SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nasional
Home » Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda, SAJID Ajukan Tiga Kebijakan

Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda, SAJID Ajukan Tiga Kebijakan

JAKARTA | UBN Newsroom — Jumat, 29 Rabiul Awal 1448 H / 11 September 2026 M — Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (SAJID) yang dipimpin Ketua Umum KH. Dr. (H.C.) Bachtiar Nasir, Lc., MM. menyampaikan tiga usulan kebijakan kepada Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia terkait keselamatan komunikasi di kawasan wisata rawan bencana. Usulan tersebut disampaikan menyusul hilangnya kontak rombongan jurnalis yang tengah melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.

Usulan tersebut tertuang dalam surat bertanggal 10 September 2026 yang ditandatangani oleh KH. Dr. (H.C.) Bachtiar Nasir, Lc., MM. selaku Ketua Umum SAJID. Dalam surat itu, SAJID mengapresiasi langkah cepat Kementerian Komunikasi dan Digital dalam memperkuat kualitas telekomunikasi untuk mendukung operasi pencarian rombongan jurnalis yang hilang kontak.

Namun, SAJID menilai langkah tanggap darurat perlu dikembangkan menjadi sistem perlindungan komunikasi yang lebih permanen, terutama di kawasan wisata dan wilayah yang memiliki risiko bencana.

SAJID Usulkan Tiga Langkah Kebijakan

Usulan pertama adalah peta terbuka titik lemah sinyal pada jalur wisata rawan bencana. SAJID mengusulkan pemetaan dilakukan bersama Kementerian Komunikasi dan Digital, BNPB, Basarnas, dan pihak terkait lainnya.

MUI Dorong Kesiapan Pelaksanaan Wajib Halal Oktober 2026

Kawasan wisata yang tidak terjangkau jaringan seluler dinilai perlu diinformasikan secara terbuka agar jurnalis, pemandu, wisatawan, dan masyarakat mengetahui risiko komunikasi sebelum memasuki wilayah tersebut.

Usulan kedua adalah kewajiban sarana komunikasi cadangan bagi operator wisata di zona rawan. SAJID mendorong penggunaan radio VHF dan/atau perangkat komunikasi satelit sebagai bagian dari standar keselamatan bagi operator wisata di kawasan berisiko.

Usulan ketiga adalah pembentukan kanal informasi krisis satu pintu selama operasi pencarian dan pertolongan atau operasi SAR berlangsung. Kanal resmi dinilai penting agar keluarga korban, ruang redaksi, jurnalis, dan masyarakat memperoleh informasi yang terverifikasi serta tidak bergantung pada spekulasi.

SAJID Siap Menyusun Policy Brief

Dalam surat yang ditandatangani Ketua Umum SAJID KH. Dr. (H.C.) Bachtiar Nasir, Lc., MM., organisasi tersebut menyatakan siap menyiapkan naskah kebijakan atau policy brief yang memuat rincian teknis dari ketiga usulan tersebut.

Prof Sudarnoto Dorong OKI Tindak Lanjuti Resolusi PBB untuk Palestina

Naskah kebijakan itu direncanakan diserahkan kepada Kementerian Komunikasi dan Digital dalam waktu 30 hari. SAJID juga menyatakan siap menghimpun masukan dari jurnalis daerah rawan bencana sebagai bahan penyusunan kebijakan.

Selain ditujukan kepada Menteri Komunikasi dan Digital, surat tersebut turut ditembuskan kepada Kepala Basarnas, Kepala BNPB, Ketua Dewan Pers, dan arsip.

Peristiwa hilangnya kontak rombongan di Selat Sunda menjadi perhatian berbagai pihak. Rombongan diketahui terdiri atas lima jurnalis serta tiga orang lainnya yang merupakan awak kapal dan pemandu, setelah berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada 7 September 2026 untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Perspektif UBN Newsroom | Keselamatan Harus Dipersiapkan Sebelum Musibah Datang

Musibah memang tidak selalu dapat diprediksi. Namun, risiko bukan berarti tidak dapat dipersiapkan.

Pemerintah Membatasi Penggunaan Gawai di Lingkungan Sekolah Binaan Kemenag

Peristiwa hilangnya kontak rombongan jurnalis di Selat Sunda menjadi pengingat bahwa keberanian menjalankan tugas harus berjalan bersama kesiapan menghadapi risiko. Ketika seseorang memasuki kawasan rawan bencana, keselamatan tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman dan keberanian, tetapi juga membutuhkan sistem, informasi, dan sarana yang memadai.

Allah SWT berfirman:
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya:
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195)

Ayat ini mengingatkan bahwa tawakal kepada Allah tidak berarti mengabaikan ikhtiar. Seorang Muslim tetap diperintahkan untuk mengambil langkah-langkah yang dapat menjaga dirinya dan orang lain dari bahaya.

Ketika Sinyal Hilang, Pertolongan Bisa Ikut Terlambat

Di kawasan rawan bencana, komunikasi bukan sekadar fasilitas. Komunikasi dapat menjadi jalan untuk mengirim posisi, meminta pertolongan, menyampaikan peringatan, dan menghubungkan orang-orang yang berada dalam keadaan darurat.

Karena itu, usulan mengenai peta titik lemah sinyal, perangkat komunikasi cadangan, dan kanal informasi krisis memiliki satu pesan penting: keselamatan harus dipikirkan sebelum keadaan darurat terjadi.

Jurnalis membutuhkan perlindungan ketika menjalankan tugas mencari informasi. Wisatawan membutuhkan informasi mengenai risiko sebelum melakukan perjalanan. Demikian pula keluarga dan masyarakat membutuhkan informasi yang jelas dan terverifikasi ketika musibah terjadi.

Dalam kondisi seperti inilah, tabayyun menjadi penting. Tabayyun berarti mencari kejelasan dan memastikan kebenaran suatu informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6)

Ketika sebuah operasi pencarian sedang berlangsung, informasi yang tidak terverifikasi dapat menambah beban keluarga, mengganggu kerja petugas, dan memunculkan kesimpulan yang keliru. Karena itu, kecepatan informasi harus tetap berjalan bersama tanggung jawab untuk memastikan kebenarannya.

Pada akhirnya, keselamatan bukan hanya tanggung jawab orang yang berada di lapangan. Negara, pengelola kawasan, operator wisata, organisasi profesi, media, dan masyarakat memiliki peran masing-masing untuk membangun sistem yang lebih siap menghadapi risiko.

Membangun sistem sebelum musibah datang adalah bagian dari ikhtiar. Sebab, ketika komunikasi terputus, yang hilang bukan hanya sinyal, tetapi juga kesempatan untuk meminta pertolongan dan menyelamatkan kehidupan.

Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban

UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.

Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.*

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement