JAKARTA | UBN Newsroom — Jumat, 6 Rabiul Akhir 1448 H / 18 September 2026 M.
Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) menggelar The 5th Summit of Halal 20 (H20) di Jakarta pada 18–20 September 2026. Forum bertema “Bridging Bridges: Connecting Nations & Stronger Partnerships through Global Halal Trade & Economy” tersebut diikuti 450 peserta dari 48 negara.
H20 menjadi ruang pertemuan regulator, lembaga sertifikasi halal, pelaku industri, dan pemangku kepentingan internasional untuk membahas tata kelola halal, perdagangan lintas negara, serta pengembangan ekonomi halal. Agenda tahun ini juga memuat pembahasan mengenai kemitraan regional, halal passport, audit dan inspeksi halal, hingga rantai pasok lintas batas.
Sejumlah pejabat hadir dalam forum tersebut, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, Menteri UMKM Maman Abdurrahman, serta Utusan Khusus Presiden Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif, dan Digital Ahmad Ridha Sabana.
Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato’ Seri Ahmad Zahid Hamidi dan Menteri Food and Drug Safety Republik Korea Yu-Kyoung Oh turut hadir bersama para duta besar, lembaga sertifikasi halal internasional, dan mitra strategis dari berbagai negara.
Halal Dipandang sebagai Bahasa Universal
Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan menilai halal memiliki karakter universal yang dapat menjadi modal dalam membangun kerja sama antarnegara. Ia menekankan bahwa konsep halal semakin berkaitan dengan kesehatan, kebersihan, transparansi, dan traceability.
“Halal is one language!” ujar Haikal, seraya mencontohkan bahwa istilah halal digunakan dalam berbagai bahasa dan negara.
Menurutnya, ekosistem halal tidak terbatas pada makanan dan minuman. Produk seperti kosmetik, obat-obatan, bahan tertentu, hingga barang gunaan juga menjadi bagian dari cakupan jaminan produk halal sesuai regulasi yang berlaku.
Karena itu, penguatan kerja sama global diarahkan pada pengakuan sertifikasi, harmonisasi standar, pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas lembaga, serta kemudahan perdagangan produk halal lintas negara.
Menuju ASEAN Halal Council
H20 juga menjadi ruang pembahasan penguatan kerja sama halal di kawasan Asia Tenggara. Salah satu agenda yang mengemuka adalah pembentukan ASEAN Halal Council sebagai wadah untuk memperkuat konektivitas ekosistem halal regional.
Malaysia mengusulkan agar ASEAN Halal Council dapat diluncurkan pada September 2027, dengan Malaysia sebagai sekretariat dan Indonesia sebagai ketua perdana, dengan catatan seluruh negara anggota ASEAN menyepakati usulan tersebut.
Sebelum menuju tingkat ASEAN, Indonesia dan Malaysia menyiapkan pembentukan Indonesia-Malaysia Halal Council pada akhir 2026. Kerja sama tersebut diarahkan antara lain untuk memperkuat mekanisme saling pengakuan sertifikasi halal dan mempermudah akses produk halal kedua negara.
Perspektif UBN Newsroom | Halal sebagai Amanah
Halal dalam Islam bukan sekadar label perdagangan, tetapi berkaitan dengan ketaatan kepada Allah sekaligus tanggung jawab dalam memastikan apa yang dikonsumsi dan digunakan manusia berada dalam batas yang dibenarkan syariat.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Artinya:
“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 168)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa prinsip halal berjalan bersama konsep tayyib, yakni sesuatu yang baik dan layak. Dalam konteks industri modern, prinsip ini menuntut adanya kejelasan bahan, proses, keamanan, serta ketertelusuran agar kepercayaan masyarakat tidak berhenti pada label, tetapi didukung oleh sistem yang dapat dipertanggungjawabkan.
H20 2026 memperlihatkan bahwa pembahasan halal kini bergerak melampaui batas negara. Tantangannya adalah membangun kerja sama yang tetap menjaga standar syariat sekaligus memberikan kepastian bagi konsumen dan pelaku usaha dalam perdagangan global.
Dukung Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang berpihak pada kemaslahatan umat dan bangsa.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom BSI 7779700091 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Dukungan tanggap bencana gempa NTT dapat disalurkan melalui: BSI 6070111520 a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
Ikuti media sosial UBN Newsroom untuk mendapatkan berbagai informasi dan analisis strategis tentang umat, bangsa, dan peradaban melalui kanal YouTube UBN Newsroom.

Comment