JAKARTA | UBN Newsroom — Ahad, 17 Rabiul Awal 1448 H / 30 Agustus 2026 M.
Memasuki hari kedua, Daurah Qira’at Internasional 1448 H/2026 M di Universitas YARSI menghadirkan pengalaman keilmuan yang berkesan bagi para peserta. Tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang Al-Qur’an dan qira’at, peserta juga mendapatkan kesempatan belajar langsung dari para masyayikh serta semakin terdorong untuk melanjutkan proses belajar setelah daurah berakhir.
Belajar Langsung dari Para Masyayikh
Salah satu peserta, Sarah Mida Faisal, mengaku bersyukur dapat mengikuti daurah yang menurutnya merupakan kegiatan yang jarang diselenggarakan di Indonesia.
“Ketika saya mendengar ada Daurah Qira’at Internasional di Jakarta, Sarah benar-benar merasa bangga. Alhamdulillah, kegiatan seperti ini bisa hadir di Indonesia, terlebih dengan kedatangan para syekh” ujarnya.
Setelah mengikuti rangkaian daurah, Sarah mengaku mendapatkan banyak ilmu dan berharap pengetahuan tersebut dapat terus memberikan manfaat dalam perjalanan belajarnya. Ia juga telah mempelajari riwayat Hafs selama sekitar sepuluh tahun dan pada daurah ini memperoleh ijazah atau sanad.

Dari Tantangan Bahasa hingga Keinginan Terus Belajar
Peserta lainnya, Khafifah, mengikuti daurah dengan tujuan memperdalam ilmu Al-Qur’an, khususnya tajwid. Menurutnya, kehadiran narasumber dari luar negeri memberikan kesempatan untuk belajar langsung dari para ahli yang memiliki pengalaman dalam bidang Al-Qur’an.
Namun, ia juga merasakan tantangan dalam memahami penyampaian berbahasa Arab. Meski telah tersedia terjemahan, Khafifah menilai memahami bahasa secara langsung tetap memberikan pengalaman yang berbeda.
“Kesulitannya dalam memahami bahasa. Karena mereka menggunakan bahasa Arab. Walaupun sudah ada terjemahannya, tentu rasanya tetap berbeda ketika mendengar dan memahami bahasa secara langsung,” katanya.
Pengalaman tersebut justru mendorong Khafifah untuk melanjutkan proses belajarnya. Ia berencana mencari guru-guru lain untuk kembali belajar dan memperdalam ilmu yang telah diperoleh selama mengikuti daurah.
Harapan Daurah Terus Berlanjut
khafifah berharap Daurah Qira’at Internasional dapat diselenggarakan secara rutin, bahkan setiap tahun. Menurutnya, keberlanjutan kegiatan tersebut dapat memberikan kesempatan kepada peserta yang belum siap untuk mempersiapkan diri lebih baik pada tahun berikutnya.
Semangat serupa juga terlihat dari Sarah, peserta berusia 18 tahun yang datang jauh dari Malang untuk menghadiri majelis ilmu Al-Qur’an tersebut. Pada hari kedua daurah, Sarah menyetorkan hafalan Matan Tuhfatul Athfal di hadapan Syaikh Prof. Dr. Ahmad Isa Al-Ma’sharawy dan Syaikh Abdullah Subhi Sarah.
Di usia yang masih muda, Sarah juga telah menghafal Matan Syathibiyyah dan beberapa matan lainnya. Perjalanan tersebut menjadi gambaran bahwa kesungguhan mempelajari Al-Qur’an dapat dimulai sejak usia muda dan membutuhkan proses yang panjang.
Daurah Qira’at Internasional 1448 H/2026 M pada akhirnya bukan hanya menjadi ruang untuk memperoleh ilmu, tetapi juga menjadi momentum bagi peserta untuk memperkuat semangat belajar, memperbaiki bacaan, memperoleh sanad, serta melanjutkan tradisi keilmuan Al-Qur’an kepada generasi berikutnya.

Perspektif UBN Newsroom
Menjadi Generasi yang Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an
Kisah para peserta Daurah Qira’at memberikan satu pesan penting: ilmu Al-Qur’an tidak diperoleh secara instan. Ada kesungguhan, waktu, guru, latihan, dan keistiqamahan yang menyertai perjalanan seseorang dalam mempelajarinya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Artinya:
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Hadis tersebut menempatkan proses belajar dan mengajarkan Al-Qur’an sebagai sebuah kemuliaan. Karena itu, belajar Al-Qur’an tidak semestinya dipandang sebagai aktivitas yang hanya dilakukan oleh mereka yang ingin menjadi qari, guru, atau penghafal Al-Qur’an.
Setiap Muslim memiliki ruang untuk menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Ada yang memulai dengan memperbaiki makhraj, belajar tajwid, menghafal satu ayat, berguru kepada ahlinya, atau mengajarkan kembali ilmu yang telah dipahami.
Kisah Sarah yang telah mempelajari riwayat Hafs selama sepuluh tahun, Khafifah yang ingin terus mencari guru, hingga Sarah yang pada usia 18 tahun telah menghafal sejumlah matan menunjukkan bahwa setiap perjalanan memiliki titik awal, tetapi tidak boleh berhenti pada satu titik.
Inilah manfaat yang dapat dibawa pulang dari Daurah Qira’at: jangan hanya mengagumi orang yang telah menguasai ilmu Al-Qur’an, tetapi mulailah mengambil bagian dalam proses untuk mempelajarinya.
Tidak harus langsung menghafal banyak. Tidak harus menunggu memiliki waktu luang. Tidak harus menunggu merasa mampu.
Mulailah belajar, temukan guru, perbaiki bacaan, istiqamah dalam proses, lalu bagikan ilmu yang telah dipahami.
Sebab generasi penjaga Al-Qur’an tidak lahir hanya dari mereka yang pandai membaca. Mereka lahir dari orang-orang yang mau belajar, bersungguh-sungguh menjaga ilmu, dan bersedia mewariskannya kepada generasi setelahnya.
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment