REOK, MANGGARAI | UBN Newsroom — Jumat, 8 Rabiul Awal 1448 H / 21 Agustus 2026 M.Beberapa jam menjelang pelaksanaan shalat Jumat, seorang pengurus Masjid Nurul Barakah datang tergopoh-gopoh ke Posko AQL Humanity yang berada di halaman Masjid Besar Nurul Huda, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dengan helm masih melekat di kepala dan napas terengah-engah, pengurus tersebut segera menemui Koordinator AQL Humanity, Ustaz Firman, untuk menyampaikan permohonan bantuan terpal. Kebutuhan itu mendesak karena jamaah membutuhkan tempat berteduh untuk melaksanakan shalat Jumat.
Permintaan Datang di Tengah Keterbatasan
“Ustaz, kami mohon bantuan terpal untuk shalat Jumat siang ini,” ujar pengurus Masjid Nurul Barakah, Mujahid Muslim, kepada tim AQL Humanity, Jumat (21/8/2026) pagi.
Mujahid menjelaskan, pengurus masjid baru memiliki satu lembar terpal. Namun, terpal tersebut hanya cukup untuk menaungi imam atau khatib. Sementara jamaah belum memiliki tempat perlindungan dari terik matahari.
Kondisi tersebut semakin mendesak karena Masjid Nurul Barakah mengalami kerusakan akibat gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu (15/8/2026).
Shalat Jumat pada hari itu menjadi salah satu momentum ibadah pertama setelah gempa. Kerusakan bangunan membuat warga harus mencari alternatif tempat yang lebih aman untuk tetap menjalankan ibadah bersama.
AQL Humanity Bergerak Cepat
Mendengar permohonan tersebut, Ustaz Firman segera mengambil langkah. Ia mengantar Mujahid menuju pasar untuk membeli terpal yang dibutuhkan.
Ikhtiar tersebut dilakukan berpacu dengan waktu agar kebutuhan dasar jamaah dapat terpenuhi sebelum pelaksanaan shalat Jumat.
Di tengah keterbatasan dan kebutuhan warga yang terus berdatangan, Posko AQL Humanity di halaman Masjid Besar Nurul Huda menjadi salah satu titik warga menyampaikan kebutuhan sekaligus mencari bantuan pascagempa.
Permintaan terpal tersebut menjadi gambaran bagaimana kebutuhan para penyintas tidak hanya berkaitan dengan pangan dan tempat tinggal, tetapi juga fasilitas untuk menjalankan ibadah dalam kondisi darurat.
Perspektif UBN Newsroom
Ketika Menolong Tak Boleh Menunggu Lapang
Kondisi pascagempa menghadirkan kebutuhan yang datang secara cepat dan tidak selalu dapat diprediksi. Dalam situasi seperti ini, kecepatan merespons menjadi bagian penting dari kerja kemanusiaan.
Bantuan untuk memastikan warga tetap dapat beribadah juga menjadi bentuk kepedulian terhadap kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana. Solidaritas tidak semestinya berhenti pada bantuan materi, tetapi juga hadir untuk menjaga keberlangsungan kehidupan sosial dan spiritual para penyintas.
Islam mengajarkan agar manusia saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Dalam konteks bencana, semangat tersebut mengingatkan bahwa pertolongan tidak harus menunggu seseorang memiliki kelapangan. Ketika kebutuhan mendesak datang, hadir dan membantu sesuai kemampuan merupakan bagian dari kepedulian terhadap sesama.
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom serta Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui:
BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.
Penulis: Tim UBN Newsroom

Comment