JOMBANG | UBN Newsroom — Selasa, 12 Rabiul Awal 1448 H / 25 Agustus 2026 M.
Menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, beredar tulisan reflektif berjudul “Ulama Penuntun” yang menyoroti peran ulama dalam menghadapi perubahan zaman.
Tulisan tersebut beredar melalui tangkapan layar media sosial dan mencantumkan nama cendekiawan Yudi Latif. Keaslian unggahan belum dapat diverifikasi secara independen karena belum ditemukan publikasi dari kanal resmi Yudi Latif.
Namun, gagasan mengenai independensi ulama, hubungan dengan kekuasaan, dan keberpihakan kepada umat menjadi relevan untuk dibicarakan menjelang forum tertinggi organisasi tersebut.

Ulama diminta menjadi penuntun umat
Tulisan “Ulama Penuntun” menggambarkan ulama sebagai pihak yang berada di antara warisan masa lalu dan tantangan masa depan.
Ulama diharapkan tidak hanya menjaga tradisi keilmuan, tetapi juga mendorong pendidikan, penguasaan teknologi, dan kemandirian ekonomi umat. Di tengah derasnya arus informasi, ulama juga diharapkan mampu menjadi penapis yang membantu masyarakat membedakan kebenaran dari kebisingan dan pengetahuan dari manipulasi.
Pesan yang paling menonjol adalah pentingnya menjaga independensi ulama agar tidak lebih dekat kepada kekuasaan daripada kepada umat, tidak lebih sibuk berpolitik daripada menuntun kepatutan etik, serta tidak lebih peduli memperkaya diri daripada memperjuangkan kesejahteraan masyarakat.
Muktamar ke-35 memasuki momentum penting
Muktamar Ke-35 NU akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026 atau 14–18 Rabiul Awal 1448 H.
Forum tersebut menjadi momentum penting bagi NU untuk menentukan kepemimpinan sekaligus arah organisasi dalam menghadapi tantangan umat dan perubahan zaman.
Rangkaian muktamar mencakup pembukaan, persidangan, pembahasan komisi, penetapan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), pemilihan Rais Aam, hingga pemilihan Ketua Umum PBNU periode berikutnya.
Tantangan ulama di tengah perubahan zaman
Perubahan teknologi, arus informasi, ketimpangan ekonomi, dan dinamika politik menghadirkan tantangan baru bagi umat.
Dalam kondisi tersebut, ulama memiliki posisi strategis untuk memastikan kemajuan tidak kehilangan arah nilai. Ulama diharapkan mampu menjadi jembatan antara khazanah keislaman dan kebutuhan masyarakat masa kini.
Karena itu, kepemimpinan ulama tidak cukup diukur dari kedekatannya dengan pusat kekuasaan, tetapi juga dari kemampuan menjaga amanah keilmuan dan keberpihakan kepada kemaslahatan umat.
Perspektif UBN Newsroom
Ulama sebagai penjaga arah peradaban
Perubahan zaman membutuhkan ulama yang mampu membaca persoalan baru tanpa kehilangan akar nilai Islam. Pendidikan, teknologi, dan kemandirian ekonomi perlu diarahkan untuk memperkuat manusia dan masyarakat.
Independensi ulama juga penting agar nasihat agama tetap memiliki daya kritis ketika berhadapan dengan kekuasaan maupun kepentingan ekonomi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌۭ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
QS. Ali ‘Imran [3]: 104
Ayat tersebut menegaskan pentingnya peran orang-orang yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dalam konteks ini, ulama perlu menjaga posisi moral dan intelektualnya agar tetap menjadi penuntun umat.
Amanah lebih utama daripada kedekatan dengan kekuasaan
Kedekatan dengan kekuasaan tidak otomatis salah. Namun, kedekatan tersebut tidak boleh menghilangkan independensi, keberanian menyampaikan kebenaran, dan keberpihakan kepada kemaslahatan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَـٰنَـٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًۭا
“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.”
QS. An-Nisa [4]: 58
Prinsip amanah dan keadilan tersebut menjadi pengingat bahwa ulama perlu menempatkan kebenaran dan kemaslahatan umat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Catatan redaksi
Tulisan “Ulama Penuntun” yang menjadi bahan pemberitaan ini beredar melalui tangkapan layar media sosial dan mencantumkan nama Yudi Latif. UBN Newsroom belum dapat memverifikasi keaslian tulisan tersebut secara independen dari kanal resmi Yudi Latif.
Informasi tanggal Muktamar dalam berita ini disesuaikan dengan materi resmi Muktamar Ke-35 NU yang mencantumkan pelaksanaan pada 27–31 Agustus 2026 / 14–18 Rabiul Awal 1448 H.
Dukungan Operasional Dakwah & Jurnalisme Peradaban
UBN Newsroom terus berupaya menghadirkan informasi, analisis strategis, dan jurnalisme peradaban yang mengangkat kehidupan umat, bangsa, kemanusiaan, serta berbagai dinamika sosial dan keagamaan.
Dukungan terhadap operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom menjadi bagian dari ikhtiar menjaga keberlanjutan kerja-kerja informasi yang menghadirkan kebenaran yang teruji dan narasi yang berakar pada wahyu.
Dukungan operasional dakwah dan jurnalisme peradaban UBN Newsroom dapat disalurkan melalui:
Ikuti UBN Newsroom untuk mendapatkan informasi dan analisis strategis mengenai umat, bangsa, kemanusiaan, kebijakan publik, dan peradaban.
BSI 7779700091
a.n. Yayasan Pusat Peradaban Islam
UBN Newsroom — Strategic Islamic Newsroom.
Kebenaran yang teruji, narasi yang berakar pada wahyu.

Comment