Advertisement
Timur Tengah
Home » Pakistan Belum Menyerah Mediasi AS-Iran, Pembicaraan di New York Masih Buntu

Pakistan Belum Menyerah Mediasi AS-Iran, Pembicaraan di New York Masih Buntu

NEW YORK | UBN Newsroom — Kamis, 12 Rabiul Akhir 1448 H / 24 September 2026 M.

Pakistan menegaskan belum menyerah dalam upayanya menjembatani Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri perang. Pernyataan itu muncul ketika Washington dan Teheran kembali melakukan pembicaraan tidak langsung di sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, tetapi belum menghasilkan terobosan menuju penyelesaian konflik.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan Islamabad tetap memusatkan perhatian pada upaya deeskalasi. Pakistan, menurut dia, masih melihat ruang bagi diplomasi meskipun proses perdamaian yang sebelumnya dibangun mengalami kemunduran.

“Pakistan memainkan peran sebagai mediator yang tulus dan jujur antara Iran, negara tetangga kami, dan Amerika Serikat,” kata Sharif kepada wartawan di markas PBB, Rabu (23/9/2026).

Sharif mengingatkan Pakistan sebelumnya ikut memfasilitasi Islamabad Memorandum of Understanding yang melibatkan dirinya, Presiden AS Donald Trump, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Kesepakatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kerangka menuju penyelesaian konflik.

Penggerebekan Ponpes Sukoharjo, Santriwati Diduga Diintimidasi

Namun, perkembangan setelah itu tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. “Sayangnya, perkembangan setelah itu menjadi agak tidak dapat diprediksi. Tetapi Pakistan tetap sepenuhnya fokus. Kami belum kehilangan harapan,” ujar Sharif.

Ia mengatakan Islamabad bertekad melanjutkan usaha untuk menurunkan eskalasi. Ketika ditanya mengenai kemungkinan pertemuan lanjutan antara AS dan Iran, Sharif menyebut diplomasi sebagai “proses yang berkelanjutan” dan mengatakan negara-negara sahabat juga ikut berkontribusi untuk mencapai perdamaian.

Pembicaraan Tidak Langsung Kembali Dibuka

Pernyataan tersebut datang hanya beberapa jam setelah pembicaraan tidak langsung terbaru antara Washington dan Teheran di New York. Reuters melaporkan pertemuan itu merupakan pembicaraan dengan pola shuttle diplomacy pertama kedua pihak dalam beberapa bulan.

Mediator bergerak bolak-balik menyampaikan pesan antara delegasi AS dan Iran. Meski pertemuan kembali membuka jalur diplomasi, posisi kedua pihak mengenai cara mengakhiri perang masih berjauhan.

Netanyahu Kehilangan Mayoritas, Qatar Terseret Tuduhan Intervensi Pemilu

“Masih terdapat banyak perbedaan antara posisi Iran dan Amerika Serikat, tetapi diplomasi terus berjalan,” kata seorang pejabat senior Iran kepada Reuters dengan syarat anonim.

Karena itu, istilah “buntu” dalam perkembangan terbaru lebih menggambarkan belum adanya terobosan substantif ketimbang berhentinya pembicaraan. Kedua pihak masih berkomunikasi melalui mediator, tetapi belum menyepakati formula untuk mengakhiri perang.

Teheran kini sedang mempelajari respons Washington terhadap proposal perdamaian Iran. Proposal tersebut antara lain memprioritaskan pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Selat Hormuz dan Blokade Jadi Persoalan Utama

Iran dan AS mempunyai pandangan berbeda mengenai Hormuz. Iran ingin memiliki kontrol lebih besar terhadap jalur tersebut, termasuk gagasan pengenaan biaya terhadap kapal yang melintas, sedangkan Washington menegaskan selat itu harus tetap sepenuhnya terbuka bagi pelayaran internasional.

Arab Saudi Siapkan Penyimpanan Minyak di Singapura, Kapasitas Gua Bawah Tanah Capai 9 Juta Barel

Perbedaan lain menyangkut tekanan militer, sanksi, dan program nuklir Iran. Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB, Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan tunduk terhadap tekanan dan kembali mengatakan negaranya tidak mengejar senjata nuklir.

Trump sehari sebelumnya mempertahankan tekanan terhadap Teheran. Ia mengatakan AS tidak akan membiarkan Iran memperoleh senjata nuklir dan masih mempunyai pilihan militer apabila jalur diplomasi gagal.

Di tengah jarak posisi itulah Pakistan mencoba mempertahankan perannya sebagai penghubung.

Ishaq Dar Bertemu Abbas Araqchi

Pada Kamis (24/9/2026), Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan Mohammad Ishaq Dar bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York.

Dar kembali menekankan pentingnya dialog, diplomasi, dan komunikasi yang terus berlangsung untuk mencapai perdamaian dan stabilitas regional. Radio Pakistan melaporkan Dar dan Araqchi juga membahas hubungan bilateral serta perkembangan regional dan internasional.

Kedua menteri sepakat mempertahankan kontak erat. Pertemuan tersebut memperlihatkan Islamabad tetap membuka jalur langsung dengan Teheran pada saat mediasi AS-Iran memasuki fase yang menentukan.

Al Ahram dalam edisi yang terbit Kamis (24/9/2026) juga menempatkan pertemuan pejabat Pakistan dan Iran sebagai bagian penting dari diplomasi yang berlangsung di New York. Media Mesir tersebut mencatat perhatian tertuju pada pertemuan Pezeshkian dengan Sharif serta pembicaraan Araqchi dengan Dar ketika mediator berusaha mempersempit perbedaan Washington dan Teheran.

Menurut Al Ahram, Iran membawa sejumlah persyaratan yang cakupannya lebih luas daripada sekadar penghentian serangan udara. Tuntutan Teheran antara lain menyangkut penghentian perang, blokade, aset Iran yang dibekukan, serta sejumlah persoalan politik dan keamanan lainnya.

Ahram Online juga melaporkan Iran telah menyampaikan persyaratan untuk mengakhiri perang kepada AS melalui mediator Qatar di New York. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan tuntutan tersebut mencakup berakhirnya perang di semua front, penghentian tindakan yang Iran sebut sebagai agresi AS, berakhirnya blokade laut dan tekanan ekonomi, serta pelepasan aset Iran.

Utusan AS Steve Witkoff mengatakan mediator telah bergerak bolak-balik di antara kedua delegasi sepanjang pembicaraan. Dengan mekanisme tersebut, kedua pihak masih dapat bertukar proposal tanpa harus melakukan negosiasi langsung dalam satu ruangan.

Diplomasi Regional dan Kepentingan Pakistan

Pakistan sendiri bukan pemain baru dalam proses tersebut. Sejak perang pecah, Islamabad berupaya menggunakan hubungannya dengan Washington dan Teheran untuk mempertahankan saluran komunikasi ketika dialog langsung sulit dilakukan.

Dawn melaporkan delegasi Pakistan menjalankan diplomasi intensif selama Sidang Majelis Umum PBB. Sharif dan Dar melakukan berbagai pertemuan sambil terus mendorong AS dan Iran kembali ke meja perundingan.

Menurut sumber diplomatik yang dikutip Dawn, Pakistan secara diam-diam tetapi konsisten mendorong Washington dan Teheran mempertahankan kontak tidak langsung dan tetap terbuka terhadap kemungkinan pembicaraan langsung.

Upaya tersebut juga mendapat dukungan dari negara kawasan lainnya. Pakistan bersama Mesir, Arab Saudi, dan Turki melakukan pembicaraan dalam format Regional Four atau R4 di New York mengenai deeskalasi serta keamanan jalur pelayaran internasional.

Pertemuan itu menyoroti dimensi lain dari perang AS-Iran: dampaknya tidak hanya terbatas pada medan militer. Ketegangan telah mengganggu jalur perdagangan, memengaruhi pasar energi, dan meningkatkan kekhawatiran mengenai keselamatan pelayaran.

Selat Hormuz menjadi salah satu persoalan paling sensitif. Sebelum perang, jalur sempit tersebut menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia. Karena itu, pembukaan kembali selat menjadi bagian penting dari negosiasi yang sedang berlangsung.

Pakistan mempunyai kepentingan langsung terhadap stabilitas tersebut. Sebagai negara pengimpor energi dan bertetangga dengan Iran, kenaikan harga minyak maupun meluasnya konflik berpotensi memberi tekanan tambahan terhadap ekonomi dan keamanan Pakistan.

Posisi Islamabad sekaligus berbeda dengan sekadar menjadi pendukung salah satu pihak. Pemerintah Pakistan berusaha mempertahankan hubungan dekat dengan Iran, negara-negara Teluk, dan AS pada waktu bersamaan.

Itulah yang membuat Sharif berulang kali menggambarkan Pakistan sebagai mediator, bukan pihak dalam konflik. Pernyataan “kami belum kehilangan harapan” juga menunjukkan Islamabad tidak menganggap kegagalan implementasi kesepakatan sebelumnya sebagai akhir dari proses diplomasi.

Jalan Menuju Perdamaian Masih Panjang

Namun, tantangan yang dihadapi mediator tetap besar. Reuters mencatat pembicaraan terbaru tidak menunjukkan konsesi terbuka dari kedua pihak mengenai syarat mengakhiri perang. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan sebuah kesepakatan dengan Iran masih membutuhkan kerja keras dalam jangka waktu tertentu.

Iran pun mempertahankan sikap bahwa diplomasi harus disertai perubahan konkret dari Washington. Teheran menempatkan pencabutan blokade dan persoalan Hormuz sebagai bagian penting dari penyelesaian, sementara AS mempertahankan tekanan dan tidak mengesampingkan opsi militer.

Dengan demikian, diplomasi New York menghadirkan dua gambaran yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, AS dan Iran kembali bertukar pesan setelah berbulan-bulan mengalami kebuntuan. Di sisi lain, perbedaan fundamental mengenai syarat perdamaian belum terselesaikan.

Bagi Pakistan, situasi tersebut justru membuat komunikasi semakin penting. Pertemuan Dar dengan Araqchi pada Kamis memperlihatkan Islamabad tidak hanya menyampaikan seruan diplomasi dari kejauhan, tetapi terus menjaga kontak langsung dengan salah satu pihak utama konflik.

Belum ada tanda bahwa pertemuan di New York akan segera menghasilkan perjanjian perdamaian. Namun, jalur komunikasi yang kembali terbuka memberi mediator ruang untuk terus bekerja.

Pakistan pun memilih bertahan di ruang tersebut. Ketika Washington dan Teheran masih berjauhan, Islamabad menyampaikan pesan bahwa kegagalan mencapai terobosan dalam satu putaran pembicaraan belum menjadi alasan untuk menutup jalan diplomasi.

Perspektif UBN Newsroom | Diplomasi sebagai Jalan Menjaga Perdamaian

Islam menempatkan perdamaian sebagai jalan yang perlu ditempuh ketika terdapat peluang untuk menghentikan permusuhan. Namun, perdamaian tidak boleh dilepaskan dari keadilan, perlindungan jiwa, dan penghormatan terhadap hak setiap pihak.

Allah SWT berfirman:

وَإِن جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya:

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

(QS. Al-Anfal [8]: 61)

Ayat tersebut memberikan landasan bahwa ketika terdapat peluang menuju perdamaian, jalan tersebut patut ditempuh dengan tetap menjaga keadilan dan kewaspadaan.

Dalam konteks konflik AS-Iran, keberhasilan diplomasi tidak cukup diukur dari banyaknya pertemuan atau pernyataan politik. Hal yang lebih mendasar adalah berkurangnya penderitaan masyarakat, terjaminnya keselamatan warga sipil, terbukanya akses bantuan kemanusiaan, serta tercapainya penyelesaian yang menghormati hak dan kedaulatan negara.

Pakistan menyatakan akan melanjutkan upaya mediasi. Komitmen tersebut kini berhadapan dengan tantangan besar untuk menerjemahkan komunikasi diplomatik menjadi langkah nyata menuju penghentian konflik.

Perdamaian yang berkelanjutan membutuhkan kesungguhan seluruh pihak, penghormatan terhadap hukum internasional, serta keberanian menempatkan keselamatan manusia di atas kepentingan yang memperpanjang permusuhan.

Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban

UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.

Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement