Agama
Home » MUI DKI Jakarta Ingatkan Bahaya Hoaks, Tekankan Pentingnya Tabayyun di Era AI

MUI DKI Jakarta Ingatkan Bahaya Hoaks, Tekankan Pentingnya Tabayyun di Era AI

JAKARTA | UBN Newsroom — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), prinsip tabayyun dinilai menjadi benteng utama dalam menangkal hoaks, misinformasi, dan disinformasi.

Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Umum MUI DKI Jakarta, KH Auzai Mahfudz, saat membuka Workshop “Mengenali Hoaks: Fact Checking” yang dirangkaikan dengan peluncuran situs web resmi terbaru MUI DKI Jakarta di D’Arcici Hotel Sunter, Jakarta Utara, Kamis (6/8/2026).

Mengusung tema “Tabayyun di Era Digital: Membangun Budaya Verifikasi dalam Menghadapi Misinformasi dan Disinformasi”, kegiatan ini diikuti mahasiswa, perwakilan organisasi kemasyarakatan, serta para praktisi sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi digital di kalangan umat.

Dalam sambutannya, KH Auzai menegaskan bahwa Islam telah mengajarkan etika verifikasi informasi jauh sebelum hadirnya teknologi digital. Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra ayat 36 yang mengingatkan agar seseorang tidak mengikuti ataupun menyebarkan sesuatu yang belum diketahui kebenarannya.

“Jangan pernah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Nabi juga mengingatkan, ‘Cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika ia menceritakan semua yang didengarnya’,” ujar KH Auzai.

Jelang HUT Ke-81 RI, AQL Islamic Center Bersolek dengan Nuansa Merah Putih

Ia menilai kebiasaan meneruskan pesan di media sosial tanpa memeriksa sumber dan isi informasi menjadi salah satu penyebab utama maraknya penyebaran hoaks.

“Sering kali informasi baru masuk, belum dibuka videonya, belum dibaca isinya, langsung diteruskan ke grup lain. Padahal bisa jadi videonya hasil AI atau informasinya tidak benar,” katanya.

Menurut KH Auzai, tradisi tabayyun telah lama menjadi bagian dari khazanah keilmuan Islam, khususnya melalui disiplin ilmu hadis. Para ulama mengembangkan metode yang ketat dengan meneliti kredibilitas perawi, kesinambungan sanad, hingga isi atau matan hadis sebelum menetapkan keabsahannya.

Ia juga mencontohkan kisah sahabat Nabi Muhammad ﷺ, Jabir bin Abdullah, yang rela menempuh perjalanan jauh demi memastikan kebenaran satu hadis. Kisah tersebut menunjukkan bahwa memperoleh informasi yang benar membutuhkan kesungguhan, kehati-hatian, dan pengorbanan.

KH Auzai mengingatkan bahwa perkembangan AI membuat masyarakat semakin sulit membedakan konten asli dengan hasil manipulasi digital. Karena itu, ia berharap literasi AI terus diperkuat, termasuk di kalangan ulama dan tokoh masyarakat.

Lukman Hakim Saifuddin: Muktamar NU Harus Jaga Izzah, Hindari Politik Uang dan Voting

“Gelombang AI ini tidak mungkin dihindari. Lima tahun ke depan perkembangannya akan jauh lebih dahsyat. Karena itu masyarakat harus dibekali kemampuan membedakan mana informasi yang autentik dan mana yang hasil manipulasi,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, KH Auzai merangkum empat prinsip tabayyun yang perlu diterapkan masyarakat, yaitu:

  • Memeriksa sumber informasi.
  • Mengecek kredibilitas penyampai berita.
  • Tidak terburu-buru menyebarkan informasi.
  • Melakukan klarifikasi sebelum mengambil kesimpulan.

Workshop ini menghadirkan Managing Editor Kompas.com sekaligus anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI), J. Heru Margianto, dan Ketua Komisi Infokom MUI DKI Jakarta Raihan Febriansyah sebagai narasumber. Turut hadir Wakil Ketua Umum MUI DKI Jakarta KH Yusuf Aman serta Ketua Bidang Infokom MUI DKI Jakarta Faiz Rafdhi.

Pada kesempatan yang sama, MUI DKI Jakarta juga meluncurkan situs web resmi terbaru sebagai pusat informasi organisasi, layanan publik, serta kanal Tanya Ulama Jakarta. Portal tersebut diharapkan menjadi rujukan informasi resmi yang cepat, transparan, dan tepercaya bagi masyarakat.

Melalui kegiatan ini, MUI DKI Jakarta mengajak masyarakat membiasakan prinsip “saring sebelum sharing” agar ruang digital tetap sehat, produktif, dan tidak dipenuhi informasi palsu yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa.

Indonesia Kembali Gagal di Piala AFF 2026

Perspektif UBN Newsroom

Perkembangan teknologi AI menghadirkan berbagai kemudahan sekaligus tantangan baru dalam dunia informasi. Kemampuan menghasilkan teks, gambar, audio, dan video yang menyerupai aslinya membuat masyarakat dituntut memiliki literasi digital yang lebih baik. Budaya verifikasi atau fact checking menjadi kunci untuk menjaga ruang digital tetap sehat, mencegah penyebaran hoaks, serta memperkuat kepercayaan publik terhadap informasi yang benar.

Perspektif Compliance Islam

Islam mengajarkan pentingnya tabayyun (verifikasi) sebelum menerima maupun menyebarkan suatu berita. Menyampaikan informasi tanpa memastikan kebenarannya dapat menimbulkan fitnah, perpecahan, dan kerugian bagi banyak pihak. Oleh karena itu, setiap Muslim dituntut untuk bersikap hati-hati, jujur, dan bertanggung jawab dalam bermedia, termasuk di era kecerdasan buatan (AI).

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Hujurat: 6)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika ia menceritakan setiap apa yang didengarnya.” (HR. Muslim)

Ayat dan hadis tersebut menegaskan bahwa verifikasi informasi merupakan bagian dari akhlak seorang Muslim. Di era digital, prinsip tabayyun menjadi semakin penting agar teknologi dimanfaatkan untuk menyebarkan kebenaran, memperkuat ukhuwah, dan menjaga persatuan umat.*

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *