SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Internasional
Home » Film NAZA Menang di Venesia, Netanyahu Ancam Pembuatnya

Film NAZA Menang di Venesia, Netanyahu Ancam Pembuatnya

YERUSALEM | UBN Newsroom — Kamis, 6 Rabiul Akhir 1448 H / 17 September 2026 M.

Film dokumenter NAZA meraih Special Jury Prize pada Festival Film Venesia ke-83. Namun, penghargaan tersebut justru diikuti tekanan politik terhadap dua pembuatnya, Yuval Abraham dan Rachel Szor, setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan akan mendorong aturan yang memungkinkan pencabutan kewarganegaraan terhadap orang yang dianggap mencemarkan nama baik tentara Israel.

Pernyataan Netanyahu muncul setelah film tersebut memicu perdebatan mengenai operasi militer Israel di Gaza dan dugaan penggunaan sistem penargetan yang berisiko menimbulkan korban sipil. Netanyahu dan militer Israel menolak gambaran yang disampaikan film tersebut.

NAZA Raih Special Jury Prize

La Biennale di Venezia mencatat NAZA sebagai penerima Special Jury Prize dalam kompetisi utama Venezia 83 yang berlangsung September 2026. Film berdurasi 80 menit itu disutradarai Yuval Abraham dan Rachel Szor serta diproduksi antara lain oleh The Guardian dan JW Films.

MUI Dorong Kesiapan Pelaksanaan Wajib Halal Oktober 2026

NAZA dibuat melalui investigasi selama sekitar tiga tahun dan memuat kesaksian anonim dari personel militer serta intelijen Israel. Film tersebut mengangkat dugaan mengenai bagaimana sistem teknologi, pengawasan, dan penargetan digunakan dalam operasi di Gaza.

Netanyahu Siapkan Rencana Legislasi

Reuters melaporkan Netanyahu pada 16 September mengatakan pemerintahannya akan mendorong aturan untuk mencabut kewarganegaraan orang yang dianggap mencemarkan tentara Israel. Ia juga menyatakan akan menaikkan secara drastis ganti rugi dalam perkara pencemaran nama baik terhadap tentara.

Pernyataan tersebut belum berarti Abraham dan Szor kehilangan kewarganegaraan atau telah dinyatakan bersalah. Rencana legislasi masih harus melalui proses hukum dan berpotensi menghadapi pengujian di pengadilan.

Militer Israel Pertimbangkan Langkah Hukum

Prof Sudarnoto Dorong OKI Tindak Lanjuti Resolusi PBB untuk Palestina

Tekanan terhadap film juga datang dari jajaran militer. Kepala Staf Militer Israel Eyal Zamir menolak gambaran dalam NAZA dan menyebut film tersebut mencemarkan tentara, sementara militer dilaporkan mempertimbangkan kemungkinan langkah hukum.

Di sisi lain, para pembuat film mempertahankan hasil investigasi mereka. Dalam pernyataan resmi yang dimuat La Biennale, Abraham dan Szor mengatakan mereka membuat film tersebut sebagai warga Israel yang merasa berkewajiban memeriksa sistem yang digunakan negaranya dalam perang Gaza.

Perdebatan Bergeser ke Kebebasan Berekspresi

Kontroversi NAZA kemudian meluas dari persoalan isi film menjadi perdebatan mengenai kebebasan berekspresi dan batas kewenangan negara terhadap warga yang mengkritik institusi militer.

The Guardian melaporkan kedua pembuat film dan keluarga mereka juga menghadapi ancaman setelah kontroversi tersebut berkembang. Sejumlah organisasi masyarakat sipil Israel turut menyatakan dukungan kepada Abraham dan Szor.

Pemerintah Membatasi Penggunaan Gawai di Lingkungan Sekolah Binaan Kemenag

Pada saat yang sama, pemerintah dan militer Israel mempertahankan pandangan bahwa film tersebut memberikan gambaran yang keliru mengenai operasi militernya. Karena itu, tuduhan yang disampaikan dalam dokumenter perlu dibedakan dari fakta yang telah terbukti secara hukum.

Gaza Menjadi Pusat Perdebatan

NAZA menempatkan kesaksian dari dalam institusi militer Israel sebagai dasar untuk mempertanyakan proses penargetan dan dampaknya terhadap warga sipil di Gaza. Namun, kesimpulan dokumenter tersebut merupakan bagian dari perdebatan yang masih ditolak oleh pemerintah dan militer Israel.

Penghargaan di Venesia membuat perdebatan tersebut memperoleh perhatian internasional. Di Israel, persoalan itu berkembang menjadi polemik mengenai reputasi tentara, kewarganegaraan, kemungkinan tindakan hukum, serta ruang bagi kritik terhadap kebijakan dan operasi militer.

Perspektif UBN Newsroom | Keadilan Tidak Boleh Dipisahkan dari Kebenaran

Perdebatan mengenai NAZA mengingatkan bahwa tuduhan dalam konflik harus diuji dengan bukti, sementara kritik terhadap tindakan negara juga tidak semestinya dihadapi dengan mengabaikan hak untuk menyampaikan pendapat.

Al-Qur’an memerintahkan orang beriman untuk tetap menegakkan keadilan, bahkan ketika berhadapan dengan pihak yang tidak disukai:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

(QS. Al-Ma’idah [5]: 8)

Dalam konteks perang, prinsip tersebut menuntut kehati-hatian dalam menerima setiap klaim, baik mengenai tindakan militer maupun tuduhan terhadap pihak yang mengkritiknya. Kesaksian perlu diperiksa, tuduhan perlu dibuktikan, dan hak warga sipil untuk mendapatkan perlindungan serta informasi yang benar tidak boleh hilang di tengah pertarungan narasi.

NAZA kini bukan hanya menjadi karya yang memperoleh penghargaan di panggung perfilman internasional. Film tersebut juga menjadi bagian dari perdebatan yang lebih luas mengenai perang Gaza, akuntabilitas militer, kebebasan berekspresi, dan batas kewenangan negara terhadap kritik.

Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban

UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.

Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam

Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement