SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Internasional
Home » Mokha Jatuh, Bab al-Mandeb Tertekan: Ketika Jalur Strategis Dunia Mengguncang Harga Energi

Mokha Jatuh, Bab al-Mandeb Tertekan: Ketika Jalur Strategis Dunia Mengguncang Harga Energi

YAMAN–JAKARTA | UBN Newsroom — Jumat, 29 Rabiul Awal 1448 H / 11 September 2026 M.

Pasukan Houthi menguasai kota pelabuhan strategis Mokha di pesisir Laut Merah, Yaman, Kamis (10/9/2026), dalam salah satu perolehan wilayah terbesar kelompok tersebut sejak gencatan senjata tahun 2022. Penguasaan Mokha membawa pasukan Houthi semakin dekat dengan Bab al-Mandeb, salah satu jalur pelayaran paling strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Pasukan pro-pemerintah Yaman dan sekutunya dilaporkan mundur untuk melakukan penataan ulang posisi di Dhubab, sekitar 46 kilometer di selatan Mokha. Di tengah perkembangan tersebut, harga minyak dunia melonjak tajam karena pasar mengkhawatirkan gangguan terhadap jalur energi dan perdagangan internasional.

Bagi Indonesia, perkembangan di Yaman bukan sekadar persoalan konflik luar negeri. Gangguan terhadap jalur pelayaran strategis dapat berdampak pada harga energi, biaya logistik, inflasi, perdagangan, hingga tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Houthi Kuasai Mokha, Dekat dengan Bab al-Mandeb

MUI Dorong Kesiapan Pelaksanaan Wajib Halal Oktober 2026

Penguasaan Mokha telah dikonfirmasi oleh pihak Houthi dan pejabat yang berpihak kepada pemerintah Yaman. Kota tersebut berada di pesisir barat Yaman dan berjarak sekitar 80 kilometer dari Bab al-Mandeb.

Bab al-Mandeb merupakan jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi bagian penting dari rute perdagangan internasional melalui Laut Merah dan Terusan Suez.

Data yang sering digunakan untuk menggambarkan arti strategis kawasan tersebut perlu dibaca secara proporsional. Sekitar 12 persen perdagangan barang global biasanya melewati koridor Laut Merah–Suez, sementara data historis U.S. Energy Information Administration menunjukkan Bab al-Mandeb juga menjadi jalur penting bagi perdagangan minyak dan energi dunia.

Karena itu, penguasaan wilayah pesisir di sekitar jalur tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik darat di Yaman dapat kembali berdampak langsung terhadap keamanan pelayaran internasional.

Pasukan Pemerintah Mundur ke Dhubab

Prof Sudarnoto Dorong OKI Tindak Lanjuti Resolusi PBB untuk Palestina

Pasukan yang sebelumnya mempertahankan kawasan Mokha terdiri dari sejumlah kelompok yang bersekutu dengan pemerintah Yaman, termasuk National Resistance Forces, Giants Brigades, Nation’s Shield, serta satuan dari Taiz.

Tareq Saleh, Wakil Ketua Dewan Kepemimpinan Presidensial Yaman, mengakui adanya korban dalam pertempuran dan mengumumkan penataan ulang posisi pasukan pemerintah serta sekutunya.

Laporan dari lapangan menyebut pasukan pro-pemerintah kemudian melakukan pengelompokan ulang di Dhubab. Posisi tersebut menjadi penting karena berada di kawasan yang semakin dekat dengan Bab al-Mandeb.

Namun, perkembangan garis depan masih berlangsung cepat. Karena itu, status penguasaan wilayah tertentu harus terus diverifikasi dan tidak seluruh klaim yang beredar di media sosial dapat langsung diperlakukan sebagai fakta.

Pulau Perim dan Wilayah Lain Perlu Dibaca dengan Hati-hati

Pemerintah Membatasi Penggunaan Gawai di Lingkungan Sekolah Binaan Kemenag

Sejumlah laporan terbaru menyebut Houthi juga memperluas pengaruhnya ke pulau-pulau strategis di sekitar Bab al-Mandeb.
Associated Press melaporkan pada 11 September bahwa Pulau Mayun atau Perim telah dikuasai Houthi, berdasarkan konfirmasi dari sumber Houthi dan pemerintah Yaman. Sementara Reuters sebelumnya melaporkan kemajuan pasukan Houthi menuju kawasan pulau-pulau Hanish dan wilayah strategis lainnya.

Perkembangan tersebut menunjukkan situasi berubah sangat cepat. Redaksi perlu membedakan antara wilayah yang telah dikonfirmasi penguasaannya dengan klaim mengenai kemajuan militer yang masih menunggu verifikasi independen.
Prinsip ini penting karena perang modern tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga dalam ruang informasi.

Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Artinya:
“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 36)

Serangan ke Saudi Percepat Eskalasi

Penguasaan Mokha berlangsung di tengah meningkatnya kembali konflik antara Houthi dan Arab Saudi.
Pada awal pekan ini, serangan rudal balistik dan drone dilaporkan menghantam sejumlah kawasan di Arab Saudi. Sedikitnya 73 orang dilaporkan mengalami luka-luka dalam rangkaian serangan tersebut. Saudi kemudian melakukan puluhan serangan udara ke berbagai wilayah di Yaman.

Peningkatan kekerasan tersebut mengancam ketenangan relatif yang sebelumnya berlangsung setelah gencatan senjata tahun 2022.

Utusan Khusus PBB untuk Yaman Hans Grundberg memperingatkan bahwa Yaman sedang memasuki fase baru yang lebih berbahaya dan dampaknya dapat meluas melampaui perbatasan negara tersebut.

Harga Minyak Dunia Melonjak

Pasar minyak merespons perkembangan di Yaman dengan cepat. Harga Brent melonjak melewati US$105 per barel pada perdagangan Kamis setelah kekhawatiran meningkat terhadap keamanan jalur energi di Timur Tengah.

Pada Jumat, harga minyak kemudian bergerak fluktuatif setelah sebelumnya mendekati level US$110 per barel. Brent sempat turun kembali ke sekitar US$103–104 per barel ketika pasar mencerna perkembangan diplomatik dan risiko pasokan yang terus berubah.

Lonjakan tersebut tidak hanya berkaitan dengan Mokha.

Pasar energi global juga sedang menghadapi tekanan terhadap Selat Hormuz. Reuters melaporkan gangguan terhadap pelayaran di Hormuz terjadi bersamaan dengan meningkatnya ancaman di Bab al-Mandeb, sehingga dua jalur strategis energi dunia mengalami tekanan dalam waktu yang hampir bersamaan.

Dua Jalur Energi Dunia Sama-sama Tertekan

Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz memiliki arti strategis yang berbeda, tetapi keduanya sama-sama penting bagi perdagangan energi global.

Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu jalur utama pengiriman minyak dunia. Sementara Bab al-Mandeb menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi bagian dari jalur perdagangan menuju Terusan Suez.

Ketika gangguan terjadi pada dua kawasan tersebut secara bersamaan, pasar menghadapi risiko berlapis.
Pertama, risiko terganggunya pasokan minyak.
Kedua, meningkatnya biaya asuransi dan keamanan kapal.
Ketiga, kemungkinan pengalihan jalur pelayaran yang memperpanjang waktu dan jarak pengiriman.

Keempat, tekanan lanjutan terhadap harga energi dan inflasi global.

Reuters mencatat penguasaan Mokha meningkatkan kekhawatiran bahwa Houthi dapat memperoleh pengaruh lebih besar terhadap pendekatan menuju Bab al-Mandeb, terutama ketika jalur Hormuz juga mengalami tekanan akibat konflik yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran.

Gangguan Laut Merah Berpotensi Naikkan Biaya Logistik
Gangguan terhadap pelayaran tidak selalu langsung terlihat dalam harga barang di toko.

Dampak pertama biasanya muncul melalui biaya pengiriman dan premi asuransi. Ketika sebuah kawasan dianggap berisiko, kapal membutuhkan perlindungan tambahan atau memilih mengubah rute.

Pengalihan rute melalui Tanjung Harapan, misalnya, dapat memperpanjang perjalanan antara Asia dan Eropa secara signifikan.

Konsekuensinya bukan hanya biaya bahan bakar yang meningkat. Kapal juga membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan perjalanan sehingga kapasitas armada global ikut tertekan.
AP mencatat lalu lintas melalui kawasan Laut Merah telah mengalami penurunan tajam sejak serangan terhadap pelayaran dimulai pada akhir 2023. Ancaman baru di sekitar Mokha dapat memperpanjang tekanan terhadap jalur yang sebelumnya sudah mengalami gangguan.

Dampak berikutnya dapat muncul dalam bentuk kenaikan tarif angkutan dan biaya distribusi.
Setelah itu, tekanan dapat merambat ke harga barang.
Indonesia Perlu Memperhatikan Tekanan terhadap APBN
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia memiliki dampak ganda.

Di satu sisi, kenaikan harga energi dapat meningkatkan penerimaan tertentu bagi negara. Namun, di sisi lain, biaya subsidi dan kompensasi energi juga berpotensi meningkat.
Persoalan menjadi semakin kompleks ketika kenaikan harga minyak terjadi bersamaan dengan pelemahan nilai tukar rupiah.
Karena itu, gejolak harga minyak tidak dapat dilihat hanya dari satu sisi.

Harga energi dunia dapat memengaruhi biaya impor minyak, subsidi energi, transportasi, logistik, produksi industri, hingga inflasi.

Dalam kondisi harga minyak yang bertahan tinggi, pemerintah menghadapi tantangan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mempertahankan kesehatan fiskal.

Harga BBM Tidak Selalu Langsung Naik

Kenaikan harga minyak mentah dunia tidak otomatis membuat harga BBM bersubsidi di Indonesia langsung berubah.
Harga BBM bersubsidi dipengaruhi kebijakan pemerintah, subsidi, kompensasi, dan kemampuan APBN dalam menanggung selisih antara harga keekonomian dengan harga yang dibayar masyarakat.

Namun, apabila harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama, tekanan terhadap anggaran negara dapat semakin besar.
Di sisi lain, BBM nonsubsidi lebih cepat merespons perubahan parameter ekonomi seperti harga minyak mentah dan nilai tukar.
Karena itu, dampak kenaikan minyak dunia dapat muncul melalui beberapa jalur sekaligus: APBN, harga energi, ongkos logistik, biaya produksi, dan inflasi.

Ancaman terhadap Ekspor dan Perdagangan

Gangguan di Laut Merah juga memiliki dampak terhadap perdagangan Indonesia dengan negara-negara di Eropa, Timur Tengah, dan kawasan lain yang bergantung pada jalur Suez.
Ketika tarif pengiriman meningkat, biaya ekspor dan impor juga dapat terdorong naik.

Dunia usaha kemudian menghadapi pilihan antara menanggung kenaikan biaya atau meneruskannya kepada konsumen.
Dalam jangka pendek, perusahaan mungkin masih dapat menyerap sebagian biaya tersebut.

Namun, apabila gangguan berlangsung berbulan-bulan, tekanan dapat semakin besar terhadap rantai pasok.
Inilah sebabnya konflik di sebuah kota pelabuhan Yaman pada akhirnya dapat menjadi persoalan ekonomi bagi negara yang berjarak ribuan kilometer.

Tiga Skenario yang Perlu Dipantau

Perkembangan di Bab al-Mandeb dapat bergerak dalam beberapa arah.
Pertama, de-eskalasi bertekanan. Konflik tidak meluas secara signifikan dan pelayaran tetap berlangsung, meski dengan premi risiko yang lebih tinggi.

Kedua, gangguan atau blokade selektif. Kapal tertentu menghadapi risiko lebih besar berdasarkan negara asal, tujuan, atau afiliasi yang dianggap terkait dengan konflik.
Ketiga, gangguan efektif terhadap selat. Ini merupakan skenario dengan dampak paling besar terhadap perdagangan dan energi global, meski membutuhkan eskalasi militer dan kemampuan penguasaan kawasan yang jauh lebih besar.

Ketiga skenario tersebut bukan prediksi pasti, melainkan kerangka untuk memahami risiko yang sedang dihadapi pasar.

Yaman Tetap Menjadi Korban Pertama

Di balik grafik harga minyak dan perebutan jalur pelayaran, terdapat masyarakat Yaman yang kembali menghadapi ancaman perang.

Penguasaan Mokha dilaporkan menyebabkan sejumlah warga meninggalkan kawasan tersebut. Pasar-pasar ditutup dan sebagian tenaga medis dilaporkan meninggalkan fasilitas kesehatan karena situasi keamanan.

AP juga melaporkan bahwa eskalasi terbaru telah menyebabkan puluhan ribu warga Yaman mengungsi dan memperburuk risiko krisis kemanusiaan.

Yaman selama bertahun-tahun telah menghadapi konflik, pengungsian, kemiskinan, dan kerawanan pangan.
Karena itu, ketika dunia membahas Bab al-Mandeb sebagai jalur minyak dan perdagangan, jangan sampai manusia yang tinggal di sekitarnya berubah menjadi sekadar angka dalam laporan konflik.

Perspektif UBN Newsroom | Jalur Laut yang Aman Adalah Nikmat Peradaban

Jatuhnya Mokha kembali memperlihatkan bahwa sebuah kota kecil dapat memiliki dampak besar ketika berada di persimpangan jalur perdagangan dunia.

Namun, di balik semua istilah seperti choke point, harga Brent, blokade, dan geopolitik, terdapat satu persoalan yang lebih mendasar: ketika jalur perdagangan dijadikan arena perebutan kekuatan, masyarakat sipil sering kali menjadi pihak pertama yang menanggung akibatnya.

Harga energi naik.
Biaya pangan meningkat.
Barang terlambat tiba.

Dan rakyat yang tidak memiliki kapal perang maupun rudal tetap harus membayar lebih mahal untuk bertahan hidup.
Allah SWT berfirman:
لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ ۝ إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ ۝ فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ ۝ الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
Artinya:
“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, yaitu kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini, yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.”
(QS. Quraisy [106]: 1–4)

Ayat ini mengingatkan bahwa keamanan perjalanan dan perdagangan bukan sekadar persoalan ekonomi. Ia berkaitan dengan dua kebutuhan dasar manusia: terbebas dari kelaparan dan rasa takut.

Keadilan Tidak Boleh Memilih Korban

Kepedulian terhadap satu bangsa tidak boleh membuat kita menutup mata terhadap penderitaan bangsa lain.
Solidaritas terhadap Palestina adalah bagian dari kepedulian kemanusiaan. Namun, penderitaan rakyat Yaman juga tidak boleh hilang dari pandangan hanya karena konflik di sana memiliki aktor dan kepentingan yang lebih rumit.

Keadilan berarti berani melihat penderitaan secara utuh.
Ketika kapal diserang, nelayan dapat kehilangan penghidupan.
Ketika pelabuhan direbut, warga dapat kehilangan rumah.
Ketika jalur perdagangan terganggu, keluarga miskin di berbagai negara dapat membayar harga yang lebih mahal.

Karena itu, keamanan jalur laut seharusnya tidak menjadi alat untuk menyandera kebutuhan hidup masyarakat dunia.
Indonesia Harus Belajar Membaca Geopolitik sebagai Urusan Dapur Rakyat

Peristiwa di Mokha memberikan pelajaran bahwa geopolitik bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari.
Sebuah konflik di Yaman dapat memengaruhi harga minyak.

Harga minyak dapat memengaruhi APBN.

APBN dapat memengaruhi subsidi. Biaya pelayaran dapat memengaruhi harga barang. Dan pada akhirnya, geopolitik dapat sampai ke dapur masyarakat. Karena itu, Indonesia membutuhkan ketahanan energi, ketahanan pangan, pengelolaan anggaran yang amanah, serta kemampuan membaca perubahan dunia sebelum dampaknya tiba di dalam negeri.

Allah SWT berfirman:
وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ
Artinya:
“Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.” (QS. Ar-Rahman [55]: 9)

Keadilan dalam menimbang bukan hanya berlaku dalam urusan perdagangan.

Ia juga berlaku dalam menyampaikan angka, membaca konflik, membuat kebijakan, dan menentukan siapa yang harus dilindungi ketika dunia sedang bergejolak.
Bab al-Mandeb mungkin hanya selebar puluhan kilometer. Namun, ketika keamanan di sana runtuh, dampaknya dapat melintasi samudra dan masuk ke kehidupan miliaran manusia.

Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban

UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.

Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement