling banyak dibicarakan setelah final usai.
Bagi banyak orang, tindakan sederhana itu menunjukkan bahwa keberhasilan tidak membuat Yamal melupakan Tuhan.
Ini bukan kali pertama pemain berusia 19 tahun tersebut memperlihatkan identitas keislamannya di Piala Dunia 2026. Sebelumnya, ia juga melakukan sujud syukur usai mencetak gol pada fase grup.
Kini, pada malam terbesar dalam kariernya, Yamal kembali mengawali selebrasi kemenangan bukan dengan sorakan, melainkan dengan rasa syukur.
LEBIH DARI SEKADAR GELAR JUARA
Keberhasilan Spanyol menjadi juara dunia menandai lahirnya generasi baru sepak bola mereka.Nama-nama seperti Lamine Yamal, Nico Williams, Pedri, Gavi, dan Ferran Torres menjadi fondasi baru La Roja setelah era Andrés Iniesta dan Xavi Hernández.
Namun, bagi banyak masyarakat Muslim di berbagai belahan dunia, salah satu gambar yang paling membekas dari final tersebut bukanlah ketika trofi diangkat.Melainkan ketika seorang pemain muda Muslim memilih mengingat Allah di tengah puncak kesuksesan.
—
PERSPEKTIF UBN NEWSROOM
Di Atas Rivalitas Final, Ada Nilai yang Lebih Besar
Terlepas dari siapa yang didukung umat Islam pada final Piala Dunia 2026—Spanyol ataupun Argentina—ada satu peristiwa yang patut disambut dengan rasa syukur oleh seluruh umat Islam.
Seorang pemuda Muslim bernama Lamine Yamal memilih mengingat Allah ketika dunia sedang mengingat namanya.
Di tengah sorotan miliaran pasang mata, ketika tepuk tangan dan pujian mengalir kepadanya, Yamal justru merendahkan dirinya di hadapan Rabb yang telah memberikan nikmat kemenangan.
Inilah pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar hasil pertandingan.
Syiar Tidak Selalu Melalui Mimbar
Apa yang dilakukan Yamal menunjukkan bahwa syiar Islam tidak selalu dilakukan melalui ceramah atau pidato.
Terkadang, satu tindakan yang tulus lebih kuat daripada seribu kata.
Ia tidak meminta orang lain mengikuti agamanya.
Ia tidak menyampaikan pidato keagamaan.
Ia hanya memperlihatkan bahwa seorang Muslim tidak melupakan Allah ketika berada di puncak kesuksesan.
Di era ketika banyak figur publik lebih sibuk membangun citra diri, Yamal justru mengajarkan bahwa kemenangan pertama-tama harus dikembalikan kepada Sang Pemberi Nikmat.
Allah SWT berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 152)
Ayat ini mengajarkan bahwa nikmat, prestasi, dan kemenangan seharusnya melahirkan syukur, bukan kesombongan.
Teladan yang Perlu Dibaca Secara Proporsional
UBN juga memandang penting untuk menempatkan peristiwa ini secara proporsional.
Lamine Yamal adalah seorang atlet, bukan ulama. Ia tentu bukan rujukan dalam seluruh aspek agama.
Namun sebagai seorang Muslim yang tampil di panggung dunia, sikapnya mengingat Allah di saat kemenangan layak diapresiasi dan dapat menjadi inspirasi, khususnya bagi generasi muda.
Anak-anak Muslim hari ini membutuhkan figur yang menunjukkan bahwa menjadi pribadi berprestasi tidak harus mengorbankan identitas keislaman.
Mereka dapat mengejar prestasi setinggi mungkin, tetapi tetap menjadikan Allah sebagai tujuan utama dari setiap nikmat yang diperoleh.
Jangan Berhenti pada Kekaguman
Bagi UBN, pelajaran terbesar dari final Piala Dunia ini bukanlah tentang siapa yang menjadi juara.
Pelajaran terbesarnya adalah bagaimana seorang Muslim merespons kemenangan.
Mudah bersyukur ketika sedang sulit.
Namun lebih sulit lagi bersyukur ketika sedang berada di puncak kesuksesan.
Karena itu, umat Islam jangan hanya kagum kepada Lamine Yamal.
Yang lebih penting adalah meneladani nilai yang ia tampilkan: mengingat Allah ketika memperoleh nikmat, tidak tenggelam dalam euforia, dan menyadari bahwa setiap kemenangan pada hakikatnya berasal dari-Nya.
—
PENUTUP
Final Piala Dunia 2026 akan dikenang sebagai malam ketika Spanyol kembali menjadi juara dunia berkat gol Ferran Torres pada babak perpanjangan waktu.
Namun, bagi banyak umat Islam, malam itu juga akan dikenang karena satu pemandangan sederhana yang memiliki makna mendalam.
Di tengah sorakan puluhan ribu penonton dan perhatian miliaran pasang mata, Lamine Yamal memilih menundukkan kepala dan bersyukur kepada Allah.
Ia mengingatkan bahwa trofi adalah pencapaian manusia.
Tetapi rasa syukur adalah kemuliaan seorang hamba.
UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.
Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu

Comment