Advertisement
Gaya Hidup
Home » Cara Menghadapi Anak Remaja yang Mulai Menjauh

Cara Menghadapi Anak Remaja yang Mulai Menjauh

JAKARTA, UBN NEWSROOM — Selasa, 15 Jumadil Awal 1448 H / 27 Oktober 2026 M.

Memasuki usia remaja, anak mulai mencari kebebasan, membangun identitas diri, dan ingin menentukan pilihannya sendiri. Perubahan ini terkadang membuat hubungan dengan orang tua terasa semakin berjarak. Perbedaan pandangan pun dapat memicu perselisihan dalam keluarga.

Meski demikian, remaja tetap membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan dukungan orang tua. Kedekatan emosional dapat dijaga melalui kebiasaan sederhana, seperti meluangkan waktu bersama, mendengarkan tanpa menghakimi, serta memberikan ruang bagi anak untuk belajar mandiri dengan tetap memperhatikan keselamatannya.

Profesor Human Development and Family Studies di Pennsylvania State University, Greg Fosco, menyarankan orang tua meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan menyenangkan bersama anak, meskipun hanya sebentar.

“Jadwalkan kegiatan menyenangkan bersama anak Anda, meskipun hanya 15 menit setiap minggu. Meluangkan waktu untuk bersenang-senang bersama itu penting,” ujarnya, dikutip dari Penn State University, Ahad (25/10/2026).

Penggerebekan Ponpes Sukoharjo, Santriwati Diduga Diintimidasi

MENDENGARKAN TANPA MENGHAKIMI

Ketika anak mulai bercerita, orang tua sebaiknya memberikan perhatian penuh. Hindari terburu-buru menghakimi, menyalahkan, atau langsung memberikan nasihat sebelum memahami persoalan yang sedang dihadapi anak.

“Ketika mereka mengangkat suatu topik, cobalah menanggapinya dengan rasa ingin tahu, bukan menghakimi,” ujar Fosco.

Remaja terkadang memilih diam dan enggan menceritakan persoalan yang dihadapinya. Namun, ketika mereka mulai membuka percakapan, orang tua perlu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membangun kedekatan.

Orang tua dapat mengajukan pertanyaan sederhana mengenai pengalaman dan perasaan anak setelah menghadapi suatu kejadian. Cara ini membantu anak merasa didengarkan sekaligus memberikan kesempatan kepada orang tua untuk memahami sudut pandangnya.

Netanyahu Kehilangan Mayoritas, Qatar Terseret Tuduhan Intervensi Pemilu

“Perhatikan anak Anda dan ajukan pertanyaan seperti, ‘Seperti apa pengalaman itu?’ atau ‘Bagaimana perasaanmu saat itu?’,” kata Fosco.

Selain berbincang, kedekatan juga dapat dibangun melalui kegiatan yang disukai bersama. Bermain kartu, berolahraga, atau melakukan aktivitas sederhana lainnya dapat menjadi kesempatan untuk menikmati waktu bersama tanpa tekanan.

MEMBERI KEBEBASAN DENGAN BATASAN

Kebutuhan untuk mandiri merupakan bagian dari perkembangan remaja. Pada tahap ini, anak mulai belajar menentukan pilihan, menghadapi konsekuensi, dan membangun tanggung jawab.

Memberikan kebebasan bukan berarti orang tua melepaskan pengawasan. Pendampingan tetap diperlukan agar anak dapat tumbuh menjadi pribadi mandiri dengan tetap memperhatikan keselamatan dan kesejahteraannya.

Arab Saudi Siapkan Penyimpanan Minyak di Singapura, Kapasitas Gua Bawah Tanah Capai 9 Juta Barel

Fosco menjelaskan bahwa orang tua perlu membicarakan tujuan kepergian anak dan orang-orang yang akan bersamanya. Komunikasi tersebut sebaiknya dibangun berdasarkan kepercayaan, bukan semata-mata melalui larangan.

“Sebagai orangtua, tugas kita adalah membantu anak-anak tumbuh dengan aman menjadi orang dewasa yang mandiri. Untuk mendukung proses ini, bicarakan dengan anak tentang ke mana mereka akan pergi dan dengan siapa mereka akan bersama,” ujarnya.

Pengawasan yang terlalu ketat dapat menghambat kesempatan remaja untuk belajar mengambil keputusan dan membangun hubungan sosial. Karena itu, orang tua perlu menyeimbangkan aturan dengan ruang bagi anak untuk berkembang.

Orang tua juga sebaiknya berusaha memahami minat anak, meskipun berbeda dari kesukaan mereka sendiri. Bermain gim, misalnya, tidak selalu menjadi persoalan selama tidak mengganggu waktu tidur, tugas sekolah, tanggung jawab keluarga, dan hubungan sosial.

TETAP MENUNJUKKAN KASIH SAYANG

Perubahan perilaku anak selama masa remaja terkadang membuat orang tua merasa ditolak. Anak mungkin mulai menjaga jarak atau merasa kurang nyaman menunjukkan kedekatan di depan teman-temannya.

Namun, sikap tersebut tidak serta-merta berarti anak tidak lagi membutuhkan kasih sayang. Mereka mungkin sedang belajar menemukan identitas diri dan ruang pribadinya.

Orang tua dapat menyesuaikan cara menunjukkan perhatian. Tidak semua anak nyaman dipeluk atau diperlakukan seperti ketika masih kecil. Perhatian juga dapat ditunjukkan melalui kesediaan mendengarkan, membantu ketika diperlukan, atau sekadar menanyakan kabar tanpa mendesak anak untuk bercerita.

Kedekatan emosional dengan orang tua juga berkaitan dengan kesejahteraan remaja. Menurut Fosco, remaja melaporkan perasaan lebih bahagia serta memiliki makna dan tujuan hidup yang lebih kuat pada hari-hari ketika mereka merasa dekat dengan orang tua.

“Pada hari-hari ketika anak-anak merasa dekat dengan orangtua mereka, mereka merasa lebih bahagia dan memiliki makna serta tujuan hidup yang lebih kuat,” kata Fosco.

Karena itu, menjaga hubungan dengan anak remaja tidak selalu membutuhkan nasihat panjang atau percakapan serius. Kehadiran yang konsisten, kesediaan mendengarkan, penghargaan terhadap kemandirian, dan waktu berkualitas dapat menjadi cara sederhana untuk mempertahankan kedekatan.

Ketika anak mulai diam dan menjauh, orang tua tidak perlu langsung menganggapnya sebagai bentuk pembangkangan. Terkadang, yang dibutuhkan anak bukanlah teguran, melainkan ruang untuk tumbuh dan keyakinan bahwa orang tuanya tetap menjadi tempat yang aman untuk kembali bercerita.

Pages: 1 2

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement