SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agama
Home » MENYINGKAP SEJARAH BARU PENDIDIKAN ISLAM INDONESIA Mengapa Jutaan Kursi Pesantren Tiba-Tiba Kosong?

MENYINGKAP SEJARAH BARU PENDIDIKAN ISLAM INDONESIA Mengapa Jutaan Kursi Pesantren Tiba-Tiba Kosong?

UBN NEWSROOM — Ekosistem pendidikan Islam terbesar di dunia yang tumbuh mengakar di bumi Nusantara kini sedang menghadapi patahan sejarah paling radikal dalam satu dekade terakhir. Selama ratusan tahun, pondok pesantren berdiri kokoh laksana benteng pertahanan moral, penyemai tradisi intelektual klasik, sekaligus mesin penggerak peradaban Muslim moderat di Indonesia. Namun, data terbaru menunjukkan potret yang mengkhawatirkan: minat generasi muda untuk menjadi santri di pondok pesantren justru merosot tajam.

Berdasarkan dokumen internal visualisasi data EMIS (Education Management Information System) Kementerian Agama RI yang dihimpun dan diolah Tim Riset & Data UBN Newsroom, populasi santri aktif di seluruh Tanah Air mencatat grafik penurunan yang sangat tajam. Secara akumulatif, angka santri menyusut drastis dari angka tertinggi 4,37 juta jiwa pada Tahun Ajaran (TA) 2020/2021 menjadi hanya tersisa 1,38 juta jiwa pada periode berjalan TA 2025/2026. Angka tersebut mengindikasikan adanya penyusutan sebesar -68,4% atau hilangnya hampir tiga juta anak didik dari bilik-bilik asrama tradisional.

1. Latar Belakang: Pergeseran Kultural dan Paradoks Regulasi

Secara historis, keputusan orang tua untuk menitipkan anak di pesantren didasari oleh motif pencarian berkah spiritual (tabarruk) dan kepatuhan mutlak kepada karisma figur kiai. Pesantren mandiri secara organik tanpa ketergantungan pada birokrasi negara. Pengesahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren awalnya diproyeksikan sebagai fajar baru bagi penguatan modal institusional, rekognisi ijazah, serta afirmasi pendanaan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Namun, formalisasi birokrasi ini melahirkan paradoks baru. Pesantren-pesantren tradisional berskala kecil (salafiyah) dipaksa beradaptasi dengan kerumitan administratif digital, mulai dari pengisian data induk santri secara daring hingga standardisasi kurikulum. Ketika instabilitas ekonomi pascapandemi melanda, banyak pengelola pesantren di pedesaan mengalami kegagalan adaptasi manajemen. Di saat yang sama, masyarakat urban kelas menengah Muslim mulai melirik model komodifikasi pendidikan baru yang dinilai lebih higienis, terukur, dan akuntabel.

Muadzin Masjidil Haram Syekh Ibrahim Al-Madani Wafat

Pages: 1 2 3 4 5

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement