NAGEKEO, NTT | UBN Newsroom — Selasa, 12 Rabiul Awal 1448 H / 25 Agustus 2026 M.
Tim AQL Humanity mengunjungi Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Selasa (25/8/2026), untuk melihat langsung kondisi masyarakat yang terdampak gempa. Kerusakan bangunan, korban jiwa, serta ribuan warga yang masih bertahan di pengungsian menjadi bagian dari dampak bencana yang dirasakan masyarakat setempat.
Salah satu penyintas yang ditemui tim adalah Ilham, wali santri dari Maya, mahasiswi STIQ Ar-Rahman Jonggol. Rumah Ilham berada tepat di bibir pantai dan mengalami kerusakan parah setelah diguncang gempa dan diterjang air laut.

Evakuasi Sebelum Air Laut Datang
Kepada tim AQL Humanity, Ilham menceritakan detik-detik ketika gempa terjadi. Saat itu, ia baru selesai melaksanakan salat Subuh dan sedang bersama keluarga ketika tiba-tiba merasakan guncangan.
“Alhamdulillah waktu kejadian gempa kemarin, MasyaAllah, saya bersyukur kepada Allah, Allah masih jaga kita,” ujar Ilham.
Ilham mengatakan keluarganya terdiri dari tujuh bersaudara. Setelah merasakan guncangan, mereka berusaha mengevakuasi seluruh anggota keluarga sebelum air laut datang.
“Alhamdulillah sebelum airnya datang kita sudah ada di mobil, mobil tetangga. Jadi yang ketinggalan cuma baju di badan. Kita lari, baju di badan, ya itulah datang tsunami seret semua barang-barang yang ada di dalam,” katanya.
Menurut Ilham, ketinggian air yang menerjang wilayah tersebut mencapai sekitar dua meter.

Rumah Rusak, Keluarga Masih Mengungsi
Kerusakan rumah Ilham terjadi akibat guncangan gempa yang kemudian diperparah terjangan air laut. Kondisi bangunan terlihat mengalami kerusakan berat dengan bagian dinding yang roboh.
Ilham memperkirakan membutuhkan sekitar Rp50 juta untuk memperbaiki rumahnya. Namun, untuk sementara waktu, ia bersama keluarga masih bertahan di kamp pengungsian karena belum memiliki tempat tinggal yang dapat digunakan.
“Terpaksa harus di sini karena tidak ada pilihan lain. Kita satu-satunya daerah pencarian kita di pantai, kemudian rumah kita ini aja,” ujarnya.
Ia berharap dapat kembali ke rumah setelah kondisi memungkinkan dan melakukan perbaikan secara bertahap.
Nelayan Belum Melaut, Penghasilan Menurun
Bencana juga berdampak terhadap mata pencaharian Ilham. Sehari-hari, ia bekerja sebagai pedagang ikan dengan membeli ikan dari nelayan untuk kemudian dijual ke pasar.
Namun, pascagempa, para nelayan belum berani melaut sehingga pasokan ikan berkurang. Kondisi tersebut membuat aktivitas ekonomi warga ikut terdampak.
Meski demikian, Ilham berusaha tetap bekerja dengan mengambil ikan dari kabupaten lain untuk dijual.
“Kita harus lebih semangat karena bagaimanapun kita harus ambil dari kabupaten lain. Jangan sampai kita berpikir bahwa karena adanya bencana ini kita harus diam. Tidak. Kita harus berusaha bagaimana kita bisa menjalani kehidupan yang seterusnya, insyaallah,” katanya.
Harapan untuk Perhatian yang Lebih Serius
Ilham berharap pemerintah dan para donatur memberikan perhatian yang lebih serius kepada masyarakat terdampak agar mereka dapat segera kembali ke rumah masing-masing.
“Harapan kita semua sebagai masyarakat biasa ini ya kepedulian, perhatian yang lebih serius agar kami supaya bisa cepat kembali ke rumah kami masing-masing,” ujarnya.
Ia juga berharap bantuan yang diberikan dapat disalurkan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Kondisi Ilham menggambarkan bahwa dampak bencana tidak berhenti pada kerusakan bangunan. Hilangnya tempat tinggal, terganggunya mata pencaharian, serta ketidakpastian untuk kembali ke rumah menjadi tantangan yang masih harus dihadapi para penyintas Nagekeo.

Perspektif UBN Newsroom
Tetap Berikhtiar di Tengah Ujian
Kisah Ilham menunjukkan bahwa bencana dapat mengubah kehidupan seseorang dalam waktu singkat. Rumah rusak, mata pencaharian terganggu, dan keluarga harus bertahan di pengungsian, tetapi kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah untuk terus berusaha.
Sikap tersebut sejalan dengan ajaran Islam yang mendorong seorang Muslim untuk tetap berikhtiar dan tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT. Allah berfirman:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Artinya:
“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman.”
(QS. Ali ‘Imran: 139)
Ayat tersebut mengajarkan agar seorang Muslim tidak larut dalam kelemahan dan kesedihan ketika menghadapi ujian. Ikhtiar tetap dilakukan sesuai kemampuan, sementara pertolongan dan hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT.
Semangat Ilham untuk tetap mencari ikan dari daerah lain agar keluarganya dapat bertahan juga menjadi pengingat bahwa menghadapi bencana bukan berarti berhenti berusaha. Di tengah keterbatasan, kehidupan harus terus dijalani dengan ikhtiar, kesabaran, dan tawakal.
Di sisi lain, kondisi para penyintas juga menjadi panggilan bagi masyarakat yang memiliki kemampuan untuk hadir dan membantu. Bantuan tempat tinggal, pemulihan mata pencaharian, dan kebutuhan dasar menjadi bagian penting dalam proses pemulihan agar para penyintas dapat kembali berdiri dan menjalani kehidupan dengan lebih layak.
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom
BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui:
BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.
UBN Newsroom

Comment