JAKARTA, UBN NEWSROOM — Jumat, 29 Rabiul Awal 1448 H / 11 September 2026 M.
Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-14 telah kembali ke Indonesia setelah menjalankan misi kemanusiaan selama sekitar satu bulan di Jalur Gaza. Dua relawan medis, dokter spesialis paru dr. Shinta Chairiah, Sp.P., M.M., dan dokter spesialis anestesi dr. Lius Hariman, Sp.An., membawa kesaksian mengenai kondisi pelayanan kesehatan, keterbatasan obat dan alat medis, serta keteguhan masyarakat Gaza yang mereka temui selama bertugas.
Tim EMT MER-C ke-14 terdiri atas dr. Shinta Chairiah, dr. Lius Hariman, dan perawat Nadia Rosi, Amd.Kep. Mereka berangkat dari Jakarta pada 20 Juli 2026 dan memasuki Jalur Gaza pada 28 Juli 2026 untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat. Selama penugasan, tim memberikan pelayanan di sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Gaza Selatan.
Setelah kembali ke Indonesia pada 28 Agustus 2026, para relawan membawa pesan yang mereka terima langsung dari pasien dan warga Gaza. Salah satu hal yang paling membekas adalah ucapan terima kasih masyarakat Gaza ketika melihat seragam medis dengan bendera Indonesia.
WARGA GAZA SAMPAIKAN TERIMA KASIH KEPADA RELAWAN INDONESIA
Dr. Lius Hariman mengatakan, banyak pasien di Gaza secara spontan menyampaikan rasa terima kasih ketika melihat seragam yang dikenakan para relawan MER-C, terlebih ketika melihat bendera Indonesia.
“Banyak sekali pasien yang begitu melihat seragam dengan bendera Indonesia langsung mengucapkan terima kasih dan mengekspresikan rasa salut mereka karena kita sudah menempuh perjalanan yang jauh untuk menemani masyarakat Gaza,” ujar Lius.
Menurutnya, masyarakat Gaza mengetahui bahwa rakyat Indonesia memiliki solidaritas yang kuat terhadap mereka.
“Mereka sangat berterima kasih. Bukan hanya satu atau dua pasien, tetapi hampir semua pasien yang pernah dilayani oleh Rumah Sakit Indonesia ataupun relawan dari Indonesia. Begitu melihat seragam medis, mereka langsung mengungkapkan rasa syukurnya dan berulang kali mengucapkan terima kasih,” katanya.
Lius menuturkan, ungkapan terima kasih tersebut bahkan disampaikan sejumlah pasien sebelum menjalani tindakan medis hingga setelah mereka sadar kembali dan kembali ke ruangan.
KETERBATASAN ALAT KESEHATAN DAN OBAT-OBATAN
Dr. Shinta Chairiah mengungkapkan bahwa salah satu hal yang paling membekas selama menjalankan misi adalah keterbatasan alat kesehatan dan obat-obatan di Gaza.
Menurutnya, akses masuk alat kesehatan maupun obat-obatan ke Gaza sangat terbatas. Kondisi tersebut membuat tenaga medis harus mampu mengoptimalkan berbagai peralatan dan obat yang tersedia untuk menangani pasien.
“Di sana itu untuk masuk alat kesehatan ataupun obat-obatan memang sangat dibatasi. Sehingga tenaga medis di sana harus bisa memanfaatkan alat-alat dan juga obat-obatan yang tersedia untuk bisa menangani masalah kesehatan di Gaza,” jelas Shinta.
Keterangan tersebut sejalan dengan laporan MER-C selama tim masih bertugas. MER-C menyebut peralatan medis, obat bius, dan berbagai fasilitas penunjang di Gaza masih terbatas sehingga tenaga kesehatan harus bekerja secara strategis dan efisien.
Selama bertugas di Rumah Sakit Nasser, dr. Shinta juga menangani pasien dengan gangguan pernapasan, termasuk pneumonia dan penumpukan cairan di paru. Pada sejumlah kasus, tim melakukan prosedur medis seperti pleurosentesis dan bronkoskopi untuk membantu diagnosis serta penanganan pasien.
PENYAKIT PERNAPASAN BANYAK DITEMUKAN
Selama bertugas pada musim panas, Shinta juga menemukan tantangan kesehatan yang berkaitan dengan kondisi lingkungan tempat warga Gaza bertahan hidup.
Suhu yang tinggi, debu yang banyak, serta kondisi tempat tinggal berupa tenda dengan ventilasi terbatas menjadi bagian dari kondisi yang dihadapi masyarakat.
Menurut Shinta, penyakit batuk kronis dan gangguan paru menjadi salah satu kondisi yang banyak ditemui. Sejumlah penyakit paru yang ditangani bahkan sudah berada dalam kondisi berat.
“Penyakit-penyakit paru yang sudah sampai itu memang yang sudah sangat berat. Infeksi saluran pernapasan sangat banyak ditemui di Gaza saat ini,” ungkapnya.
MER-C sebelumnya juga melaporkan bahwa paparan debu dan kondisi lingkungan di tenda pengungsian yang kurang memadai menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan meningkatnya keluhan saluran pernapasan warga.
OBAT SEDERHANA HINGGA OBAT NYERI SULIT DIDAPATKAN
Lius menambahkan, keterbatasan obat juga menjadi persoalan serius dalam pelayanan medis. Bahkan obat-obatan yang tergolong sederhana, termasuk obat untuk mengatasi nyeri, sulit ditemukan.
Kondisi tersebut berdampak pada pasien yang baru menjalani operasi karena penanganan nyeri tidak selalu dapat dilakukan secara optimal.
“Banyak sekali obat-obatan yang sangat sederhana itu sangat sulit dicari di Gaza. Salah satunya obat-obat nyeri. Pasien banyak yang habis mengalami, menjalani operasi, biasanya penanganan nyerinya kurang optimal karena keterbatasan obat,” kata Lius.
Ia juga menjelaskan bahwa sebagian obat yang tersedia memiliki persoalan masa kedaluwarsa. Dalam kondisi tertentu, penggunaan kembali obat dilakukan setelah melalui koordinasi dan mendapatkan clearance dari Kementerian Kesehatan Palestina.
“Kalaupun obatnya tersedia biasanya sudah lama ada, kedaluwarsa. Tapi kadang kita lihat lagi kondisi obatnya, dikoordinasi lagi dengan Kementerian Kesehatan Palestina. Apabila mendapatkan clearance, obat biasanya di-repurpose kembali dan digunakan untuk melayani pasien,” jelasnya.
TENAGA MEDIS HARUS MENENTUKAN PRIORITAS
Keterbatasan fasilitas membuat tim medis harus menentukan prioritas dalam menangani pasien.
Shinta menjelaskan bahwa tenaga medis mempertimbangkan kondisi pasien, kemungkinan perbaikan terapi, serta ketersediaan alat dan tindakan medis yang dapat dilakukan di Gaza.
“Cara kami memilih-milih prioritas pasien mana yang akan kami tangani atau dengan cara seperti apa, kita lihat dulu. Pertama adalah kemungkinan dia untuk diperbaiki terapinya dengan yang ada dan tersedia di Gaza saat ini, dan juga alat ataupun tindakan-tindakan yang bisa dilakukan di Gaza saat ini,” ujarnya.
Selain memberikan pelayanan langsung, misi MER-C juga mencakup penguatan kapasitas tenaga kesehatan lokal. Selama penugasan, dr. Shinta memberikan bimbingan kepada dokter dan perawat mengenai penanganan gangguan pernapasan dan kegawatdaruratan respirasi.
KRISIS KESEHATAN BERLANGSUNG DI TENGAH KONDISI YANG BELUM PULIH
Kesaksian para relawan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan di Gaza tidak berdiri sendiri. Pelayanan medis berlangsung di tengah kondisi kemanusiaan yang masih sangat berat.
Reuters melaporkan pada 10 September 2026 bahwa rumah sakit-rumah sakit di Gaza masih menghadapi kekurangan bahan bakar, oli mesin, dan suku cadang generator. Kondisi tersebut mengancam keberlangsungan layanan penting di fasilitas kesehatan, termasuk penggunaan ventilator dan pompa air.
Pada hari yang sama, Reuters juga melaporkan bahwa kekerasan masih berlangsung di Gaza. Sebuah serangan udara Israel di Gaza utara dilaporkan menewaskan satu keluarga yang terdiri dari pasangan suami istri dan dua anak mereka. Laporan tersebut menyebut kekerasan terus terjadi meskipun sebelumnya telah ada kesepakatan gencatan senjata.
GAZA MENGAJARKAN MAKNA KETANGGUHAN
Di balik berbagai keterbatasan yang dihadapi selama misi, Lius mengatakan pengalaman di Gaza memberikan pelajaran pribadi yang sangat kuat.
Ia mengaku selama berada di Gaza semakin menyadari banyaknya nikmat kehidupan yang selama ini mudah dianggap biasa ketika hidup dalam kondisi yang relatif nyaman.
“Pelajaran yang paling banyak, hampir setiap hari saya diingatkan selama di Gaza itu terlalu banyak nikmat dunia ini yang kami tidak syukuri karena hidup terlalu nyaman di Indonesia,” ujarnya.
Menurut Lius, situasi kerja yang sulit, kondisi kehidupan yang berat, tekanan ekonomi, hingga keamanan yang tidak stabil justru memperlihatkan ketangguhan masyarakat yang tetap bertahan di Gaza.
“Orang-orang yang masih bertahan di Gaza ini benar-benar resilient. Kalau wujudnya ada, ya itu teman-teman di Gaza,” katanya.
PERSPEKTIF UBN NEWSROOM
JANGAN BERHENTI MEMBANTU PALESTINA
Kesaksian para relawan EMT MER-C yang baru kembali dari Gaza seharusnya menjadi pengingat sekaligus motivasi bagi kita sebagai sesama Muslim untuk terus membantu rakyat Palestina yang hingga kini masih sangat membutuhkan pertolongan.
Apa yang disampaikan dr. Lius dan dr. Shinta bukan sekadar cerita dari sebuah wilayah yang jauh. Mereka melihat langsung bagaimana masyarakat Gaza harus bertahan dengan keterbatasan obat-obatan, alat kesehatan, listrik, tempat tinggal yang layak, serta berbagai kebutuhan dasar lainnya. Di tengah kondisi tersebut, masyarakat Gaza tetap bertahan dan bahkan masih menunjukkan rasa terima kasih kepada para relawan yang datang membantu mereka.
Kesaksian ini semestinya membuat kita semakin sadar bahwa kebutuhan rakyat Palestina belum selesai. Mereka masih membutuhkan dukungan kita. Karena itu, kepedulian terhadap Palestina tidak boleh hanya muncul ketika pemberitaan tentang Gaza sedang ramai. Selama penderitaan dan kebutuhan kemanusiaan masih berlangsung, solidaritas juga harus terus dijaga.
Bagi kita yang tidak dapat datang langsung ke Gaza, masih banyak jalan untuk mengambil bagian. Doa, infak, sedekah, bantuan kemanusiaan, dukungan kepada lembaga yang amanah, hingga menyebarkan informasi yang benar tentang kondisi Palestina merupakan bentuk kepedulian yang dapat dilakukan sesuai kemampuan masing-masing.
TERUS SUARAKAN KEZALIMAN, TERUS BELA KEMANUSIAAN
Kita juga tidak boleh berhenti menyuarakan berbagai bentuk kezaliman dan penderitaan yang dialami rakyat Palestina. Kesaksian para relawan di lapangan menunjukkan bahwa krisis kemanusiaan di Gaza masih nyata. Laporan terbaru juga menunjukkan bahwa kekerasan dan serangan Israel masih berlangsung di Gaza, dengan warga sipil tetap menjadi bagian dari korban yang terdampak.
Maka, suara untuk Palestina tidak boleh padam. Dunia perlu terus diingatkan bahwa di balik angka-angka korban dan pemberitaan tentang konflik, ada manusia yang kehilangan keluarga, rumah, kesehatan, keamanan, dan masa depan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا
“Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.’”
QS. An-Nisa [4]: 75
Ayat tersebut mengingatkan tentang pentingnya keberpihakan kepada orang-orang yang tertindas dan membutuhkan pertolongan. Dalam konteks kemanusiaan hari ini, penderitaan rakyat Palestina semestinya tidak membuat umat Islam menjadi terbiasa melihat kezaliman.
Kita mungkin tidak mampu menghentikan perang dengan tangan kita sendiri. Namun, kita tetap dapat berdoa, membantu, menyuarakan kebenaran, mendukung perjuangan kemanusiaan, dan memastikan bahwa penderitaan rakyat Palestina tidak dilupakan.
Kesaksian para relawan yang melihat langsung kondisi Gaza hendaknya menjadi penguat bagi kita untuk terus peduli. Sebab bagi masyarakat Palestina, setiap bantuan yang diberikan bukan sekadar angka atau materi, tetapi juga pesan bahwa mereka tidak sendirian dan bahwa masih ada saudara-saudara mereka yang peduli dan berusaha membantu.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menguatkan rakyat Palestina, melindungi mereka dari kezaliman, menyembuhkan yang terluka, memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan, serta memberikan kekuatan kepada umat Islam dan seluruh manusia yang terus berusaha membantu dan menyuarakan keadilan.
CATATAN REDAKSI
Berita ini disusun berdasarkan kesaksian dr. Lius Hariman, Sp.An., dan dr. Shinta Chairiah, Sp.P., M.M., serta dikontekstualisasikan dengan laporan resmi MER-C mengenai pelaksanaan misi EMT ke-14 dan kondisi pelayanan kesehatan di Gaza, serta laporan Reuters mengenai kondisi kemanusiaan dan keamanan terkini di Gaza.
DUKUNGAN OPERASIONAL DAKWAH & JURNALISME PERADABAN
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan jurnalisme yang berpijak pada fakta, kepedulian kemanusiaan, dan nilai-nilai Islam. Dukungan masyarakat membantu keberlangsungan kerja dakwah dan jurnalisme peradaban.
BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.
Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu.

Comment