PONOROGO, UBN NEWSROOM — Jumat, 7 Rabiul Akhir 1448 H / 18 September 2026 M.
Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) memasuki puncak peringatan satu abad pada September 2026. Seratus tahun perjalanan itu menempatkan Gontor bukan hanya sebagai pesantren yang bertahan melewati pergantian zaman, tetapi juga sebagai lembaga pendidikan yang sejak awal membangun sistem agar kehidupan pondok tidak bergantung pada usia para pendirinya.
PMDG didirikan pada 20 September 1926 oleh tiga bersaudara yang kemudian dikenal sebagai Trimurti Pendiri Gontor, yakni K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fannanie, dan K.H. Imam Zarkasyi. Pada 2026, rangkaian peringatan satu abad memasuki puncaknya pada 18–20 September melalui khotmul Qur’an, sujud syukur, resepsi kesyukuran, dan reuni akbar alumni.
Di tengah momentum tersebut, sebuah pesan K.H. Imam Zarkasyi menjelang wafatnya kembali relevan untuk dibaca. Pesan itu menggambarkan keyakinannya bahwa masa depan pondok tidak boleh bergantung kepada keberadaan seorang pendiri.
“Kalau saya nanti mati, pondok ini insya Allah akan maju.”
PESAN IMAM ZARKASYI MENJELANG WAFAT
Kesaksian mengenai pesan tersebut disampaikan oleh putranya, K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi. Dalam sebuah kesaksian yang kemudian dikutip dalam berbagai kajian mengenai pendidikan Gontor, Abdullah Syukri mengenang bahwa kalimat itu disampaikan Imam Zarkasyi pada Jumat terakhir sebelum wafat.
Ketika itu, Abdullah Syukri meminta ayahnya memberikan pembekalan kepada para santri dan guru. Imam Zarkasyi kemudian menyampaikan pesan yang tidak hanya berisi keyakinan mengenai masa depan Gontor, tetapi juga peringatan agar generasi setelahnya tidak sembarangan melakukan perubahan.
“Dengan jiwa dan filsafat hidup pondok yang ada ini saja, kalau dilaksanakan dengan baik dan sungguh-sungguh, insya Allah akan maju. Untuk mengambil langkah-langkah baru, hendaknya hati-hati!”
Kesaksian tersebut menunjukkan bahwa bagi Imam Zarkasyi, keberlanjutan pondok bukan semata-mata persoalan memperbesar lembaga. Yang lebih penting adalah kemampuan generasi berikutnya menjaga jiwa, filsafat, disiplin, dan sistem yang telah dibangun para pendiri.
ANAK PENDIRI TIDAK OTOMATIS MENJADI PEMIMPIN
Pandangan tersebut juga terlihat dalam cara Imam Zarkasyi mendidik anaknya sendiri.
Dalam kesaksian Abdullah Syukri, Imam Zarkasyi pernah memberikan pesan kepada dirinya dan K.H. Hasan Abdullah Sahal, putra K.H. Ahmad Sahal. Keduanya diingatkan bahwa hubungan darah dengan pendiri tidak memberikan jaminan untuk tetap berada di dalam pondok apabila tidak memegang jiwa dan disiplin Gontor.
“Syukri, kowe anakku. Hasan, kowe anake Pak Sahal. Pegang jiwa dan filsafat pondok serta sunnah dan disiplinnya. Kalau tidak, kamu sendiri yang akan terpental dari pondok ini.”
Pesan tersebut menggambarkan prinsip kaderisasi yang menempatkan nilai dan tanggung jawab di atas hubungan keluarga.
Abdullah Syukri juga mengalami sendiri pola pendidikan tersebut. Setelah masuk Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI), ia tinggal di asrama bersama para santri dan tetap dikenai disiplin pondok ketika melakukan pelanggaran.
Dalam kesaksiannya, Abdullah Syukri menyebut ayahnya tidak membedakan dirinya dengan santri lain. Bahkan, ia merasakan bahwa sebagai anak pendiri, dirinya justru dituntut untuk menjalani pendidikan dan disiplin dengan sungguh-sungguh.
PENDIDIKAN YANG DIBENTUK DARI KESEDERHANAAN
Di balik pembangunan Gontor, keluarga Imam Zarkasyi juga menjalani kehidupan yang sederhana.
Abdullah Syukri mengenang bahwa pakaian yang ia kenakan ketika kecil tidak jauh berbeda dengan pakaian sebagian santri. Ketika menginginkan sepatu sepak bola, ia harus menunggu hingga keluarga memiliki uang setelah hasil penjualan kedelai diperoleh.
Anak-anak juga terbiasa membantu pekerjaan keluarga, mulai dari mencari sayur, membeli obat, mengantar adik, hingga melakukan pekerjaan yang lazim dilakukan anak-anak desa pada masa itu.
Pada periode ketika Gontor belum memiliki banyak guru senior, Imam Zarkasyi disebut mengajar dalam jumlah jam yang besar sekaligus mengawasi kehidupan santri, mengurus pendidikan, membina organisasi, dan memikirkan pendanaan pondok.
Kesibukan tersebut membuat urusan keluarga lebih banyak ditangani oleh istrinya. Kehidupan keluarga dan perjuangan pendidikan akhirnya berjalan berdampingan dalam suasana sederhana.
WAKAF DAN KEPUTUSAN MEMISAHKAN PONDOK DARI KEPEMILIKAN KELUARGA
Salah satu keputusan penting dalam sejarah kelembagaan Gontor adalah menjadikan pondok sebagai wakaf.
Dengan wakaf, pondok tidak ditempatkan sebagai kekayaan keluarga yang diwariskan secara pribadi kepada keturunan pendiri. Pengelolaan lembaga ditempatkan dalam kerangka amanah kelembagaan yang memungkinkan keberlangsungannya melampaui satu generasi.
Gontor sendiri dalam berbagai penjelasan mengenai perjalanan satu abadnya menempatkan wakaf, sistem pendidikan, kaderisasi, dan nilai yang diwariskan Trimurti sebagai bagian penting dari fondasi keberlanjutan pondok.
Konsekuensinya, masa depan Gontor tidak ditentukan oleh siapa anak pendirinya, melainkan oleh kemampuan generasi penerus menjaga amanah dan menjalankan sistem yang telah dibangun.
UANG PONDOK BUKAN MILIK PRIBADI
Prinsip pemisahan antara kepentingan pribadi dan kepentingan pondok juga tercermin dalam kesaksian mengenai pengelolaan keuangan Imam Zarkasyi.
Abdullah Syukri mengenang bahwa ayahnya tidak memegang sendiri uang pondok. Dana yang berkaitan dengan kepentingan lembaga diserahkan kepada bagian administrasi yang bertanggung jawab mengelolanya.
Salah satu pengalaman yang dikenangnya terjadi sekitar sepuluh hari sebelum Imam Zarkasyi wafat. Abdullah Syukri diminta mengantar ayahnya ke Madiun untuk mengambil uang di bank yang akan digunakan bagi pembangunan pondok.
Setelah uang tersebut diambil, Imam Zarkasyi menyerahkan tas berisi uang kepada Abdullah Syukri untuk dibawa kembali ke Gontor. Sesampainya di pondok, uang itu langsung diserahkan kepada bagian administrasi.
Tas tersebut kemudian dikembalikan ke meja Imam Zarkasyi dan, menurut kesaksian Abdullah Syukri, tetap berada di sana hingga ayahnya wafat.
Kisah tersebut menggambarkan cara pandang bahwa harta pondok merupakan amanah institusi yang harus dipisahkan dari kepentingan pribadi.
DARI ANAK PENDIRI MENJADI KADER
Abdullah Syukri juga tidak langsung ditempatkan sebagai pemimpin hanya karena merupakan putra Imam Zarkasyi.
Setelah menyelesaikan pendidikan di KMI, ia diarahkan untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Ia kemudian belajar di IAIN Jakarta sebelum melanjutkan pendidikan ke Mesir.
Setelah kembali ke Gontor, proses pembentukan kepemimpinannya berlangsung melalui penugasan dan pengalaman. Ia dilibatkan dalam pengasuhan santri, hubungan dengan tokoh masyarakat, penyelesaian persoalan pondok, hingga berbagai tugas ke luar daerah.
Sejak 1983, tanggung jawab pengasuhan santri semakin banyak dipercayakan kepadanya. Namun, berbagai persoalan penting tetap menjadi bagian dari proses belajar bersama Imam Zarkasyi.
Pola tersebut menunjukkan bahwa kaderisasi tidak dimulai dari jabatan. Kepemimpinan dibentuk melalui pendidikan, pengalaman, tanggung jawab, dan proses panjang memahami kehidupan pondok.
SERATUS TAHUN KEMUDIAN
Seratus tahun setelah Gontor dibuka kembali pada 20 September 1926, keadaan dunia telah berubah jauh.
Gontor kini memiliki jaringan pendidikan, universitas, alumni, dan pesantren alumni yang luas. Dalam rangkaian peringatan satu abad, Gontor menyebut jejaring alumninya telah menjangkau lebih dari 1.300 pesantren alumni di berbagai wilayah. Pada saat yang sama, lembaga tersebut mulai memasuki pembicaraan mengenai arah perjalanan menuju abad kedua.
Namun, pertanyaan mendasar yang dihadapi sebuah lembaga pendidikan tetap sama: bagaimana menjaga nilai ketika generasi berganti dan zaman berubah?
Trimurti telah lama wafat. Abdullah Syukri yang kemudian menjadi salah seorang tokoh penting dalam kepemimpinan Gontor pasca-Trimurti juga telah wafat.
Pondok tetap berjalan.
Di situlah pesan Imam Zarkasyi memperoleh makna sejarah yang lebih panjang.
“Kalau saya nanti mati, pondok ini insya Allah akan maju.”
Kalimat tersebut tidak berdiri sendiri. Imam Zarkasyi langsung menyertainya dengan peringatan agar generasi penerus berhati-hati ketika mengambil langkah baru dan tetap berpegang kepada jiwa serta filsafat hidup pondok.
Dengan demikian, kemajuan tidak dimaknai sebagai perubahan tanpa batas. Kemajuan harus berjalan bersama kemampuan menjaga fondasi.
Puncak peringatan 100 Tahun Gontor pada 18–20 September 2026 menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan tersebut. Rangkaian acara dimulai dengan khotmul Qur’an dan sujud syukur pada Jumat, 18 September, dilanjutkan resepsi kesyukuran pada Sabtu, 19 September, dan reuni akbar alumni pada Ahad, 20 September.
PERSPEKTIF UBN NEWSROOM
AMANAH YANG MELAMPAUI USIA MANUSIA
Perjalanan Gontor menunjukkan bahwa keberlanjutan sebuah lembaga tidak hanya ditentukan oleh kuatnya figur pendiri.
Manusia memiliki usia yang terbatas. Karena itu, sebuah perjuangan yang ingin bertahan lebih panjang membutuhkan amanah yang diteruskan melalui pendidikan, nilai, sistem, kaderisasi, dan kelembagaan.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS. An-Nisa [4]: 58)
Dalam konteks kelembagaan, amanah tidak berhenti pada menjaga aset atau jabatan. Amanah juga mencakup menjaga tujuan, nilai, dan tanggung jawab yang diwariskan agar tidak hilang ketika generasi berganti.
MENJAGA JIWA, TERBUKA TERHADAP ZAMAN
Nasihat Imam Zarkasyi agar generasi berikutnya berhati-hati dalam mengambil langkah baru juga menunjukkan bahwa mempertahankan tradisi tidak selalu berarti menutup diri dari perubahan.
Sebuah lembaga dapat berkembang dan melakukan pembaruan, tetapi pembaruan membutuhkan pijakan agar tidak kehilangan arah.
Di sinilah kaderisasi menjadi penting. Generasi baru tidak hanya membutuhkan kesempatan untuk memimpin, tetapi juga proses panjang untuk memahami mengapa sebuah sistem dibangun dan nilai apa yang harus dijaga.
Seratus tahun Gontor pada akhirnya bukan hanya tentang usia sebuah pesantren.
Ia adalah tentang apakah sebuah perjuangan mampu hidup setelah para pejuangnya pergi.
Gedung dapat diperluas. Institusi dapat berkembang. Teknologi dapat berubah. Generasi dapat berganti.
Namun, ketika jiwa perjuangan tetap dijaga, sebuah lembaga memiliki kemungkinan untuk terus berjalan melampaui usia pendirinya.
CATATAN REDAKSI
Tulisan ini disusun berdasarkan sumber resmi Pondok Modern Darussalam Gontor mengenai peringatan 100 tahun, serta kesaksian dan riwayat mengenai K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi yang menjadi dasar narasi tentang kaderisasi, disiplin, wakaf, dan pengelolaan pondok.
PMDG menyatakan didirikan pada 20 September 1926 oleh K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fannanie, dan K.H. Imam Zarkasyi. Rangkaian puncak peringatan satu abad berlangsung pada 18–20 September 2026.
DUKUNGAN OPERASIONAL DAKWAH & JURNALISME PERADABAN
UBN Newsroom hadir sebagai bagian dari ikhtiar dakwah dan jurnalisme peradaban untuk menyampaikan informasi yang teruji, mencerdaskan umat, serta menghadirkan perspektif Islam dalam membaca berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat dan dunia.
Keberlangsungan kerja dakwah dan jurnalisme membutuhkan dukungan bersama. Setiap dukungan yang diberikan menjadi bagian dari ikhtiar untuk menjaga keberlanjutan produksi konten, peliputan, riset, verifikasi informasi, dan penyebaran narasi yang membawa kemaslahatan bagi umat.
Dukungan operasional dapat disalurkan melalui:
BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.
Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu.

Comment