JAKARTA, UBN NEWSROOM — Senin, 1 Rabiul Akhir 1448 H / 14 September 2026 M.
Jakarta masih menghadapi ancaman kekeringan meteorologis di tengah musim kemarau yang berlangsung panjang. Berdasarkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis Dasarian II September 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menempatkan lima wilayah administrasi DKI Jakarta dalam kategori Siaga.
Kelima wilayah tersebut meliputi Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Sementara itu, Jakarta Selatan tidak tercantum dalam daftar wilayah Siaga pada pemutakhiran BMKG tersebut.
LIMA WILAYAH JAKARTA MASUK SIAGA KEKERINGAN
Peringatan dini BMKG menunjukkan bahwa kondisi kekeringan di Jakarta tidak merata pada seluruh wilayah administrasi.
Wilayah yang masuk kategori Siaga adalah:
Jakarta Barat
Jakarta Pusat
Jakarta Timur
Jakarta Utara
Kepulauan Seribu
Kategori tersebut merupakan bagian dari peringatan dini kekeringan meteorologis BMKG untuk Dasarian II September 2026. Dalam data BMKG, kelima wilayah tersebut berada pada kolom Siaga, bukan Awas.
Kondisi ini berkaitan dengan panjangnya periode tanpa hujan. Pemprov DKI sebelumnya menyebut lima wilayah kota administrasi Jakarta telah berada dalam status Siaga peringatan dini kekeringan meteorologis yang ditandai Hari Tanpa Hujan (HTH) sedikitnya 31 hari berturut-turut.
JAKARTA SELATAN TIDAK MASUK DAFTAR SIAGA BMKG
Dalam pemetaan terbaru BMKG, Jakarta Selatan tidak tercantum dalam daftar wilayah Siaga kekeringan meteorologis Dasarian II September.
Artinya, tidak tepat jika seluruh wilayah DKI disebut berada pada level kekeringan yang sama. Kondisi meteorologis dapat berbeda antarwilayah meskipun seluruh Jakarta tetap menghadapi musim kemarau dan perlu melakukan penghematan air.
Karena itu, informasi mengenai kekeringan perlu dibaca berdasarkan wilayah dan pembaruan data resmi, bukan hanya berdasarkan kondisi cuaca yang terlihat secara umum di Ibu Kota.
PEMPROV DKI TELAH LAKUKAN MODIFIKASI CUACA
Ancaman kekeringan tersebut sebelumnya telah mendorong Pemprov DKI Jakarta bersama BPBD dan BMKG melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Pemprov DKI menyatakan OMC dilakukan berdasarkan pemantauan kondisi atmosfer secara real time dan rekomendasi BMKG. Hingga 26 Agustus 2026, tercatat 24 sorti penerbangan dengan total durasi sekitar 21 jam menggunakan dua pesawat Cessna Caravan 208B.
Pada 27 Agustus, operasi tersebut menghasilkan hujan di sejumlah lokasi Jakarta. Evaluasi sementara juga menunjukkan penurunan polutan di sejumlah wilayah sebesar 23–50 persen, dengan penurunan tertinggi sementara mencapai 57 persen.
Meski demikian, Pemprov DKI menegaskan bahwa OMC bukan satu-satunya instrumen penanganan. Pengendalian dampak kemarau tetap membutuhkan penghematan air, pengendalian emisi, pemantauan kualitas udara, serta kesiapsiagaan masyarakat.
BMKG: 81,1 PERSEN WILAYAH INDONESIA MASIH KEMARAU
Kondisi Jakarta tidak dapat dilepaskan dari situasi iklim nasional. BMKG mencatat sekitar 81,1 persen wilayah Indonesia atau 567 Zona Musim (ZOM) masih berada dalam periode musim kemarau.
Memasuki September 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah diprakirakan masih berada pada kategori rendah hingga menengah, sekitar 0–150 milimeter per dasarian. Bahkan, curah hujan rendah kurang dari 50 milimeter per dasarian masih diprakirakan mendominasi sebagian besar Pulau Jawa.
BMKG juga mencatat kondisi atmosfer kering dipengaruhi oleh fenomena El Niño yang berada dalam kategori sangat kuat. Anomali suhu muka laut Niño 3.4 tercatat +2,74°C pada Dasarian III Agustus 2026, sementara rata-rata Agustus mencapai +2,83°C.
14–17 SEPTEMBER: APAKAH JAKARTA AKAN DIGUYUR HUJAN LEBAT?
Untuk periode 14–17 September 2026, BMKG memprakirakan cuaca Indonesia secara umum didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan sedang.
Ada sejumlah wilayah yang perlu mendapat perhatian karena berpotensi mengalami peningkatan hujan dengan intensitas sedang, yakni Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Papua Pegunungan, dan Papua.
Sementara itu, wilayah yang mendapat peringatan Siaga untuk hujan lebat hingga sangat lebat adalah Aceh. Untuk potensi angin kencang, BMKG mencantumkan Banten, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua Selatan.
Dengan demikian, Jakarta tidak termasuk wilayah yang masuk peringatan BMKG untuk hujan lebat–sangat lebat maupun angin kencang pada periode 14–17 September tersebut.
Namun, BMKG tetap mengingatkan bahwa hujan lokal dengan intensitas ringan hingga sedang, yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, masih mungkin terjadi di sejumlah daerah. Karena itu, kondisi cuaca Jakarta tetap perlu dipantau dari pembaruan harian.
PRAKIRAAN JAKARTA 14 SEPTEMBER: MAYORITAS BERAWAN
Untuk Senin, 14 September 2026, prakiraan cuaca BMKG yang dipublikasikan untuk DKI Jakarta menunjukkan kondisi mayoritas wilayah Jakarta berawan.
Kepulauan Seribu diprakirakan berawan dengan suhu sekitar 28°C. Jakarta Pusat dan Jakarta Barat juga diprakirakan berawan dengan suhu maksimum sekitar 33°C, sedangkan Jakarta Utara berada pada kisaran 26–31°C.
Jakarta Selatan dan Jakarta Timur justru diprakirakan menjadi wilayah dengan suhu maksimum tertinggi, mencapai sekitar 35°C. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman panas dan kekeringan masih perlu diperhatikan meskipun peluang hujan lokal tetap ada.
HEMAT AIR DAN WASPADA KEBAKARAN
BMKG mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air seiring kondisi kering yang masih berlangsung. Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan serta tidak melakukan pembakaran sampah atau membuka lahan secara sembarangan.
Kondisi kering yang berlangsung bersamaan dengan suhu tinggi juga dapat meningkatkan risiko kebakaran dan menurunkan kualitas udara. BMKG meminta masyarakat terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG.
PERSPEKTIF UBN NEWSROOM
AIR ADALAH AMANAH YANG HARUS DIJAGA
Kekeringan yang terjadi di Jakarta bukan hanya persoalan berkurangnya hujan. Ia menjadi pengingat bahwa air merupakan bagian penting dari kehidupan yang tidak boleh digunakan secara berlebihan.
Ketika sebagian wilayah menghadapi hari tanpa hujan yang panjang, kebiasaan menggunakan air secara berlebihan dapat menjadi persoalan bersama. Karena itu, menghemat air bukan sekadar tindakan menghadapi musim kemarau, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap kehidupan orang lain.
Setiap orang mungkin merasa bahwa penggunaan air dalam jumlah kecil tidak akan memberikan dampak besar. Namun, jika dilakukan oleh jutaan orang secara bersamaan, kebiasaan tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap ketersediaan sumber daya air.
MENJAGA KESEIMBANGAN DAN TIDAK BERLEBIHAN
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
QS. Al-A’raf [7]: 31.
Ayat tersebut mengajarkan manusia untuk tidak berlebihan dalam menggunakan nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan. Air merupakan salah satu nikmat yang sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan.
Maka, menghadapi kemarau panjang seharusnya mendorong kita untuk menjadi lebih bijak. Menghemat air, tidak membuang-buang air, menjaga lingkungan, dan tidak melakukan tindakan yang memperparah kerusakan lingkungan merupakan bentuk tanggung jawab yang dapat dimulai dari rumah masing-masing.
Kondisi Jakarta hari ini juga menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan. Ketika hujan tidak turun dalam waktu yang panjang, ketersediaan air dapat ikut terpengaruh.
Semoga kondisi ini menjadi momentum bagi kita semua untuk lebih bersyukur atas nikmat air, menggunakannya dengan bijak, serta menjaga lingkungan sebagai amanah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
CATATAN REDAKSI
Status kekeringan yang digunakan dalam berita ini mengacu pada data resmi BMKG Dasarian II September 2026. Berdasarkan data tersebut, lima wilayah DKI Jakarta yang tercatat dalam kategori Siaga adalah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu. Jakarta Selatan tidak tercantum dalam daftar tersebut.
Untuk prakiraan 14–17 September 2026, BMKG tidak menempatkan Jakarta dalam daftar wilayah peringatan hujan lebat–sangat lebat maupun angin kencang. Namun, cuaca dapat berubah secara lokal sehingga masyarakat tetap perlu mengikuti pembaruan harian BMKG.
DUKUNGAN OPERASIONAL DAKWAH & JURNALISME PERADABAN
UBN Newsroom hadir sebagai bagian dari ikhtiar dakwah dan jurnalisme peradaban untuk menyampaikan informasi yang teruji, mencerdaskan umat, serta menghadirkan perspektif Islam dalam membaca berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat dan dunia.
Keberlangsungan kerja dakwah dan jurnalisme membutuhkan dukungan bersama. Setiap dukungan yang diberikan menjadi bagian dari ikhtiar untuk menjaga keberlanjutan produksi konten, peliputan, riset, verifikasi informasi, dan penyebaran narasi yang membawa kemaslahatan bagi umat.
Dukungan operasional dapat disalurkan melalui:
BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.
Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu.

Comment