SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nasional Technology
Home » VELA Alpha, Pesawat eVTOL Buatan Indonesia Targetkan Uji Terbang Perdana Akhir 2026

VELA Alpha, Pesawat eVTOL Buatan Indonesia Targetkan Uji Terbang Perdana Akhir 2026

JAKARTA | UBN Newsroom — Senin, 25 Rabiul Awal 1448 H / 7 September 2026 M.

Indonesia mulai mengambil langkah dalam pengembangan teknologi mobilitas udara masa depan melalui VELA Alpha, pesawat electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) yang dikembangkan untuk mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal dengan sistem propulsi listrik. Pesawat ini ditargetkan menjalani uji terbang perdana pada kuartal IV tahun 2026 sebelum memasuki tahapan sertifikasi menuju layanan komersial.

Prototipe fisik skala penuh VELA Alpha telah diperkenalkan kepada publik dalam ajang Heli Expo Asia (HEXIA) 2026 di Cengkareng Heliport, Tangerang. Kehadiran prototipe tersebut menjadi salah satu langkah pengembangan teknologi kedirgantaraan Indonesia menuju era mobilitas udara generasi baru.

Target Uji Terbang Perdana Akhir 2026

VELA Alpha ditargetkan menjalani uji terbang perdana pada kuartal IV tahun 2026. Tahap tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengembangan pesawat sebelum memasuki rangkaian pengujian dan sertifikasi kelaikudaraan.

MUI Dorong Kesiapan Pelaksanaan Wajib Halal Oktober 2026

Setelah tahap pengujian, proses sertifikasi ditargetkan berlangsung pada periode 2027 hingga 2028. Pengembang kemudian menargetkan VELA Alpha dapat memasuki layanan komersial pada awal tahun 2029.

Namun, sebelum dapat beroperasi secara komersial, pesawat tersebut masih harus melewati berbagai tahapan, termasuk pengujian keselamatan, sertifikasi, kesiapan infrastruktur, serta pembuktian keandalan teknologi.

Mengandalkan Sembilan Motor Listrik

VELA Alpha dirancang menggunakan konfigurasi Lift-and-Cruise dengan teknologi Distributed Electric Propulsion (DEP). Pesawat tersebut mengandalkan sembilan motor listrik independen untuk mendukung proses lepas landas, pendaratan, dan penerbangan.
Teknologi tersebut memungkinkan pesawat melakukan lepas landas dan pendaratan secara vertikal sebelum bertransisi menuju penerbangan jelajah menggunakan sayap.

VELA Alpha juga dirancang dengan sistem redundansi sebagai bagian dari aspek keselamatan. Dalam konsep pengembangannya, sistem tersebut diharapkan dapat menjaga kemampuan pesawat untuk tetap beroperasi secara aman apabila terjadi gangguan pada salah satu motor.

Prof Sudarnoto Dorong OKI Tindak Lanjuti Resolusi PBB untuk Palestina

Disiapkan untuk Mobilitas Perkotaan hingga Antardaerah

VELA Alpha dirancang untuk membawa satu pilot dan enam penumpang. Pengembang menyiapkan dua varian, yaitu versi listrik murni atau eVTOL dan versi hybrid-electric atau hVTOL.
Varian eVTOL ditargetkan memiliki jangkauan hingga sekitar 150 kilometer untuk mendukung kebutuhan mobilitas udara perkotaan. Sementara varian hVTOL dikembangkan untuk penerbangan regional dengan target jangkauan hingga 500 kilometer.

Pesawat tersebut juga ditargetkan memiliki kecepatan jelajah hingga 250 kilometer per jam. Teknologi ini diproyeksikan dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari taksi udara, konektivitas antarkawasan, penghubung bandara, pariwisata, hingga distribusi logistik.

Kantongi Komitmen dari Calon Pengguna

Dari sisi pasar, pengembang VELA Alpha menyatakan telah mengamankan sekitar 160 Letter of Intent (LOI) dari calon pengguna di pasar domestik maupun internasional.

Pemerintah Membatasi Penggunaan Gawai di Lingkungan Sekolah Binaan Kemenag

Salah satu kerja sama yang diumumkan adalah nota kesepahaman dengan Whitesky Aviation terkait rencana pengadaan 50 unit VELA Alpha. Pesawat tersebut direncanakan untuk mendukung layanan taksi udara, penghubung bandara, pariwisata, dan logistik kawasan industri.

Namun, LOI dan nota kesepahaman masih berbeda dengan kontrak pembelian final. Seluruh komitmen tersebut masih bergantung pada keberhasilan pengembangan, pengujian, sertifikasi, serta kesiapan pesawat untuk memasuki tahap operasional.

Menuju Ekosistem Mobilitas Udara Masa Depan

Pengembangan VELA Alpha tidak hanya berfokus pada pembangunan pesawat. Pengembang juga menyiapkan ekosistem pendukung Advanced Air Mobility (AAM), termasuk pengembangan vertiport serta fasilitas maintenance, repair and overhaul (MRO).

Kehadiran VELA Alpha menjadi salah satu langkah Indonesia untuk mengambil bagian dalam perkembangan teknologi transportasi udara masa depan. Pengembangan ini juga membuka peluang bagi penguatan industri dirgantara nasional serta pengembangan sumber daya manusia di bidang teknologi dan rekayasa.

Meski demikian, keberhasilan proyek tersebut akan sangat ditentukan oleh hasil uji terbang, proses sertifikasi, standar keselamatan, kesiapan regulasi, serta pembangunan infrastruktur pendukung.

Perspektif UBN Newsroom | Teknologi sebagai Ikhtiar dan Amanah

Kemajuan teknologi penerbangan seperti pengembangan VELA Alpha menunjukkan bahwa manusia terus berusaha mengembangkan ilmu pengetahuan untuk menjawab kebutuhan kehidupan. Dalam perspektif Islam, kemampuan manusia untuk berpikir, meneliti, dan mengembangkan teknologi merupakan bagian dari potensi ilmu yang Allah SWT anugerahkan.

Allah SWT berfirman:


وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِّنْهُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ


Artinya:
“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, sebagai rahmat daripada-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berpikir.”
(QS. Al-Jasiyah [45]: 13)

Pengembangan teknologi transportasi udara dapat menjadi bagian dari ikhtiar manusia dalam memanfaatkan ilmu dan potensi alam untuk menghadirkan kemaslahatan. Manusia diberikan kemampuan untuk berpikir, meneliti, menciptakan, dan mengembangkan berbagai inovasi sebagai bagian dari tanggung jawabnya dalam mengelola kehidupan.

Namun, kemajuan teknologi tidak seharusnya hanya diukur dari kecanggihannya. Teknologi juga perlu dinilai dari manfaat, keamanan, keberlanjutan, serta dampaknya bagi kehidupan manusia dan lingkungan.

Kehadiran VELA Alpha menjadi pengingat bahwa inovasi dan kemajuan ilmu pengetahuan harus berjalan bersama dengan tanggung jawab. Teknologi yang baik bukan hanya mampu membawa manusia terbang lebih tinggi, tetapi juga menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat serta menjaga amanah manusia dalam mengelola bumi.

Pada akhirnya, ilmu dan teknologi dapat menjadi jalan bagi kemajuan peradaban apabila dikembangkan dengan amanah, tanggung jawab, dan orientasi pada kemaslahatan manusia.

Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban

UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.

Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement