LIMA, PERU | UBN Newsroom — Jumat, 8 Rabiulawal 1448 H / 21 Agustus 2026 M.
Gempa berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang Pegunungan Andes di bagian selatan Peru pada Kamis (20/8/2026). Pusat gempa berada 38 kilometer di barat laut Kota Upahuacho, Provinsi Parinacochas, Wilayah Ayacucho, dengan kedalaman 66 kilometer.
Gempa menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah dan fasilitas umum. Sedikitnya dua orang dilaporkan terluka, sementara hingga laporan awal tidak terdapat laporan korban jiwa yang signifikan.
Gempa dirasakan hingga sejumlah wilayah Peru
Menurut data Layanan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa terjadi pada pukul 14.00 waktu setempat dengan kedalaman 66 kilometer.
Diperkirakan sekitar 35.000 orang merasakan guncangan kuat, 197.000 orang merasakan guncangan sedang, sekitar 2 juta orang merasakan guncangan ringan, dan 57.000 orang merasakan guncangan lemah.
Guncangan terasa di sejumlah wilayah Peru bagian selatan, termasuk Ica dan Arequipa. Gempa juga dirasakan di Huancavelica, Apurímac, Cusco, hingga Lima.
Pusat Operasi Darurat Nasional (COEN) Peru melaporkan guncangan terasa sangat kuat di sejumlah distrik di Provinsi Parinacochas, Ayacucho, seperti Coracora, Chumpi, Coronel Castañeda, Pacapausa, Pullo, Puyusca, San Francisco de Ravavayco, dan Upahuacho, serta di Distrik Nazca, Ica.
Magnitudo berbeda menurut lembaga
Terdapat perbedaan hasil pengukuran magnitudo antara lembaga seismologi.
USGS mencatat gempa tersebut berkekuatan magnitudo 6,7. Sementara itu, Institut Geofisika Peru (IGP), lembaga resmi seismologi Peru, mencatat magnitudo 7,2.
Perbedaan pengukuran dapat terjadi karena masing-masing lembaga menggunakan metodologi dan parameter pengukuran yang berbeda.
Puluhan rumah dan fasilitas umum rusak
Gempa dilaporkan menyebabkan kerusakan terhadap 22 rumah, enam pusat kesehatan berupa klinik atau rumah sakit, serta satu sekolah di sejumlah distrik di Ayacucho dan Cusco.
Kerusakan antara lain dilaporkan di wilayah Puquio, Pullo, dan Coracora.
COEN juga mencatat pemadaman listrik di Provinsi Nazca, Ica, yang berdampak terhadap sekitar 6.000 pengguna.
Meski demikian, COEN menyatakan unit layanan darurat bersama otoritas lokal terus melakukan pemantauan di wilayah berisiko dan sejauh ini belum melaporkan kerusakan yang signifikan secara keseluruhan.
Tidak ada ancaman tsunami
Direktorat Hidrografi dan Navigasi Angkatan Laut Peru menyatakan tidak terdapat ancaman tsunami di sepanjang pantai Peru akibat gempa tersebut.
Pusat Peringatan Tsunami Pasifik (NWS PTWC) juga mengumumkan pada pukul 18.06 UTC bahwa gempa tidak menimbulkan ancaman tsunami.
Masyarakat tetap diminta waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. Hingga saat ini, belum terdapat laporan mengenai gempa susulan signifikan di Peru.
Pemerintah minta masyarakat waspada terhadap informasi keliru
Institut Geofisika Peru mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap informasi yang beredar melalui media sosial.
Masyarakat dianjurkan mengandalkan informasi resmi dari lembaga pemerintah dan institusi yang memiliki kewenangan dalam pemantauan gempa serta penanganan keadaan darurat.
Peru berada di kawasan Cincin Api Pasifik
Peru merupakan salah satu negara yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Pacific Ring of Fire, wilayah yang dikenal memiliki aktivitas seismik tinggi.
Sejarah gempa di Peru menunjukkan potensi dampak serius apabila gempa terjadi di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi. Pada 2007, gempa berkekuatan 7,9 di wilayah Ica menewaskan hampir 600 orang.
Dalam kejadian terbaru ini, USGS memberikan penilaian dampak Green Alert, yang menunjukkan kemungkinan korban dan kerusakan relatif rendah. Namun, sebagian penduduk di wilayah terdampak tinggal di bangunan yang rentan terhadap guncangan gempa.
Perspektif UBN Newsroom
Kesiapsiagaan di kawasan rawan bencana
Gempa Peru kembali menunjukkan bahwa kawasan yang berada di jalur Cincin Api Pasifik membutuhkan kesiapsiagaan bencana yang berkelanjutan.
Dampak gempa tidak hanya ditentukan oleh besarnya magnitudo, tetapi juga kedalaman, lokasi pusat gempa, kepadatan penduduk, kualitas bangunan, serta kesiapan masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi bencana.
Kerusakan rumah, fasilitas kesehatan, sekolah, dan gangguan layanan listrik menjadi pengingat bahwa mitigasi bencana perlu dilakukan sebelum bencana terjadi.
Pemerintah dan masyarakat perlu memastikan jalur evakuasi, sistem peringatan dini, standar bangunan tahan gempa, serta kesiapan layanan darurat terus diperkuat.
Menjaga jiwa sebagai amanah
Islam menempatkan keselamatan jiwa sebagai salah satu kemaslahatan yang harus dijaga. Dalam menghadapi bencana, ikhtiar untuk melindungi manusia, menyediakan bantuan, dan mengurangi risiko merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.
Allah SWT berfirman:
مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَۛ كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا ۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَلَقَدْ جَاۤءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِى الْاَرْضِ لَمُسْرِفُوْنَ ٣٢
Artinya : “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.”
(QS. Al-Ma’idah: 32)»
Prinsip tersebut relevan dalam upaya penanggulangan bencana. Menyelamatkan korban, memastikan fasilitas kesehatan tetap berfungsi, menyediakan kebutuhan dasar, serta mencegah jatuhnya korban tambahan merupakan bagian dari menjaga kemaslahatan manusia.
Kesiapsiagaan juga merupakan bentuk ikhtiar. Tawakal tidak berarti mengabaikan upaya pencegahan, melainkan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga keselamatan diri dan orang lain.
Menjaga kewaspadaan setelah gempa
Gempa M 6,7 yang mengguncang Peru menunjukkan bahwa aktivitas seismik dapat menimbulkan dampak pada kehidupan masyarakat meskipun korban dan kerusakan relatif terbatas.
Pemantauan terhadap wilayah terdampak dan kemungkinan gempa susulan tetap diperlukan. Masyarakat juga perlu memperoleh informasi dari sumber resmi agar tidak terpengaruh informasi yang keliru.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bukan hanya diperlukan ketika bencana terjadi, tetapi harus menjadi bagian dari budaya masyarakat yang hidup di kawasan rawan gempa.
Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom dapat disalurkan melalui:
BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.
UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.
Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu.

Comment