SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nasional
Home » Perempuan Penyintas Gempa Flores Bangkit Bersama di Dapur Umum AQL Humanity

Perempuan Penyintas Gempa Flores Bangkit Bersama di Dapur Umum AQL Humanity

MANGGARAI, NTT | UBN Newsroom — Sabtu, 16 Rabiul Awal 1448 H / 29 Agustus 2026 M.

Sekitar 15 perempuan penyintas gempa di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), ikut mengambil peran dalam operasional Dapur Umum AQL Humanity. Di tengah kondisi pascagempa, mereka membantu menyiapkan makanan bagi warga yang sama-sama terdampak bencana.

Setiap hari, Dapur Umum AQL Humanity memasak sekitar 200 hingga 500 porsi makanan untuk kemudian dibagikan kepada para penyintas gempa di wilayah Manggarai dan Manggarai Timur.

Memasak Sejak Dini Hari

Koordinator Dapur Umum AQL Humanity, Siti Mariam Haji Mahmud (62 tahun), mengatakan aktivitas memasak dimulai sejak dini hari. Ia bersama para perempuan lainnya sudah mulai bekerja sekitar pukul 03.00 waktu setempat.

MUI Dorong Kesiapan Pelaksanaan Wajib Halal Oktober 2026

“Jam 3 subuh kami mulai bangun, masak nasi 40 kilo, 45 kilo,” ujar Siti.

Nasi dan lauk yang telah matang kemudian dikemas sebelum didistribusikan ke sejumlah titik pengungsian. Menu makanan juga dibuat berbeda setiap harinya agar kebutuhan pangan para penyintas tetap terpenuhi.

Mengandalkan Kayu Bakar

Dalam proses memasak dalam jumlah besar, para perempuan tersebut masih menggunakan kayu bakar. Menurut Siti, cara tersebut lebih cepat dibandingkan menggunakan kompor untuk menyiapkan ratusan porsi makanan.

“Pakai kayu, iya. Kalau kami pakai kompor kan lama, Pak. Sehingga pakai kayu begini, jam sekarang ini kami sudah beres semua, tinggal bungkus. Kalau pakai kompor kan lama, mana angin,” katanya.

Prof Sudarnoto Dorong OKI Tindak Lanjuti Resolusi PBB untuk Palestina

Keterlibatan para perempuan penyintas menunjukkan bahwa bantuan kemanusiaan tidak hanya menempatkan masyarakat sebagai penerima bantuan. Mereka juga diberi ruang untuk mengambil peran dan membantu memenuhi kebutuhan sesama warga yang terdampak.

Dapur Umum AQL Humanity menjadi salah satu bentuk dukungan pemenuhan kebutuhan pangan bagi para penyintas yang masih berada di sejumlah titik pengungsian di Manggarai dan Manggarai Timur.


Perspektif UBN Newsroom

Kuasai Fajar, Mulai Perubahan

Ada pelajaran yang bisa dibawa pulang oleh setiap pembaca dari dapur sederhana di Manggarai ini: jangan menunggu kehidupan menjadi sempurna untuk mulai memberi manfaat.

Pemerintah Membatasi Penggunaan Gawai di Lingkungan Sekolah Binaan Kemenag

Para perempuan penyintas itu sendiri sedang berada dalam masa pemulihan. Mereka menghadapi keterbatasan dan masih hidup dalam suasana pascabencana. Namun, mereka memilih bangun ketika sebagian besar orang masih terlelap untuk memasak makanan bagi orang lain.

Di sinilah fajar mengajarkan sesuatu yang lebih dalam.

Allah SWT berfirman:

وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ ۝ وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ


Artinya: “Demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.”
(QS. At-Takwir [81]: 17–18)

Al-Qur’an menggambarkan subuh dengan kata “تَنَفَّسَ” (tanaffasa), seakan-akan fajar sedang bernapas. Gelap perlahan pergi, lalu kehidupan kembali bergerak.

Allah SWT juga berfirman:

وَالْفَجْرِ ۝ وَلَيَالٍ عَشْرٍ


Artinya: “Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.”
(QS. Al-Fajr [89]: 1–2)

Fajar hadir sebagai pembuka. Ia bukan sekadar penanda pergantian waktu, tetapi gambaran tentang dimulainya sebuah babak.

Maka, pertanyaannya bukan hanya: “Mengapa ibu-ibu itu bangun pukul 03.00?” Pertanyaan yang lebih penting bagi kita adalah: “Apa yang kita lakukan ketika fajar datang?”

Apakah kita kembali tidur dan membiarkan hari berlalu begitu saja? Atau kita menjadikan pagi sebagai titik awal untuk mendekat kepada Allah, menuntut ilmu, bekerja, memperbaiki diri, dan memberikan manfaat kepada orang lain?

Tidak semua orang harus memasak ratusan porsi makanan. Tidak semua orang harus berada di lokasi bencana. Tetapi setiap orang memiliki kesempatan untuk melakukan kebaikan dari tempatnya masing-masing.

Bangun untuk shalat. Membaca Al-Qur’an. Belajar. Bekerja dengan sungguh-sungguh. Membantu keluarga. Menolong tetangga. Menyelesaikan amanah. Semua itu dapat menjadi bagian dari cara seorang Muslim menyambut fajar.

Siapa yang menguasai fajarnya, ia sedang belajar menguasai harinya. Siapa yang mampu menguasai hari-harinya dengan iman, ilmu, disiplin, dan amal, ia sedang mempersiapkan dirinya untuk memikul amanah yang lebih besar.

Sebab peradaban tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia bisa dimulai dari seseorang yang bangun lebih awal, menyalakan api, menanak nasi, lalu memastikan orang lain dapat makan dan bertahan menjalani hari.

Besok ketika fajar datang, bangunlah dengan satu pertanyaan:
“Kebaikan apa yang akan saya mulai hari ini?”

Karena mungkin, perubahan besar dalam hidup kita tidak dimulai ketika dunia melihat kita, tetapi ketika tidak seorang pun melihat kita saat fajar, ketika kita memilih untuk bangun, bergerak, dan melakukan kebaikan karena Allah SWT.

Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban

UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.

Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement