TEL AVIV, UBN NEWSROOM — Selasa, 16 Jumadil akhir 1448 H / 27 Oktober 2026 M.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan mengadakan pertemuan tertutup dengan mantan pejabat senior Mossad yang diduga terlibat dalam kampanye pengaruh Qatar di Israel pada 2024, ketika perang Gaza masih berlangsung. Pengungkapan investigasi Channel 12 pada Ahad (25/10/2026) menambah sorotan terhadap skandal Qatargate yang menyeret sejumlah orang dekat Netanyahu.
Pertemuan Rahasia di Tengah Perang Gaza
Menurut investigasi Channel 12 yang dikutip The Times of Israel, mantan pejabat tersebut hanya disebut dengan inisial Ibrani “S”. Ia diduga meminta Netanyahu meredam kritik sejumlah menteri Israel terhadap Qatar, termasuk Amichai Chikli, Nir Barkat, dan Ron Dermer.
Laporan itu menyebut pertemuan berlangsung tanpa tercatat dalam agenda resmi perdana menteri. Direktur Mossad saat itu, David Barnea, juga dilaporkan tidak diberi informasi mengenai pertemuan tersebut. Namun, informasi ini merupakan temuan yang diberitakan media dan belum dengan sendirinya membuktikan adanya pelanggaran hukum.
Jaringan Konsultan dan Dugaan Aliran Dana
Mantan pejabat Mossad tersebut diduga menjadi penghubung antara penasihat Netanyahu, Jonatan Urich dan Yisrael Einhorn, dengan pejabat senior Qatar, Ali al-Thawadi. Pertemuan antara pihak-pihak tersebut dilaporkan berlangsung di Eropa pada Juli 2024.
Channel 12 juga melaporkan penyelidik menemukan pembayaran sekitar 1,9 juta shekel kepada Urich sepanjang Januari hingga September 2024 yang diduga berkaitan dengan kegiatan komunikasi untuk kepentingan Qatar. Pembayaran tersebut disebut disalurkan melalui Einhorn, sementara tujuan dan konteks keseluruhan transaksi masih menjadi bagian penyelidikan.
Netanyahu Belum Berstatus Tersangka
Kepolisian Israel menyelidiki kemungkinan konflik kepentingan dan dugaan kegiatan pengaruh asing yang melibatkan orang-orang di lingkungan perdana menteri. Urich membantah tuduhan bahwa dirinya diminta mendekati para menteri untuk menghentikan kritik terhadap Qatar, sedangkan Netanyahu menyatakan tidak mengetahui kegiatan konsultasi penasihatnya untuk negara tersebut.
Hingga laporan yang dirujuk diterbitkan, Netanyahu belum berstatus tersangka dalam perkara Qatargate. Pengungkapan pertemuan tersebut juga belum membuktikan bahwa ia menerima pembayaran dari Qatar atau mengubah kebijakan pemerintah sebagai imbalan atas pertemuan itu.
Peran Qatar dalam Diplomasi Gaza
Qatar memiliki peran penting dalam perundingan tidak langsung antara Israel dan Hamas, termasuk pembicaraan mengenai pembebasan sandera dan gencatan senjata bersama Mesir dan Amerika Serikat. Pada saat yang sama, hubungan Doha dengan Hamas telah lama menjadi sasaran kritik sejumlah pejabat Israel.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai batas antara diplomasi yang sah, kegiatan konsultasi komersial, dan potensi konflik kepentingan ketika konsultan yang bekerja untuk pihak asing memiliki akses kepada pengambil keputusan pemerintah.
Tekanan Politik Menjelang Pemilu
Pengungkapan terbaru muncul menjelang pemilihan umum Israel pada 27 Oktober 2026. Tokoh oposisi Naftali Bennett mendesak agar hubungan Netanyahu dengan Qatar dan aktivitas orang-orang terdekatnya dijelaskan secara terbuka.
Meski demikian, tuduhan politik harus dibedakan dari kesimpulan hukum. Sejumlah pertanyaan mengenai siapa yang mengatur pertemuan, sejauh mana Netanyahu mengetahui aktivitas konsultasi tersebut, dan apakah ada pengaruh terhadap kebijakan pemerintah masih memerlukan pembuktian melalui proses penyelidikan.

Comment