SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gaya Hidup
Home » Mengapa Ada Orang yang Cepat Terlelap, Sementara Lainnya Sulit Tidur?

Mengapa Ada Orang yang Cepat Terlelap, Sementara Lainnya Sulit Tidur?

JAKARTA | UBN Newsroom — Kamis, 6 Rabiul Akhir 1448 H / 17 September 2026 M.

Pernah melihat seseorang baru merebahkan kepala langsung terlelap, sementara orang lain masih terjaga meski sudah berbaring cukup lama? Perbedaan tersebut bukan semata-mata soal rasa lelah, tetapi berkaitan dengan interaksi antara jam biologis, tekanan tidur, kondisi pikiran, kebiasaan, dan lingkungan.

Dalam ilmu tidur, waktu yang dibutuhkan sejak seseorang mulai mencoba tidur hingga benar-benar terlelap disebut sleep latency. Pada orang dewasa, sekitar 10–20 menit umumnya masih berada dalam rentang yang wajar, meski waktunya dapat berubah dari satu malam ke malam berikutnya.

Jam Biologis Memengaruhi Rasa Kantuk

Tubuh memiliki ritme sirkadian yang membantu menentukan kapan seseorang lebih siap untuk terjaga dan kapan tubuh mulai mempersiapkan diri untuk tidur. Sistem ini dipengaruhi antara lain oleh siklus terang dan gelap serta berinteraksi dengan mekanisme tekanan tidur.

MUI Dorong Kesiapan Pelaksanaan Wajib Halal Oktober 2026

Karena itu, orang yang mudah mengantuk pada pukul 21.00 belum tentu memiliki pola biologis yang sama dengan orang yang baru merasa kantuk menjelang tengah malam.

Semakin Lama Terjaga, Tekanan Tidur Meningkat

Selain jam biologis, tubuh memiliki sleep pressure atau tekanan tidur. Semakin lama seseorang terjaga, dorongan biologis untuk tidur semakin meningkat, dan adenosin merupakan salah satu zat yang berkaitan dengan mekanisme tersebut.

Hal ini menjelaskan mengapa seseorang yang kekurangan tidur dapat lebih cepat terlelap ketika akhirnya mendapat kesempatan untuk beristirahat. Namun, cepat tidur bukan otomatis berarti kualitas tidur lebih baik; waktu terlelap yang sangat singkat juga dapat menjadi tanda seseorang mengalami kekurangan tidur atau kantuk berlebihan.

Tubuh Lelah, Pikiran Belum Berhenti

Prof Sudarnoto Dorong OKI Tindak Lanjuti Resolusi PBB untuk Palestina

Ada pula kondisi ketika tubuh sudah lelah tetapi pikiran masih aktif. Pekerjaan, persoalan keluarga, rencana esok hari, masalah keuangan, atau kecemasan dapat membuat seseorang sulit memasuki kondisi rileks yang dibutuhkan untuk memulai tidur.

Keinginan yang terlalu kuat untuk segera tertidur juga dapat berubah menjadi tekanan. Ketika seseorang terus memikirkan berapa jam lagi ia harus bangun, kecemasan justru dapat membuat proses tidur semakin sulit.

Kafein, Layar, dan Lingkungan

Kebiasaan sebelum tidur turut memengaruhi sleep latency. Kafein, jadwal tidur yang tidak teratur, serta aktivitas menggunakan perangkat elektronik menjelang tidur dapat mengganggu proses seseorang memasuki waktu istirahat.

Lingkungan juga berperan. Suhu kamar yang terlalu panas, suara bising, cahaya berlebihan, atau tempat tidur yang tidak nyaman dapat membuat tubuh lebih sulit rileks.

Pemerintah Membatasi Penggunaan Gawai di Lingkungan Sekolah Binaan Kemenag

Kapan Sulit Tidur Perlu Diperhatikan?

Sesekali membutuhkan waktu lama untuk tertidur belum tentu berarti seseorang mengalami gangguan tidur. Namun, kesulitan tidur yang berulang, sering terbangun, bangun terlalu dini, atau disertai rasa lelah dan mengantuk pada siang hari perlu mendapat perhatian.

Insomnia kronis, misalnya, ditandai gangguan tidur setidaknya tiga kali dalam seminggu selama lebih dari tiga bulan dan disertai dampak pada aktivitas sehari-hari.

Perspektif UBN Newsroom | Tidur sebagai Tanda Kekuasaan Allah

Perbedaan kemampuan seseorang untuk tertidur menunjukkan bahwa tubuh manusia memiliki sistem yang kompleks sekaligus berada dalam keteraturan yang Allah ciptakan. Al-Qur’an bahkan menyebut tidur sebagai bagian dari tanda kekuasaan-Nya.

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦ مَنَامُكُم بِٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱبْتِغَآؤُكُم مِّن فَضْلِهِۦٓ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍۢ يَسْمَعُونَ

Artinya:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.”

(QS. Ar-Rum [30]: 23)

Tidur bukan sekadar berhentinya aktivitas tubuh. Ia merupakan bagian dari mekanisme pemulihan yang Allah berikan kepada manusia. Karena itu, menjaga waktu istirahat, menata kebiasaan sebelum tidur, dan memperhatikan kondisi tubuh merupakan bagian dari ikhtiar menjaga amanah kesehatan.

Jika malam ini seseorang belum juga terlelap sementara orang di sebelahnya sudah tidur lebih dahulu, tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang salah. Bisa jadi jam biologis, tekanan tidur, keadaan pikiran, dan kondisi lingkungan mereka memang sedang berada pada titik yang berbeda.

Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban

UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.

Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement