NEPAL | UBN Newsroom — Kamis, 14 Rabiul Awal 1448 H / 27 Agustus 2026 M.
Banjir bandang dahsyat menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet, China, pada Rabu (26/8/2026), membawa lumpur, batu, dan material es dari kawasan Himalaya hingga menghancurkan permukiman, kendaraan, jalan, jembatan, serta sejumlah infrastruktur pembangkit listrik. Sedikitnya 157 orang dilaporkan tewas di Nepal, sementara lebih dari 400 wisatawan masih dinyatakan hilang.
Material Lumpur, Batu, dan Es Menerjang Permukiman
Banjir terjadi setelah material es, batu, dan longsoran dari kawasan Himalaya masuk ke aliran sungai dan memicu arus deras menuju wilayah Nepal. Dugaan awal sebelumnya mengaitkan bencana tersebut dengan gempa bermagnitudo 4,4 yang kemungkinan memicu runtuhnya bagian bawah gletser.
Namun, analisis awal otoritas Nepal menunjukkan longsoran es dan batu sebagai pemicu utama banjir. Wilayah Rasuwa menjadi salah satu kawasan yang terdampak paling parah.
Arus banjir menerjang kawasan di sekitar Sungai Bhotekoshi dan menghancurkan bangunan, kendaraan, jembatan, jalan, serta fasilitas pembangkit listrik. Sedikitnya 19 jembatan dan sekitar 40 kilometer jalan dilaporkan rusak atau tersapu banjir.

Ratusan Wisatawan dan Warga Masih Hilang
Nepal Tourism Board melaporkan sekitar 403 orang belum diketahui keberadaannya, termasuk 341 warga negara asing. Mereka berasal dari sejumlah negara, termasuk India, Amerika Serikat, Australia, Inggris, Kanada, Malaysia, dan negara lainnya.
Sebanyak 133 warga negara India dilaporkan termasuk dalam daftar orang yang hilang. Sebagian besar merupakan peserta perjalanan ziarah menuju kawasan Kailash Mansarovar di Tibet.
Di sisi China, wilayah Gyirong di Tibet juga terdampak longsoran dan banjir. Laporan awal menyebut sedikitnya tiga orang meninggal dunia dan 265 orang masih hilang di wilayah tersebut.
Proses Pencarian dan Penyelamatan Berlangsung
Tim penyelamat Nepal terus dikerahkan untuk mencari korban dan warga yang masih hilang. Namun, kondisi medan yang sulit, rusaknya akses jalan dan jembatan, serta tingginya arus air membuat proses evakuasi menghadapi berbagai kendala.
Sejumlah rekaman kamera pengawas di sisi China memperlihatkan warga berusaha menyelamatkan diri beberapa saat sebelum derasnya air, lumpur, batu, dan material longsoran menerjang kawasan permukiman serta fasilitas umum.

Pemerintah Nepal meminta masyarakat tetap waspada dan menghindari wilayah sekitar sungai karena ancaman banjir susulan masih menjadi perhatian. Operasi pencarian dan penyelamatan terus dilakukan, sementara jumlah korban maupun orang yang hilang masih dapat berubah seiring proses pendataan di lapangan.
Perspektif UBN Newsroom
Musibah dan Amanah Menjaga Kehidupan
Bencana yang menerjang kawasan Himalaya menjadi pengingat tentang rapuhnya kehidupan manusia. Di tengah musibah, penyelamatan jiwa, kepedulian terhadap korban, serta bantuan kepada masyarakat terdampak merupakan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan.
Allah SWT berfirman:
مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ
Artinya:
“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barang siapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya Rasul-rasul Kami telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.”
(QS. Al-Ma’idah [5]: 32)
Ayat tersebut menegaskan tingginya nilai kehidupan manusia. Dalam konteks bencana, upaya pencarian dan penyelamatan korban, evakuasi, penyediaan makanan, layanan kesehatan, tempat perlindungan, serta bantuan kepada masyarakat terdampak merupakan bentuk nyata ikhtiar menjaga kehidupan.
Musibah juga mengajarkan pentingnya mengambil sebab dan melakukan ikhtiar secara serius. Kesiapsiagaan bencana, sistem peringatan dini, pemetaan wilayah rawan, perlindungan lingkungan, serta koordinasi antarlembaga dan antarnegara perlu diperkuat agar risiko korban dapat ditekan.
Pada akhirnya, kepedulian terhadap korban bencana tidak boleh dibatasi oleh perbedaan bangsa, negara, maupun latar belakang. Ketika manusia berada dalam kesulitan, menyelamatkan dan membantu mereka merupakan bagian dari nilai kemanusiaan yang sejalan dengan ajaran Islam.
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment