SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Internasional
Home » Amerika Akan Jual 38 Pesawat F-35 ke Arab Saudi

Amerika Akan Jual 38 Pesawat F-35 ke Arab Saudi

JAKARTA, UBN NEWSROOM — Jumat, 7 Rabiul Akhir 1448 H / 18 September 2026 M.

Amerika Serikat membuka jalan bagi Arab Saudi untuk memperoleh 48 pesawat tempur F-35 Lightning II setelah Departemen Luar Negeri AS menyetujui potensi penjualan pesawat tempur generasi kelima tersebut dengan nilai sekitar US$24,3 miliar.

Persetujuan itu mencakup 48 pesawat F-35, 49 mesin Pratt & Whitney, peralatan komunikasi, suku cadang, serta berbagai dukungan terkait. Reuters melaporkan keputusan tersebut pada Kamis, 17 September 2026, sebagai perkembangan penting dalam hubungan pertahanan Washington dan Riyadh.

POTENSI PENJUALAN SENILAI US$24,3 MILIAR

Departemen Luar Negeri AS menyatakan penjualan yang diusulkan tersebut tidak akan mengubah keseimbangan militer di kawasan.

MUI Dorong Kesiapan Pelaksanaan Wajib Halal Oktober 2026

Nilai sekitar US$24,3 miliar merupakan estimasi nilai maksimum dari paket penjualan potensial. Persetujuan Departemen Luar Negeri belum berarti seluruh transaksi telah menjadi kontrak final atau bahwa pesawat akan segera dikirim ke Arab Saudi.

F-35 Lightning II merupakan pesawat tempur generasi kelima yang dikembangkan Lockheed Martin. Pesawat tersebut dirancang dengan kemampuan siluman dan sistem sensor serta jaringan informasi yang memungkinkan pengumpulan dan pertukaran data dalam operasi udara.

Saudi Arabia selama bertahun-tahun telah menginginkan pesawat tersebut sebagai bagian dari modernisasi kekuatan udaranya. Reuters melaporkan Riyadh secara langsung mengajukan permintaan F-35 kepada Presiden AS Donald Trump pada awal 2025.

SAUDI SUDAH MENGOPERASIKAN F-15

Angkatan Udara Kerajaan Arab Saudi selama ini mengoperasikan sejumlah jenis pesawat tempur, termasuk F-15 buatan Amerika Serikat serta Tornado dan Eurofighter Typhoon buatan Eropa.

Prof Sudarnoto Dorong OKI Tindak Lanjuti Resolusi PBB untuk Palestina

Masuknya F-35 akan menambah kemampuan yang berbeda dari armada tersebut, terutama dalam aspek teknologi siluman, sensor, pengumpulan informasi, dan kemampuan beroperasi dalam lingkungan dengan pertahanan udara yang kompleks.

Namun, F-35 tidak menggantikan seluruh sistem pertahanan udara yang dimiliki Saudi. Pesawat tempur dan sistem pertahanan rudal memiliki fungsi yang berbeda dalam arsitektur pertahanan suatu negara.

Arab Saudi juga telah mengembangkan dan memperkuat sistem pertahanan udara melalui berbagai kerja sama dengan Amerika Serikat, termasuk penggunaan sistem Patriot dan THAAD.

ISRAEL DAN QUALITATIVE MILITARY EDGE

Perhatian utama terhadap potensi penjualan F-35 kepada Saudi berkaitan dengan kebijakan Amerika Serikat mengenai qualitative military edge atau QME Israel.

Pemerintah Membatasi Penggunaan Gawai di Lingkungan Sekolah Binaan Kemenag

Kebijakan tersebut merujuk pada upaya Amerika Serikat untuk memastikan Israel mempertahankan keunggulan kemampuan militer kualitatif dibandingkan negara-negara lain di kawasan.

Laporan Congressional Research Service menjelaskan bahwa QME telah menjadi salah satu pertimbangan penting dalam kebijakan penjualan senjata Amerika Serikat ke Timur Tengah. Laporan tersebut juga mencatat bahwa F-35 merupakan pesawat tempur siluman generasi kelima dan bahwa Israel merupakan operator F-35 di kawasan Timur Tengah.

Karena itu, potensi penjualan F-35 kepada Saudi mendapat perhatian bukan hanya karena jumlah pesawatnya, tetapi juga karena implikasinya terhadap konfigurasi kekuatan udara di kawasan.

Departemen Luar Negeri AS dalam pemberitahuan terbaru menyatakan penjualan tersebut tidak akan mengubah keseimbangan militer regional. Pernyataan tersebut menjadi bagian penting dari proses peninjauan atas transaksi tersebut.

BELUM BERARTI PESAWAT LANGSUNG DIKIRIM

Persetujuan Departemen Luar Negeri merupakan salah satu tahapan dalam proses Foreign Military Sales Amerika Serikat.

Transaksi senjata besar tetap harus melalui mekanisme pemberitahuan dan peninjauan Kongres sesuai ketentuan yang berlaku. Karena itu, masih terdapat tahapan yang harus dilalui sebelum kontrak final dan pelaksanaan pengadaan.

Jumlah pesawat, konfigurasi peralatan, jadwal pengiriman, serta nilai akhir transaksi dapat berubah selama proses negosiasi dan pelaksanaan kontrak.

Dengan demikian, angka 48 F-35 dan US$24,3 miliar dalam pemberitahuan tersebut harus dipahami sebagai bagian dari potensi penjualan yang telah mendapat persetujuan awal dari Departemen Luar Negeri, bukan sebagai bukti bahwa seluruh pesawat telah dibeli dan siap dikirim.

HUBUNGAN PERTAHANAN AS-SAUDI

Potensi penjualan F-35 menjadi bagian dari hubungan pertahanan Amerika Serikat dan Arab Saudi yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Pada 2025, pemerintahan Donald Trump dan Arab Saudi juga mengumumkan paket kerja sama pertahanan bernilai hampir US$142 miliar. Reuters melaporkan bahwa kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan pertahanan antara Washington dan Riyadh.

Bagi Saudi, pengadaan F-35 juga berkaitan dengan agenda modernisasi militer yang berjalan bersamaan dengan program transformasi nasional Vision 2030.

Namun, pengadaan pesawat tempur generasi kelima tidak hanya menyangkut pembelian pesawat. Pengoperasiannya membutuhkan pelatihan personel, pemeliharaan, dukungan logistik, perangkat lunak, keamanan teknologi, serta rantai pasokan dalam jangka panjang.

SAUDI DAN ESKALASI DENGAN HOUTHI

Perkembangan F-35 tersebut terjadi ketika situasi keamanan Saudi menghadapi tekanan baru akibat meningkatnya konflik dengan kelompok Houthi di Yaman.

Reuters pada 17 September 2026 melaporkan Saudi dan Houthi saling melakukan serangan udara dan serangan drone di tengah meluasnya konflik regional. Houthi melancarkan serangan ke wilayah Saudi, sementara Saudi melakukan serangan udara di sejumlah wilayah Yaman.

Media Indonesia juga melaporkan perkembangan tersebut. ANTARA memberitakan bahwa pemerintah Indonesia mengimbau WNI di Arab Saudi meningkatkan kewaspadaan setelah adanya serangan yang diduga dilakukan Houthi.

Pada saat yang sama, otoritas Saudi menyatakan telah mencegat drone yang menurut pemerintah Saudi diarahkan menuju wilayah Makkah. Houthi membantah tuduhan tersebut.

Kondisi keamanan tersebut menjadi latar belakang penting bagi modernisasi pertahanan Saudi, tetapi potensi pengadaan F-35 sendiri merupakan proses yang telah berlangsung jauh sebelum eskalasi terbaru.

F-35 BUKAN SATU-SATUNYA SISTEM PERTAHANAN

Kehadiran F-35 juga perlu dilihat dalam konteks sistem pertahanan Saudi secara keseluruhan.

Pesawat tempur memiliki fungsi berbeda dengan sistem pertahanan udara berbasis darat. Ancaman berupa rudal balistik, rudal jelajah, maupun drone membutuhkan kombinasi radar, sistem komando, rudal pencegat, serta pertahanan udara berlapis.

Karena itu, pengadaan F-35 tidak secara otomatis berarti seluruh persoalan pertahanan udara Saudi akan terselesaikan.

Potensi penjualan tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari modernisasi kekuatan udara Saudi yang lebih luas.

KESEIMBANGAN MILITER KAWASAN MENJADI PERHATIAN

Jika transaksi tersebut akhirnya terealisasi, Arab Saudi akan menjadi salah satu negara di kawasan yang mengoperasikan F-35.

Perkembangan tersebut akan menjadi perhatian bagi negara-negara lain di Timur Tengah karena F-35 membawa kombinasi kemampuan siluman, sensor, komunikasi, dan integrasi informasi yang berbeda dari pesawat tempur generasi sebelumnya.

Namun, dampak akhirnya terhadap keseimbangan militer kawasan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pesawat.

Konfigurasi pesawat, persenjataan, sistem pendukung, kesiapan personel, kemampuan pemeliharaan, jaringan komando, serta integrasi dengan sistem pertahanan lainnya juga akan menentukan kemampuan operasional yang dapat dibangun Saudi.

Karena itu, pernyataan Departemen Luar Negeri AS bahwa potensi penjualan tersebut tidak akan mengubah keseimbangan militer kawasan masih akan menjadi bagian dari pembahasan ketika proses penjualan berlanjut.

PERSPEKTIF UBN NEWSROOM

AMANAH DALAM MENJAGA KEAMANAN DAN KEKUATAN

Perkembangan teknologi militer menunjukkan bahwa kekuatan pertahanan suatu negara terus mengalami perubahan. Pesawat tempur, sistem pertahanan udara, teknologi informasi, dan kemampuan intelijen kini menjadi bagian yang saling terhubung dalam menjaga keamanan sebuah negara.

Namun, kekuatan militer pada akhirnya merupakan amanah yang harus digunakan dengan penuh tanggung jawab.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَعِدُّوا۟ لَهُم مَّا ٱسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍۢ وَمِن رِّبَاطِ ٱلْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ ٱللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍۢ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang, yang dengan persiapan itu kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi.”

QS. Al-Anfal [8]: 60

KEKUATAN DAN TANGGUNG JAWAB

Ayat tersebut mengingatkan pentingnya kesiapan dan kekuatan dalam menghadapi ancaman. Namun, kekuatan tidak berdiri sendiri. Ia harus ditempatkan dalam kerangka tanggung jawab dan ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Modernisasi pertahanan dapat menjadi bagian dari ikhtiar menjaga keamanan dan kedaulatan. Pada saat yang sama, semakin besar kemampuan yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan penggunaannya tidak melampaui batas dan tidak menjadi sarana menzalimi manusia.

Di tengah ketegangan yang terus berkembang di Timur Tengah, setiap peningkatan kemampuan militer juga perlu dibaca dengan memperhatikan keselamatan masyarakat sipil, stabilitas kawasan, serta upaya mencegah meluasnya konflik.

CATATAN REDAKSI

Berita ini disusun berdasarkan laporan Reuters pada 17 September 2026 mengenai persetujuan Departemen Luar Negeri AS terhadap potensi penjualan 48 F-35 kepada Arab Saudi, serta dilengkapi dengan rujukan Congressional Research Service mengenai kebijakan qualitative military edge Israel dan perkembangan keamanan Saudi-Houthi.

UBN Newsroom membedakan antara persetujuan potensi penjualan oleh Departemen Luar Negeri AS dengan kontrak final dan pengiriman pesawat. Hingga berita ini disusun, 48 F-35 tersebut belum berarti seluruhnya telah dibeli atau dikirim ke Arab Saudi.

Perkembangan konflik Saudi-Houthi juga disajikan berdasarkan laporan pihak terkait dan media. Klaim mengenai serangan masing-masing pihak ditempatkan sebagai klaim dari pihak yang bersangkutan apabila belum terdapat verifikasi independen.

DUKUNGAN OPERASIONAL DAKWAH & JURNALISME PERADABAN

UBN Newsroom hadir sebagai bagian dari ikhtiar dakwah dan jurnalisme peradaban untuk menyampaikan informasi yang teruji, mencerdaskan umat, serta menghadirkan perspektif Islam dalam membaca berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat dan dunia.

Keberlangsungan kerja dakwah dan jurnalisme membutuhkan dukungan bersama. Setiap dukungan yang diberikan menjadi bagian dari ikhtiar untuk menjaga keberlanjutan produksi konten, peliputan, riset, verifikasi informasi, dan penyebaran narasi yang membawa kemaslahatan bagi umat.

Dukungan operasional dapat disalurkan melalui:

BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.

Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement