UBN NEWS | JAKARTA — Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Setiap kali akhir tahun Masehi di bulan Desember tiba, ruang-ruang publik di negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini seolah digadaikan kepada narasi sekuler. Riuh terompet, ledakan petasan, dan kemacetan panjang di malam tahun baru 1 Januari.
Pergantian tahun ini telah menjadi ritual rutin tahunan yang menjajah lini masa serta menguras kantong generasi muda. Ironisnya, sistem birokrasi, sistem ekonomi bahkan institusi pendidikan Islam seperti pesantren dan madrasah pun hingga sekarang masih menggunakan penanggalan Masehi untuk urusan administrasi dan kalender akademik mereka.
Sementara itu, tahun baru umat Islam sendiri, 1 Muharram, justru sering kali dipaksa sunyi senyap, terisolasi hanya di balik dinding-dinding tempat ibadah. Umat Islam seolah dibuat inferior (rendah diri) dan asing dengan identitasnya sendiri di tanah airnya.
Menolak tunduk pada dominasi arus de-Islamisasi visual ini, TIM UBNNEWSROOM melempar sebuah Ide Manifesto Pergerakan (Harakah). UBNNEWSROOM menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh lagi bersikap defensif di dalam ruang gelap sambil meratapi rusaknya zaman.
Sudah saatnya umat melakukan gerakan ofensif kebudayaan untuk merebut kembali jalan-jalan protokol metropolitan melalui cetak biru “Muharram Peradaban: Mengguncang Ruang Publik dengan Tauhid.”

Comment