SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agama
Home » KH. Miftachul Akhyar Terpilih Kembali sebagai Rais Aam PBNU melalui Musyawarah Tertutup

KH. Miftachul Akhyar Terpilih Kembali sebagai Rais Aam PBNU melalui Musyawarah Tertutup

JOMBANG | UBN Newsroom — Senin, 18 Rabiul awal 1448 H / 31 Agustus 2026 M.

KH. Miftachul Akhyar (73) terpilih kembali sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Pemilihan dilakukan oleh sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) melalui musyawarah tertutup di Ndalem KH Abdul Wahab Hasbullah pada Ahad malam (30/8/2026).

Musyawarah AHWA Tetapkan KH Miftachul Akhyar

Anggota Tim AHWA, KH Anwar Iskandar, mengatakan sidang AHWA dipimpin KH Miftachul Akhyar selaku Rais Aam periode 2021–2026. Menurutnya, mekanisme yang digunakan adalah musyawarah mufakat sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur’an.

MUI Dorong Kesiapan Pelaksanaan Wajib Halal Oktober 2026

Forum tersebut digelar secara tertutup dan hanya diikuti sembilan anggota AHWA.

“Setelah melakukan musyawarah tertutup anggota Ahlul Halli wal Aqdi secara mufakat, bahwa nama KH Miftachul Akhyar dipilih menjadi Rais Aam Pengurus Besar Masa Khidmat 2026–2031,” kata KH Anwar Iskandar di Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Ahad (30/8/2026).

Sebelumnya, sembilan anggota AHWA ditentukan melalui proses tabulasi usulan dari struktur NU. Nama-nama tersebut berasal dari usulan Pengurus Cabang NU, Pengurus Wilayah NU, serta Pengurus Cabang Istimewa NU.

Hasil tabulasi menempatkan KH Nurul Huda Djazuli sebagai peraih suara tertinggi dengan 485 suara. Posisi berikutnya ditempati TGK KH Nuruzzahri Yahya dengan 477 suara dan KH Baharuddin HS dengan 392 suara.

Selanjutnya terdapat KH Miftachul Akhyar, KH Afifuddin Muhajir, KH Anwar Iskandar, KH Anwar Manshur, KH Said Aqil Siroj, serta KH Abun Bunyamin yang melengkapi sembilan anggota AHWA.

Prof Sudarnoto Dorong OKI Tindak Lanjuti Resolusi PBB untuk Palestina

Sembilan ulama tersebut kemudian mendapatkan mandat untuk menjalankan musyawarah AHWA, termasuk menentukan sosok yang dipercaya mengemban amanah sebagai Rais Aam PBNU periode 2026–2031.

Musyawarah Berlangsung di Ndalem Kasepuhan

Musyawarah penentuan Rais Aam berlangsung terpisah dari arena utama Muktamar ke-35 NU di Gedung Serbaguna Pondok Pesantren Bahrul Ulum.

Akses menuju Ndalem Kasepuhan diperketat untuk menjaga jalannya musyawarah. Forum tersebut hanya diikuti oleh sembilan anggota AHWA.

Tempat berlangsungnya musyawarah juga memiliki nilai historis bagi NU. Ndalem Kasepuhan merupakan bagian dari kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah perjalanan Nahdlatul Ulama.

Pemerintah Membatasi Penggunaan Gawai di Lingkungan Sekolah Binaan Kemenag

Rekam Jejak KH Miftachul Akhyar

KH Miftachul Akhyar lahir di Surabaya pada 30 Juni 1953. Ia merupakan ulama yang saat ini menjabat sebagai Rais Aam dan telah menjadi bagian dari Pengurus Besar NU sejak 2018.

Ia juga pernah menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejak 2020. Namun, pada 9 Maret 2022, ia mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum MUI karena ingin berfokus menjadi Rais Aam PBNU dan tidak ingin rangkap jabatan.

Selain itu, KH Miftachul Akhyar merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di Surabaya.

Perspektif UBN Newsroom

Musyawarah sebagai Jalan Menjaga Persatuan

Terpilihnya kembali KH Miftachul Akhyar melalui musyawarah AHWA menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam organisasi keagamaan juga memiliki dimensi amanah dan tanggung jawab yang besar.

Musyawarah bukan sekadar mekanisme memilih pemimpin, tetapi ruang untuk mempertimbangkan kemaslahatan organisasi dan umat.

Dalam konteks Muktamar NU, proses tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan kepemimpinan sekaligus persatuan jam’iyah.

Berdiri di Atas Kebenaran dan Keadilan

Islam mengajarkan bahwa setiap amanah harus dijalankan dengan kebenaran dan keadilan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ»

«“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, ketika menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”»

«QS. Al-Ma’idah [5]: 8»

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kepemimpinan harus berdiri di atas keadilan, amanah, dan tanggung jawab.

Catatan Redaksi

Penetapan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU periode 2026–2031 dalam berita ini merujuk pada keterangan KH Anwar Iskandar mengenai hasil musyawarah sembilan anggota AHWA dalam Muktamar ke-35 NU.

Informasi mengenai tahapan selanjutnya dalam struktur kepemimpinan PBNU mengikuti mekanisme dan keputusan resmi Muktamar ke-35 NU.

Dukungan Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban

UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang mengangkat kehidupan umat, kebangsaan, serta berbagai dinamika organisasi dan masyarakat.

Dukungan terhadap operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom dapat disalurkan melalui:

BSI 7779700091

a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

Ikuti UBN Newsroom untuk mendapatkan informasi dan analisis strategis mengenai umat, bangsa, kemanusiaan, kebijakan publik, dan peradaban.

UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.

Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement